BNPT-FKPT Jawa Timur Ajak Mahasiswa Baru Unesa Hindari Paham Intoleransi dan Radikalisme

  • Whatsapp
Kepala BNPT, Boy Rafli Amar memaparkan materi secara virtual pada PKKMB Unesa tahun 2020

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Serangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unesa yang berlangsung mulai tanggal 7-11 September 2020 diisi dengan berbagai materi menarik dan menghadirkan sederet tokoh nasional mulai Wakil Presiden, Ketua DPR, Ketua MPR, Menkopolhukam, Menko Kemaritiman dan Investasi, Menko Perekonomian, Menteri Desa, PDT dan Transmigrasi, Menteri Pemuda dan Olahraga, BNPT, BNN, Gubernur Jawa Timur, Kapolda, FKPT Jawa Timur, dan beberapa narasumber lainnya.

Menurut Ketua PIC PKKMB Unesa tahun 2020, Bambang Sigit Widodo tema PKKMB kali ini adalah “Menjadikan Mahasiswa yang Tangguh, Berkarakter, Kreatif, Inovatif, Kolaboratif dan Adaptif Untuk Unesa Satu Langkah di Depan”.

Bacaan Lainnya

“Untuk narasumber PKKMB tahun ini, sepertinya Unesa berbeda dengan kampus lain, kami menghadirkan sederet tokoh nasional yang sekaligus bisa menjadi motivasi mahasiswa baru di tengah kondisi pandemi seperti saat ini,” tegas Bambang pada rilisnya. Sabtu, (12/9/2020) pagi hari.

Salah satu materi yang menarik dalam acara PKKMB adalah menyelamatkan generasi milenial dari paham intoleransi dan radikalisme.

Kepala Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT), Boy Rafli Amar dalam video conferencenya mengatakan bahwa, gerakan radikalisme sudah masuk ke banyak lini termasuk di perguruan tinggi yang merupakan tempat kader calon pemimpin bangsa di masa depan.

“Kampus harus mampu melahirkan produk kajian akademis yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai mata air bagi lingkungan sekitar, sehingga harus dijaga agar tidak tercemar dan merusak lingkungan yang ada disekitarnya tersebut,” lugas Rafli.

Boy Rafli menambahkan, salah satu perusaknya adalah muculnya paham radikalisme dan terorisme yang merusak tatanan nilai-nilai ideologi Pancasila yang sudah dinyatakan sebagai falsafah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kelompok anti Pancasila selalu menggaungkan ideologi kekerasan, intoleransi-radikalisme, daulah Islamiyah dan sebagainya,” tandas Boy Rafli Amar.

Sementara itu, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Timur, Hesti Armiwulan menganalogikan mewaspadai intoleransi dan radikalisme, sama seperti mewaspadai Covid-19 yang menuntut kita semua untuk waspada agar terhindar dan tidak terpapar.

Hesti menegaskan bahwa, generasi milenial yang lahir di era digital harus mampu memanfaatkan dengan bijak informasi terutama yang berasal dari sosial media.

“Mahasiswa harus mampu menyesuaikan dengan kondisi yang ada, karena kampus sangat sangat rentan dengan masuknya paham intoleransi dan radikalisme,” pungkas Hesti.

Akademisi dan profesional termasuk mahasiswa dan civitas akademika menjadi sasaran dalam upaya pelemahan nilai-nilai kebangsaan melalui berbagai cara.

Survey yang dilakukan PPIM UIN Jakarta tahun 2018 menunjukkan bahwa 58,5% mahasiswa berpikiran radikal, dan 46,09% pemikiran radikal intoleran.

Alvara Reseaech Center tahun 2017 melakukan survey terhadap 4200 milenial yang terdiri dari 1800 mahasiswa dan 2400 pelajar SMA, hasilnya menunjukkan, 18,4% pelajar setuju dengan khilafah sebagai bentuk ideal sebuah negara, 17,4% mahasiswa menyatakan hal yang sama, sedangkan 23% menyatakan siap berjihad untuk itu.

Survey IDN Research Institute terhadap 1400 generasi milenial pada rentang usia 20-35 tahun sebanyak 19,5% menyatakan Indonesia lebih ideal menjadi negara khilafah.

Wahid Foundation yang melakukan survey terhadap siswa unggulan ranking 1-10 menyatakan 60% siap berperang saat ini jika ada panggilan untuk membela umat islam yang tertindas.

“Data-data tersebut menunjukkan bahwa, kita semua tidak boleh lengah dan harus mewaspadai sedini mungkin,” ungkap Boy Rafli Amar.

Guna menghindari paham intoleransi dan radikalisme di kampus, BNPT dan FKPT Jawa Timur sama-sama menegaskan pentingnya komitmen mahasiswa dan civitas akademika untuk melakukan upaya bela negara dengan menumbuhkan sikap dan kesadaran nasionalisme, cinta tanah air, toleransi, dan meningkatkan kompetensi.

“Lingkungan kampus perlu menanamkan nilai-nilai Pancasila sesuai konteks kekinian, bukan lagi doktrin tapi dialog yang setara, mengoptimalkan forum dialogis antar mahasiswa untuk menumbuhkan sikap yang relevan dengan nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan,” tutup Boy Rafli Amar.

(Ari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *