Gunung Pegat di Lamongan Menyimpan Sejarah Mitos yang Dipercayai Warga

  • Whatsapp
Gunung Pegat yang terletak di Desa KarangKembang kecamatan Babat [IST]

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Gunung Pegat, mendengar namanya sudah tentu sebisa mungkin akan dihindari oleh banyak pasangan suami istri. Gunung yang berada di kawasan Karangkembang Babat tersebut ternyata banyak menyimpan cerita unik.

Selain dikenal dengan keindahannya dan juga berhasil menyita banyak perhatian dari masyarakat. Gunung ini juga dikenal memiliki sebagian besar mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat hingga saat ini.

Bacaan Lainnya

Berikut penuturan dari salah satu tokoh masyarakat Makin (55) warga sekitar lokasi Gunung Pegat, setiap iring-iringan pengantin yang melewati kawasan gunung pegat sejauh ini harus melepaskan sepasang ayam.

” Sampai sekarang banyak masyarakat yang percaya akan mitos tersebut, namun itu tergantung dari sugesti masing-masing pasangan. Entah itu pasangan dari luar daerah atau orang Lamongan itu sendiri,” ujar Makin.

Dia mengungkapkan, sebagian iring-iringan pasangan pengantin bahkan ada yang rela melewati jalan alternatif lainnya agar tidak melalui kawasan Gunung Pegat. Dengan cara memutar lewat jalan Bojonegoro dan Lamongan kota.

” Memang cukup jauh, namun itu sebagai antisipasi agar tidak sampai melalui jalan tersebut, banyak yang melakukan hal demikian agar pasangan pengantin bisa terhindar serta dijauhkan dari perceraian,” ungkapnya.

Sementara itu, Pengamat dan Pemerhati Budaya Lamongan Supriyo mengatakan, sepengetahuannya di sekitaran kawasan Gunung Pegat memang memiliki potensi budaya kepurbakalaan yang cukup tua.

” Disekitar Desa Pucakwangi ditemukan prasasti batu yang diduga berasal dari masa Jenggala (anak Airlangga) juga jejak perkampungan kuno disekitar sendang,” tutur Cak Priyo panggilan akrabnya, Selasa (16/03)

Menurut Cak Priyo, bahkan di Desa Kradenan Rejo juga banyak ditemukan Peninggalan Nekara ( Peninggalan Seni Budaya) yang berasal dari masa Prasejarah pada Zaman Perunggu.

” Mengenai dengan adanya mitos iring-iringan pasangan pengantin yang melewati kawasan Gunung Pegat harus melepas ayam, saya juga mengetahui budaya tersebut,” ucapnya.

Dia menjelaskan, sepertinya mitos yang dipercaya oleh banyak masyarakat hingga kini tersebut berasal dari peristiwa yang sangat jauh di era Jenggala dan Panjalu (Kediri).

” Dua kerajaan hasil pembelahan kerajaan Kahuripan atau Medang masa Erlangga.
Dua kerajaan tersebut selalu berkonflik. Mitos itu sepertinya berhubungan dengan kisah kuno mengenai konflik tersebut,” tandasnya.

(Ar/Edi/Iful)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *