Dosen PPKn UNESA Mengabdi : Menciptakan kehidupan yang Berkeadilan melalui Pendidikan Gender di Blitar

  • Whatsapp

BLITAR, RadarBangsa.co.id – Diskriminasi gender merupakan problematika yang kerap terjadi hampir di seluruh lapisan masyarakat, bahkan juga di berbagai belahan dunia.

Sampai saat ini, masyarakat masih membedakan peran dan posisi sosial antara laki-laki dan perempuan, hal tersebut berpengaruh pada bentuk dan pola pendidikan persekolahan.

Bacaan Lainnya

Secara praktis, ruang gerak perempuan dalam menempuh pendidikan masih sering dibatasi. Makin tinggi tingkat pendidikan itu, makin terbatas kesempatan perempuan. Ruang gerak perempuan juga dibatasi dan dilemahkan karena anggapan perempuan tidak butuh sekolah.

Ini sangat berbanding terbalik dengan kesempatan dan ruang gerak laki-laki.
Intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual yang oleh Mas Menteri disebut sebagai dosa besar dunia pendidikan pun lebih sering dialami perempuan.

Kadangkala perempuan di lingkungan sekolah direndahkan baik melalui perbuatan atau ucapan. Lebih memprihatinkan lagi, sadar atau tidak hal tersebut mungkin dilakukan oleh guru yang semestinya berlabel teladan bagi siswa.

Sangat jauh dari esensi pendidikan yaitu untuk memperjuangkan nilai kemanusiaan dan keadilan.Isu tersebut tidak sesuai dengan kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah tentang pedoman pelaksanaan pengarusutamaan gender bidang pendidikan yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 84 Tahun 2008 yang memerintahkan setiap satuan pendidikan yaitu sekolah-sekolah untuk melaksanakan pengarusutamaan gender. Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, termasuk sejak rencana penganggaran sudah sepatutnya sensitif gender.

Mulai dari memperlakukan siapa saja baik itu laki-laki maupun perempuan dengan sama, tanpa merugikan salah satu, semuanya mesti dirancang dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada prinsipnya pengarusutamaan gender dalam bidang pendidikan menyasar seluruh warga sekolah, iklim sekolah, kurikulum sekolah, hingga praktik pembelajaran di sekolah.

Realitanya, pendidikan belum ramah gender. Kecakapan gender guru untuk menciptakan kehidupan yang berkeadilan masih perlu dikuatkan. Merujuk pada problematika tersebut, Tim Dosen PPKn Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Surabaya, yang terdiri atas: Dr. Oksiana Jatiningsih, M.Si., Maya Mustika Kartika Sari, S.Sos., M.I.P., Listyaningsih, S.Pd., M.Pd., Rahmanu Wijaya, S.H., M.H., serta dibantu oleh mahasiswa PPKn UNESA yaitu Nur Siami Fitriawati mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan sasaran Bapak/Ibu Guru yang tergabung dalam MGMP PPKn SMA dan SMK di Kabupaten/Kota Blitar.

Kegiatan tersebut menjadi harapan baru dan salah satu langkah akademis yang ditempuh untuk meminimalisir angka kekerasan berbasis gender di sekolah.

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 8 Oktober hingga 6 November 2021 dilaksanakan dengan blended model atau gabungan dari luring dan daring.

Dengan mengangkat tema “Penguatan Kompetensi Guru PPKn dalam Mengembangkan Pembelajaran Berperspektif Gender di MGMP PPKn Kabupaten/ Kota Blitar” susunan acara dikemas secara ringkas dalam sharing materi, dilanjutkan latihan mandiri untuk menyusun perangkat ajar berperspektif gender, dan presentasi serta diskusi dalam kegiatan workshop pengembangan perangkat pembelajaran yang berperspektif gender.

Tema yang diangkat sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari di sekolah sehingga tidak menyurutkan semangat Bapak/Ibu Guru yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *