Diaspora Kangean Sumenep Kecolongan, Penamaan RSUD A Buya Kangean Melanggar Permenkes RI

  • Whatsapp
Bupati Sumenep Dr. KH. A. Busyro Karim, M.Si, saat Menandatangi Prasasti dan Peresmian RSUD A Buya Kangean, Kabupaten Sumenep Jawa Timur

SUMENEP, RadarBangsa.co.id – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) A Buya Kangean yang telah diresmikan pada hari Rabu tanggal 16 September 2020, menjadi sorotan dan perbincangan masyarakat Kepulauan Kangean khususnya dikalangan komunitas Kangean Diaspora Network (KDN).

Hal itu disebabkan karena penamaan Rumah Sakit Umum Daerah kelas-D yang ada di Kepulauan Kangean tersebut menyematkan nama ‘A Buya’ yang diketahui oleh masyarakat adalah nama dari KH. A Busyro Karim yang saat ini masih hidup dan aktif menjabat Bupati Sumenep. Senin (21/09/2020).

Bacaan Lainnya

Ainurrahim, warga Kepulauan Kangean yang tergabung dalam komunitas KDN mengatakan bahwa menjelang akhir masa jabatannya, Bupati Sumenep KH A Busyro Karim membuat keputusan yang penuh dengan suguhan politis. Karena, penamaan rumah sakit di Kepulauan Kangean menggunakan namanya.

“Rumah sakit sejatinya merupakan instrumen terakhir pelayanan kesehatan, keberadaannya untuk memastikan segenap warga negara dalam keadaan sehat lahir dan batin, tidak elok jika dijadikan alat untuk mengapresiasi pemimpin yang tidak berdedikasi besar terhadap masyarakat yang dipimpin,” ujar Ainurrahim akademisi yang saat ini berdomisili di Jogjakarta.

Ponirin, anggota IDN menyampaikan pandangannya bahwa kita (red, warga kangean) kecolongan, semestinya jauh-jauh sebelumnya ditolak sebelum diresmikan.

“Salahnya kita kenapa kok gak sebelum diresmikan ditolak. Mestinya jauh-jauh sebelumnya ada pemikiran soal ini, apalagi 4 tahun penggarapannya. Ini sebuah kecolongan bagi kita,” ungkapnya dalam komentar di WA Group KDN.

Disaat yang sama, hal lain diungkapkan oleh Masduki bahwa pada awal pembangunan rumah sakit tersebut adalah RSUD Arjasa dan bukan RSUD A Buya Kangean.

“Dinomenklatur anggaran itu jelas namanya RSUD Arjasa,” tukasnya.

Lebih lajut Masduki menegaskan, Jika merujuk pada Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 3 tahun 2020 tentang Klarifikasi dan Perizinan Rumah Sakit, tertera dalam pasal 54 ayat 1 bahwa, Pemberian nama Rumah Sakit harus memperhatikan nilai dan norma agama, sosial budaya dan etika. Dan ditegaskan dalam pasal 4b bahwa dilarang menggunakan nama orang yang masih hidup.

“Jadi jela kalau Undang-undang melarang Rumah Sakit yang dibangun mengunakan uang negara mengunakan nama orang yang masih hidup,” tegas Masduki.

Mutaem, ketua KDN yang berdomisili di Banjarmasin Kalimantan Selatan, menyampaikan pandangannya terkait penamaan RSUD A Buya Kangean, bahwa pendirian Rumah Sakit di Kangean adalah upaya penyembuhan, sedangkan upaya pencegahan selama ini tidak disentuh oleh Bupati yang secara sepihak diabadikan namanya menjadi Rumah Sakit tersebut.

“Pendirian Rumah Sakit di Kangean adalah panggilan tugas dan kewajiban, bukan prestasi yang harus diapresiasi dalam bentuk apapun termasuk mengabadikan nama Bupati menjelang akhir masa jabatannya di Rumah Sakit tersebut,” jelasnya.

Selanjutnya Mutaem menilai, penamaan RSUD A Buya Kangean tersebut merupakan kegenitan penguasa diakhir periodenya dengan tujuan agar selalu dikenang sebagai hasil kerjanya.

Apresiasi tidak haram untuk diberikan, akan tetapi harus terhadap seseorang yang tepat dan patut. Parameternya adalah dedikasi selama memimpin daerahnya. Jika dedikasinya tinggi dibidang kesehatan, maka apresiasinya dalam bentuk penyematan namanya pada layanan kesehatan (red, Rumah Sakit) ada hubungan kolerasional antara dedikasi dan apresiasi.

“Ini harus ditolak untuk mencegah sejak dini kegenitan berikutnya oleh penguasa selanjutnya. Nama itu tidak rasional, harus dihapus dan menggantinya menjadi ‘Rumah Sakit Umum Daerah Kangean’ agar tidak menyuguhkan sekat – sekat politis dan secara filosofis lebih bisa mejaga kohesi sosial masyarakat,” tuturnya.

Lebih lanjut menurut Mutaem, karakteristik penghargaan jelas adanya, jika anda ilmuwan yang menyumbang pada peradaban dunia, maka hadiahnya adalah ‘Nobel’. Dan jika anda pemain film terbaik, maka hadiahnya adalah ‘Oscar’.

Dan jika anda pejuang bangsa, maka dikuburkan ditaman makam pahlawan, jasanya terpatri oleh sejarah, serta Negara memberi pengakuan dengan gelar pahlawan.

“Jika anda seorang Kyai, atau guru ngaji,maka jasanya akan ada dihati para santri atau muridnya, bukan ditembok atau prasasti, tapi dihati dan jiwa manusia,” pungkasnya.

(ONG)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *