Diduga Pembunuhan Karakter Anak, Orang Tua Murid SMPN di Lamongan Protes: Lembaga Ini Patut di Evaluasi

Tampak depan Gedung SMP Negeri 1 Turi Lamongan Jawa Timur. Senin (12/07/2021)

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Beberapa orang tua murid SMP Negeri 1 Turi melontarkan nada protes saat beberapa wartawan menemuinya. Sebab, anaknya tidak dinaikan kelas bahkan di DO (drop out) dari sekolah tanpa alasan yang jelas dan sebelumnya anak di DO (drop out) karena alasan punya keterbatasan pelajaran.

Akibatnya, kedua orang tua wali murid dari siswa tersebut angkat bicara pertanyakan penyebab anaknya tak dinaikan kelas bahkan sampai di DO (drop out), orang tua murid sebelumnya anaknya juga di DO (drop out) dari SMPN 1 Turi. Senin (12/07/2021).

Bacaan Lainnya

Sementara, “Orang tua murid, Sugiono kepada wartawan mengatakan, “Apa penyebab sehingga anak kami tidak naik kelas bahkan sampai dikeluarkan.

Sebab, selain memiliki nilai baik, anak kami juga memiliki kepribadian yang baik. Cuma semenjak ditinggal Ibunya meninggal dunia ia agak sedikit berubah mungkin kerena kehilangan,” akunya.

Sugiono membenarkan, sebelumnya tiga kali dapat surat panggilan dan kooperatif selalu hadir memenuhi panggilan, dari guru BK (bimbingan konseling) SMP Negeri 1 Turi, Ibu guru perempuan waktu itu.

Saat panggilan, guru BK menyampaikan, “Anaknya jangan dimarahi, perlu kasih sayang”, itu yang selalu disampaikan pada ketiga panggilan tersebut,” ujar Sugiono menirukan penyampain guru BK.

Disaat pengambilan rapot kenaikan kelas waktu itu undangan jam 08.00 WIB pagi kami hadir, oleh guru kelas disampaikan kami disuruh menununggu.

Setelah orang tua wali murid yang lain sudah pulang dan kami menunggu sampai pukul 09.30 WIB baru rapot anak saya dikasihkan begitu saja tanpa ada kata – kata penyampaian apapun dari pihak guru, kemudian saya pulang.

“Ini saya anggap tidakan kurang bijaksana, bagaimana peran tugas pokok dan fungsi guru BK selama ini, apa pasiv ini patut dipertanyakan. Oleh karena itu dirinya pun meminta kepada pihak sekolah untuk mengkaji ulang atas keputusan yang telah diambil oleh pihak sekolah.

Termasuk meminta pihak pemerintah dalam hal ini Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan ataupun Kepala Dinas Provinsi Jawa Timur untuk turun tangan dalam mengambil langkah serta harus mengevaluasi kinerja Kepala Sekolah dalam persoalan ini.

Kami selaku orang tua wali murid berharap anak saya Maulana Bagus Darmawan kelas VIII dinaikan ke kelas IX dan bisa bersekolah lagi di SMP Negeri 1 Turi. Kalaupun tetap tidak bisa, maka dikeluarkan tidak apa – apa, asalkan dinaikan kelas,” pinta Sugiono dengan nada sesal.

“Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik”

Hal senada juga diungkapkan oleh Arinendro, salah satu orang tua murid yang anaknya di drop out / dikeluarkan dari SMPN 1 Turi pada tahun pelajaran 2018 – 2019 karena alasan inklusi (anak berkebutuhan khusus).

Arinendro menceritakan, tahun 2018 anak saya mau lulus dari SDN Sukorejo dan mau melanjutkan ke SMPN 1 Turi yang berjarak dari rumah kurang lebih 100 Meter.

Waktu Ibu saya (neneknya) masih hidup anak ikut neneknya, saya bersama istri bekerja di Surabaya. Anak mendaftar ke SMPN 1 Turi dan neneknya juga titip pada sekolah, khawatir tidak diterima dan Alhamdulillah diterima murni berdasarkan nilai Danem yang dimiliki anak saya.

Pada Kelas VII anak mengikuti proses belajar mengajar seperti teman sekelasnya. Namun baru enam bulan saya dipanggil oleh guru BK (bimbingan konseling) yang dulu istilahnya guru BP, katanya anak tidak bisa mengikuti pelajaran dan dikeluarkan.

Kenapa anak saya dikeluarkan, lalu solusinya bagaimana, tolong kasih surat pengeluarannya, lalu solusinya bagaimana, pihak sekolah tidak kasih jawaban.

Saya sadar anak saya punya kekurangan masalah pelajaran, kata Arinendro. Lalu berusaha mencari sekolah inklusi di medsos, yang ada sekolah inklusi itu di SMPN 2 Lamongan. Akhirnya saya ke SMPN 2 dan ditemui oleh Kepala Sekolah.

Kepala sekolah SMPN 2 menyampaikan dan diarahkan program sekolah inklusi di SMPN 1 Turi itu ada, tidak ada Bu, ada,” kata Arinendro menirukan kepala sekolah SMPN 2 Lamongan.

Lalu saya kembali ke SMPN 1 Turi, kembali menanyakan program inklusi di SMPN 1 Turi, dijawab oleh guru BK tidak ada pak Inklusi. Padahal sebelumnya, Kepala Sekolah SMPN 2 Lamongan bilang ada. Apakah Kepala Sekolah SMPN 2 bohong dengan saya.

Kami pun juga ditemui Kepala Sekolah SMPN 1 Turi, dan kembali saya bertanya, kalau memang anak dikeluarkan surat pengeluarannya mana, nanti akan kami pindahkan, tapi tidak dikasih.

” Kalau pihak sekolah masih bersikeras seperti itu, dengan terpaksa keadaan anak saya seperti itu kami menerima, walau didalam hati menolaknya,” ujar Arinendro.

Dalam persoalan ini bisa diindikasikan sebagai pembunuhan karakter terhadap anak sebagai korban dunia pendidikan di Kabupaten Lamongan, “Hal ini biarlah cukup terjadi pada anak saya sajalah yang diperlakukan seperti ini.

Apa yang dilakukan oleh oknum dunia pendidikan khususnya di SMPN 1 Turi, saya ada rasa penyesalan. Karena guru tidak mencerminkan sebagai seorang pendidik, guru bukan hakim. Guru punya kewajiban untuk mendidik anak bukan melakukan pembunuhan karakter kepada anak.

Sedikit mengupas riwayat sebelum berdirinya gedung SMPN 1 Turi. Dulu ada statemen mengatakan bahwasannya “kalau nanti SMPN Turi berdiri anak – anak warga Sukorejo Patihan bersekolah di SMPN 1 Turi ada kopensasi khusus walau Danemnya kurang atau apa tetap bisa masuk”.

“Cerita orang tua dulu memang begitu, waktu di balai desa disampaikan saat pembebasan tanah warga. Mestinya kalaupun ganti Kepala Sekolah harusnya mengikuti jejak Kepala Sekolah sebelumnya. Tetapi saat ini pihak Lembaga SMPN 1 Turi mengingkari janjinya,” kata Arinendro.

Saat ditanya apa dengan keadaan ini menerima, Arinendro angkat bicara, “Kalau masalah menerima dan tidak menerima yang jelas saya tidak menerima. Karena sepihak belum ada penyelesaian yang segnifikan, bagaimana harusnya anak itu.

Dengan harapan selaku orang tua, kata Arinendro. Patut disesalkan kejadian ini dan jangan sampai terulang kembali. Kebijakan yang diambil oleh pihak lembaga pendidikan SMPN 1 Turi sangat merugikan rakyat/masyarakat. Dalam hal ini kinerja Kepala Sekolah patut dievaluasi dan patut dipertanyakan untuk dipertanggung Jawabkan.

Perlu diketahui anak semata wayang Arinendro, panggil saja Bunga, anak tersebut sampai saat ini tidak bersekolah formal layaknya anak sebayanya,” pungkasnya.

Kepala Sekolah SMPN 1 Turi Drs. Idris, S.Pd. M.Pd saat dikonfirmasi terkait hal ini menerangkan, “Mohon maaf, kesatu, 1 (satu) anak yang tidak naik ini sebenarnya dari segi nilai sangat kurang dan sangat tidak memperhatikan tugas – tugas gurunya.

Kedua, 1 (satu) ini perilakunya sangat buruk, karena sebagai pimpinan pemalakan terhadap teman – temannya dan sdh banyak temannya yang jadi korban, orang tuanya sudah beberapa kali diberitahu dan diajak kerja sama untuk membimbing,” terang Kepala Sekolah Idris.

Tetapi tetap tidak ada perubahan dan bahkan untuk memberi bimbingan kepada anak ini bersama teman anggota kelompok yang nakal sebagai anak buahnya, sampai meminta pihak Polsek turut membina terhadap anak – anak ini.

Tapi 1 (satu) anak ini tetap tidak ada perubahan bahkan pemalakan mereda, tapi malah melakukan pengeroyokan terhadap teman- temannya, sehingga menurut catatan BK anak ini sudah melampaui batas aturan,” ujarnya.

“Untuk anak yang bernama Maulana Bagus Darmawan, bukan dikeluarkan tapi tidak naik kelas atas kesepakatan Guru BK dan Guru yang mengajarnya, kalau Maulana Bagus Darmawan masih sekolah di SMPN 1 Turi, masih boleh tapi dalam kondisi tidak naik kelas.

Selain itu, Kepala Sekolah SMPN 1 Turi menambahkan, “Sedangkan putra Ariendro juga tidak naik, bukan dikeluarkan, kenapa tidak naik, bukan karena nakal. Tapi harus sekolah di Inklusi bukan di SMPN 1 Turi (menurut hasil tes IQ).

Karena sampai 1 (satu) tahun tidak bisa membaca dan menulis, abjad saja tidak hafal, padahal setiap hari Sabtu diberi belajar khusus Guru BK, tapi tetap tidak bisa membaca sama sekali.

Menurut Kepala Sekolah Idris, “Justru saya kasihan, agar anak seperti ini sekolah yang tepat, yaitu sekolah inklusi.

Dan mohon maaf, kebijakan yang sifatnya menyangkut orang tua siswa seperti di atas selalu dan sudah sepengetahuan pengurus Komite terutama pak Sulistiono Sekretaris Komite yang selalu mewakili Ketua apabila sakit.

” Pada saat itu pak Ariendro  tetap ingin menyekolahkan anaknya di SMPN 1 Turi, saya pihak sekolah wajib menerima karena NUN (Nilai Ujian Nasional) nya memang bagus memenuhi syarat.

Tapi teman – teman penerima siswa baru / PPDB sudah khawatir karena dites intern baca tulis, tidak bisa baca sama sekali. Ya tidak apa – apa, tunggu 1 semester s/d 1 tahun, ternyata betul tidak bisa baca sama sekali.

Lah begini ini ya tidak mungkin naik kelas, dan saat berlangsung 1 semester pihak sekolah sudah menyarankan supaya dites psikologi IQ, ternyata betul.

Dihimbau sekolah ke Inklusi, tapi orang tuannya masih tetap ingin sekolah di SMPN Turi karena putrinya tetap diusahakan les prifat khusus baca tulis, tapi tetap tidak bisa baca tulis, menghafal abjad saja 50 % tidak hafal,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. R. Chusnu Yuli Setyo Kepala Bidang (Kabid) SMP Dinas Pendidikan Lamongan saat dimintai keterangan terkait hal ini menjelaskan, “Saya konfirmasi dulu ke kepala sekolahnya. Terima kasih informasinya, Mas,” ujar Chusnu Yuli.

Kabid SMP Chusnu Yuli karena munGkin banyak kegiatan jadi belum bisa memberikan tanggapan secara rinci. Ia mengatakan, iya, Ini mas Workshop Kurikulum,” terangnya singkat.

(fUL/Hrn/fIR)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *