Agatha Retnosari Meminta Dinas Pertanian Punya Terobosan Hadapi Harga Bawang Putih

  • Whatsapp
Anggota Komisi B DPRD Jatim Fraksi PDI Perjuangan, Agatha Retnosari. (doc. ridwan. lensaindonesia.com)

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Melonjaknya harga bawang putih dalam dua pekan terakhir, menjadi perhatian serius DPRD Jatim. Karena itu, komisi yang menangani bidang perekonomian meminta Dinas Pertanian segera membuat terobosan untuk bisa menormalisasi harga bawang putih.

Anggota Komisi B DPRD Jatim Fraksi PDI Perjuangan, Agatha Retnosari mengatakan, ia mengakui jika kebutuhan bawang putih Jatim selama ini hampir 95 % dipenuhi dari impor khususnya dari negara China. Sebab produksi bawang Jatim sangat minim sehingga harus terus ditingkatkan agar ketergantungan ekspor bisa dikurangi.

Read More

“Mengutip perkataan Presiden Jokowi, terkait memanfaatkan pasar ekspor dari dampak dari wabah virus corona yang berasal dari Wuhan, China. Maka sudah saatnya para petani untuk mulai giat menanam bawang Putih.

Ini pelajaran penting buat kita bersama jika kita bergantung pada impor, maka rentan terkena naik ketika ada isu besar di luar negeri,” ucap Agatha. Seperti yang dilansir Pustakalewi.com. Kamis, (13/2/2020).

Ia berharap, Dinas Pertanian Jatim harus segera melakukan terobosan kebijakan agar lonjakan harga bawang putih bisa dikendalikan secepatnya dan hal-hal yang menghambat produksi bawang putih bisa diurai.

“Bawang putih itu bumbu dasar untuk setiap resep masakan Indonesia tapi kok kita malah impor bahkan sampai 95 persen,” imbuh Politisi PDIP ini.

Ia menyarankan Pemprov Jatim bekerjasama dengan para kampus pertanian yang sudah memiliki banyak penelitian terkait produksi bawang putih, agar bawang putih lokal tak kalah dengan impor.

Selain itu, tak kalah penting juga dari dinas perindustrian dan perdagangan untuk mulai mensosialisasikan bawang putih lokal lebih gencar agar minat petani menanam juga tinggi.

“Seperti beli bawang lokal menyelamatkan masa depan petani Indonesia, menyelamatkan anak-anak nya dan masa depan nya. Dan yang jelas jika kita membeli produk lokal, berarti menyelamatkan lingkungan hidup.

Coba hitung saja, berapa jejak karbon dari proses pengiriman jika bawang putih saja kita impor. Dan jejak karbon juga gas metan ini kan yang akhirnya membuat suhu bumi meningkat drastis. Kesadaran ini perlu, agar pasar Indonesia lebih bisa berdikari,” paparnya.

Perlu diketahui, berdasarkan data, bawang putih di Jatim yang semula seharga Rp 28.000 kini naik hingga Rp 58.000. Bahkan, di sejumlah daerah saat ini sudah menembus Rp 70 ribuan. (Mwp/Ari).

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *