Cegah Pernikahan Dini, LPMK Muktiharjo Kidul Gelar Sosialisasi UU Perkawinan

UU PERKAWINAN : LPMK Muktiharjo Kidul gelar sosialisasi UU di kantor Desa (Dok Foto IST)

SEMARANG, RadarBangsa.co.id – Untuk mencegah dampak buruk dari pernikahan usia dini, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Muktiharjo Kidul menggelar acara Sosialisasi Undang-Undang Perkawinan, untuk mencegah peningkatan risiko stunting, perceraian, hingga masalah kesehatan seperti reproduksi di Balai RW 15 Muktiharjo Kidul. Senin (27/6/2022).

Sosialisasi Undang-Undang Perkawinan yang dibuka Lurah Eko Fitri Ariyanto S Sos MM, dihadiri oleh Perwakilan DPRD Kota Semarang H Sugi Hartono S Sos I dari fraksi Partai Demokrat, Cahyo Adhi Widodo S Ap dari fraksi partai Golkar, para Ketua Lembaga, Ketua RW, Babinsa dan para tokoh masyarakat.

Bacaan Lainnya

Diketahui sebelumnya, pemerintah hanya mengatur batas usia minimal perempuan untuk menikah yakni 16 tahun. Aturan tersebut tertuang dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Kemudian, UU tersebut direvisi dengan UU Nomor 16 Tahun 2019 yang berlaku sampai saat ini. Dalam Undang-Undang tersebut telah mencantumkan perubahan usia minimal Perkawinan dari 16 tahun bagi Laki-laki dan perempuan menjadi 19 tahun. seperti yang disampaikan oleh perwakilan DPRD Kota Semarang Sugi Hartono S Sos I

Menurut Sugi, terdapat banyak faktor yang mendasari terjadinya pernikahan usia dini, mulai dari adat, ekonomi, hingga kehamilan yang tak diinginkan.

“Pernikahan usia dini merupakan sebuah problem yang sebisa mungkin diminimalisir mengingat banyak dampak negatif yang ditumbulkan. Oleh karenanya, kita secara gencar mengkampanyekan stop pernikahan usia dini di banyak wilayah,” ujarnya.

Ketua LPMK M Muslim menyampaikan, agar para tokoh masyarakat lebih mendalami arti penting undang-undang perkawinan dan bisa tersampaikan kepada masyarakat di wilayahnya.teranngya

Hal senada juga disampaikan Kepala Kantor Urusan Agama kecamatan (KUA) Pedurungan Drs H Syamsuri MH, tentang teknis yang terdapat dalam 6 asas undang-undang perkawinan. ada empat T perkawinan yang menjadi kunci menjadi keluarga yangs akinah mawaddah dan warahmah.

Pertama, Tahabub yakni sikap saling mencintai, mengasihi dan menghargai satu sama lain, bila sikap ini ada maka segala beban yang harus di emban menjadi ringan.

Kedua, Taawun yakni sikap tolong menolong, isi mengisi dan saling melengkapi. Tidak ada manusia yang sempurna, maka suami-isteri harus menyadari hal ini serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga, Tasyawur yakni apabila suami-isteri akan berbuat sesuatu, mereka hendaknya saling terbuka dan musyawarah dengan akal sehat untuk mencari kata mufakat dan bukan memaksa kehendak sendiri. Hasil kesepakatan itulah yang seharusnya dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan bertawakal kepada Allah.

keempat, Tasamuh adalah sikap akhlak terpuji dalam pergaulan, di mana terdapat rasa saling menghargai antara sesama manusia dalam batas-batas yang digariskan oleh ajaran Islam.

Dari empat T harapan Syamsuri, supaya bisa menjadi pedoman untuk mencegah pernikan usia dini.jelasnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.