Bahas Ilegal Fishing Dalam FGD, Warga Nelayan Sapeken Ajak Forpimka Menindak Tegas

SUMENEP, RadarBangsa.co.id – Focus group discussion (FGD) warga nelayan Sapeken yang diprakarsai oleh Kelompok Nelayan Oncor (KNO), mengundang hadir jajaran Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Sapeken, yang meliputi Camat,Kapolsek, Danramil. Acara FGD yang ditempatkan di Aula salah satu Kantor Partai Politik, juga dihadiri oleh Pemerintah Desa setempat, Kesyahbandaran, Ormas dan beberapa tokoh masyarakat Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep. Dalam FGD tersebut membahas beberapa hal yang terkait dengan persoalan nelayan dan laut pulau Sapeken, khususnya keberdaan kapal Pursein yang menangkap ikan disekitar perairan laut Pulau Sapeken.
Selasa (29/10/2019).

Deni Sabibi, tokoh pemuda Sapeken yang tergabung dalam Ormas Kelompok Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), kepada media ini menyampaikan bahwa FGD sengaja digelar karena didorong oleh keresahan warga nelayan tradisional setempat, sebab keberadaan kapal Pursein yang datang dari luar provinsi dan melakukan aktifitas penangkapan ikan disekitar wilayah perairan pulau Sapeken. Aktifitas kapal Pursein tersebut sangat berpengaruh terhadap hasil tangkap ikan nelayan tradiasional pulau Sapeken.

Deni mengungkapkan bahwa mereka (kapal pursein) menjarah habis ikan di wilayah laut tempat biasanya kami (nelayan tradisional) menangkap ikan. Bukan hanya pada persoalan ijin dari kapal porsen tersebut, penerangan lampu dan alat tangkap yang mereka gunakan itu, salah satu penyebab berkurangnya pendapatan kami sebagai nelayan yang menggunakan alat tangkat tradisional. Karena lampu yang sangat terang otimatis menarik ikan-ikan mendekati cahaya lampu yang terang, apalagi alat tangkap yang mereka gunakan dalam skala yang cukup besar dibandingkan dengan yang dimiliki nelayan tradisional setempat. Karena jumlah mereka cukup banyak, sehingga terkesan pulau kami (Sapeken) ini dikepung dan ikannya dijarah habis oleh mereka.

Bacaan Lainnya

“Yang lebih parah, mereka (Pursein) menjual ikan tangkapannya ke pengepul setempat dengan harga yang relatif murah, sehingga merusak harga penjualan ikan dari nelayan tradisional setempat”, ulas Deni.

Muslimin, ketua Kelompok Nelayan Oncor (KNO) Sapeken, dalam acara FGD tersebut menyampaikan agar kita nelayan Sapeken senantiasa peduli akan kebersihan laut dan pentingnya solidaritas antar nelayan untuk menjaga laut dan ikut andil dalam keamanan laut karena dampaknya terhadap penghasilan para nelayan. Jika laut kita bersih maka nelayan kita sejahtera.

Muslimin dalam keterangannya menegaskan. Kita ketahui bersama kerusakan yang terjadi dilaut baik pencemaran air laut, ekosistem laut dan ilegal fishing yang terjadi diperairan pulau Sapeken, sangat berpengaruh terhadap produktifitas nelayan.

“Laut merupakan nafas nelayan, laut adalah tulang punggung nelayan, laut tempat bersandar para nelayan, laut juga sumber mata pencaharian nelayan”, pungkasnya.

Jailani, Sekretaris Camat (Sekcam) Sapeken hadir mewakili Camat, menyatakan kesiapannya untuk mendukung kegiatan dan rencana kedepan para nelayan di kecamatan Sapeken khususnya.

“Kami dari pihak Pemerintah Kecamatan Sapeken akan selalu mendukung kegiatan para nelayan”.

IPDA Santoso, Kanit Reskrim Polsek Sapeken hadir mewakili Kapolsek, menyatakan dengan tegas, terkait dengan kapal-kapal pursein luar daerah yang masuk dan beroperasi di wilayah laut pulau Sapeken dan sekitarnya yang tidak mengantongi izin jelas, tentu akan kami tindak sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia.

“Bersama dengan Keamanan Laut Terpadu (Kamladu), dan aparatur dan ormas lainnya, kami bersama akan menindak tegas kapal-kapal pursein yang beroperasi dan tidak memiliki kelengkapan dokumen izin tangkap”.

Acara FGD dengan mengangkat tema “Laut Bersih Nelayan Sejahtera”, berlangsung dengan tertib, aman dan lancar, diakhiri dengan penandatangan bersama untuk kesepakatan dalam menyikapi persoalan – persoalan nelayan dan keamanan laut di perairan pulau Sapeken. (Ong)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.