Cidaun Lokus DBD

Kepala Puskesmas rawat inap Cidaun H. Eman Sulaeman. S. Kep saat menerangkan tentang Cidaun lokus DBD. (Dok. Photo AE Nasution/RadarBangsa.co.id)

CIANJUR, RadarBangsa.co.id – Cidaun Sebagai Lokus Atau Endemis Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan fakta yang tidak dapat di elakkan”.
Kepala Puskesmas Rawat Inap Cidaun H. Eman Sulaeman. S. Kep menerangkan dan untuk disampaikan kepada warga masyarakat, hasil wawancar bersama jurnalis RadarBangsa.co.id tentang kesehatan warga masyarakat kecamatan Cidaun pasca lebaran Idul Fitri 1443 Hijriyah, dan kecamatan Cidaun memiliki objek wisata yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, mulai dari zona merah, zona oren, dan juga zona hijau selama pandemi covid-19 beberapa tahun belakangan ini.

Berlatarbelakang kekhawatiran warga masyarakat akan terjangkit virus berbagai jenis penyakit dari pengunjung wisata itu maka dilakukan penghimpunan informasi kesehatan secara langsung kepada Kapus rawat inap Cidaun di ruangan tamu sekretariat puskesmas rawat inap Cidaun, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat. Rabu (08/06/2022).

Bacaan Lainnya

H. Eman Sulaeman. S. Kep menerangkan dan membenarkan; “Cidaun, sebagai lokus atau endemis demam berdarah dengue (DBD) yang setiap tahun kasusnya muncul.

Selama ini warga masyarakat kita taunya, jika terjadi atau muncul kasus DBD itu harus dilakukan penanganan dengan “pengasapan atau poging”, dan itu sebenarnya pendapat yang salah.

Poging adalah bagian terkecil dari penanggulangan atau penjagaan dari DBD. Tetapi yang paling direkomendasikan itu sekarang bukanlah poging, karena poging itu hampir tidak efektif lagi, karena berlakunya cuma beberapa jam.

“Pengasapan (fogging) bukan strategi yang utama dalam mencegah demam berdarah dengue ( DBD). Fogging tidak dilakukan secara rutin, hanya dilakukan saat terjadi kasus di suatu wilayah, sehingga daerah di sekitarnya melakukan fogging untuk memberantas nyamuk sebagai vektor penyakit DBD.

Pencegahannya itu bukan melalui fogging, tetapi bagaimana kita menjaga kebersihan dan menghilangkan jentik nyamuk. Fogging ini kan memakai insektisida, sehingga kita khawatir ada resistensi. Ujar Kapus

Selanjutnya kapus menjelaskan kembali; “disemprot sekarang, sore nyamuk datang lagi. Yang dilakukan adalah pencegahan munculnya nyamuk baru dengan memutus mata rantai melalui 3M, 3M Plus.

“3M merupakan singkatan dari Menguras, Menutup dan Mengubur. Gerakan 3M merupakan cara ampuh untuk menekan angka penyebaran penyakit DBD (Demam Berdarah Dengue).

1. Menguras
Hal ini dilakukan dengan membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain.

2. Menutup
Langkah ini dilakukan dengan menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sejenisnya.

3. Mengubur
Mengubur atau memanfaatkan kembali barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Sedangkan 3M Plus.
Kapus juga menghimbau kepada warga masyarakat sekecamatan Cidaun agar menerapkan gerakan 3M Plus untuk mengantisipasi penyebaran DBD yakni dengan cara; Pertama, Menguras tempat penampungan air. Kedua, Menutup tempat penampungan air. Ketiga, Mengubur barang bekas, serta menebar bubuk abate.

Plus Pertama, Hindari gigitan nyamuk. Kedua, Tidur menggunakan kelambu. Ketiga, Menyalakan anti nyamuk.

“Warga masyarakat tidak perlu panik dan juga jangan berprasangka bahwa penanggulangan cuma dengan fogging saja. Fogging boleh dilakukan tapi tidak efektif jika tidak dibarengi dengan 3M atau 3M Plus, karena kampung-kampung kita banyak sungai-sungai, pasti nyamuk tidak akan hilang dari Cidaun.

Lokusnya diperkirakan diseputaran pantai. Jadi selama ini kasus DBD ditemukan mulai dari desa Karangwangi, desa Cidamar, desa Kertajadi, desa Jayapura, desa Cisalak, dan desa Sukapura, atau desa yang dipinggir laut, sedangkan arah kegunung tidak.

Kasus DBD itu setiap tahun tetap ada, sebagian dapat ditanggulangi di puskesmas rawat inap Cidaun, dan sebagiannya ada yang dirujuk ke rumah sakit (RS). Antisipasi utama adalah kebersihan lingkungan serta 3M dan 3M Plus. Bukan semprot, atau bukan fogging. Jelas Kapus sambil menutup dialog itu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.