Gus Zakky : ‘ Warga Lamongan Mestinya Harus Mengetahui Sejarah Lamongan’

  • Whatsapp
Kyai. M. Muzakkin (Gus Zakky Al-Sekanory)

Oleh : Kyai. M. Muzakkin (Gus Zakky Al-Sekanory) Ketua Umum JCW (Jatim Corruption Watch)Provinsi Jawa Timur, Ketua pusat BPAN-RI ( Badan Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia ) dan pengasuh pondok pesantren khusus Rehabilitasi sakit jiwa dan narkoba “Asma’Berojomusti” Lamongan

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Presiden RI pertama Ir. Soekarno pernah mengingatkan kepada warga bangsa dengan istilah yang sederhana yaitu JASMERAH artinya jangan sekali kali meninggalkan sejarah,kalimat ini singkat tapi mengandung makna yang luar biasa,dan patut untuk kita renungkan bersama dalam rangka meningkatkan wawasan berpikir demi terwujudnya masyarakat yang adil makmur dan sentosa,dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,

Read More

Perlu kita ketahui bersama,bahwa hari ini, Selasa, 26 Mei 2020 adalah Hari Jadi Lamongan (HJL). Yakni, 26 Mei 1569 – 20 Mei 2020.
Tidak sedikit dari warganya yang ingat hari jadi Lamongan itu sendiri,apalagi saat ini banyak warga yang sedang galau, diliputi dengan rasa cemas,setres,akibat dari wabah pandemi corona yang tak kunjung selesai ini, walaupun demikian kita berharap semoga semua warga lamongan diberi ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi corona ini.

Hari jadi Lamongan itu bukan identik dengan kemeriahan hiburan di alun-alun dengan kembang apinya seperti dulu, tapi hari ini yang terpenting adalah do’a bersama oleh semua warganya walaupun hanya dari rumah akan keselamatan lamongan itu sendiri.

Usia kabupaten Lamongan hari ini sudah ke 451, bagi generasi milenial juga harus mengetahui sejarah Lamongan itu sendiri, dalam rangka untuk mebambah wawasan kebangsaan dan wujud cinta terhadap tanah air tercinta, Meminjam dalam bahasa cangkruk’anya warung kopi anak musa, “masak orang lamongan kok gak ngerti sejarahe Lamongan rek”.

HJL ke 451, itu artinya titik mula ditetapkannya, hari lahir Lamongan pada 1569 M.

Mengapa pada tahun itu? Nah, pada tahun 1568, pasca kematian Sultan Trenggono, negeri di Jawa timur banyak yang melepaskan diri dari Kasultanan Pajang, termasuk sebagian wilayah Jawa tengah.

Pada tahun itu pula, Raja Kerajaan Pajang, Sultan Hadiwijaya dan para adipati Jatim dipertemukan di Giri Kedaton oleh Sunan Prapen
Dalam kesempatan itu, para adipati tetap sepakat mengakui kedaulatan Pajang di atas negeri-negeri Jatim. Sebagai tanda ikatan politik, Panji Wiryakrama dari Surabaya (pemimpin persekutuan adipati Jatim) dinikahkan dengan putri Hadiwijaya.

Negeri yang dinilai kuat lainnya, Madura juga berhasil ditundukkan Pajang. Pemimpinnya Raden Pratanu alias Panbahan Lemah Duwur juga diambil sebagai menantu Hadiwijaya.

Majelis ulama walisongo, di kerajaan Demak memiliki peran penting, bahkan ikut menentukan arah kebijakan politik di Demak, karena merasa berkontribusi mendirikan kerajaan Demak.

Nah, tetapi sepeninggal Sultan Trenggana, posisi dan peran walisongo juga ikut lemah. Apalagi, Sunan Kudus bahkan dituduh terlibat pembunuhan terhadap Sunan Prawoto raja baru pengganti Trenggana.

Akan tetapi, meski tidak lagi bersidang secara aktif, sedikit banyak para wali secara individual, masih ikut berperan dalam pengambilan kebijakan politik Pajang. Misalnya, Sunan Prapen, bertindak sebagai pelantik Hadiwijaya sebagai raja. Termasuk yang melantik Ranggahadi, Tumenggung Surajaya sebagai Adipati Lamongan.

Bahkan, Sunan Prapen juga mediator pertemuan Hadiwijaya dengan para adipati Jatim tahun 1568.

Sementara itu, Sunan Kalijaga juga pernah membantu Ki Ageng Pemanahan meminta haknya pada Hadiwijaya atas tanah Mataram sebagai hadiah sayembara membunuh Arya Penangsang.

Rentetan peristiwa itulah yang kemudian berimbas pada muncul ide cemerlang urgens peningkatan status Lamongan, dari Kranggan Lamongan (kampung) menjadi Kadipaten atau kabupetan dengan cakupan wilayah lebih luas.

Dengan demikian jelas bahwa perkembangan Lamongan sampai akhirnya menjadi wilayah kabupaten Lamongan, berlangsung pada jaman keislaman Kasultanan Pajang.

Perubahan status dari Kranggan Lamongan, sebutan untuk kampung Kranggan (Kampung Ronggo), menjadi lebih luas lagi, kabupaten atau kadipaten Lamongan, ternyata tidak dilakukan oleh Kasultanan Pajang tapi Kanjeng Sunan Giri IV, predikat lain, bergelar Sunan Prapen, yang sekaligus yang menobatkan Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama.

Dalam banyak literatur disebutkan saat itu, di. Kasultanan Pajang sedang ada persoalan. Pasca kematian Sultan Trenggono.

Kegaduhan pun timbul dan membuat suasana pemerintahan agak terganggu, Kegaduhan ini sampai membuat jalannya roda pemerintahan di Kasultanan Pajang sedikit goyah. Apalagi, dengan munculnya ancaman dan ulah para pedagang asing dari Eropa, Portugis yang ingin menguasai Nusantara.

Karena itu, Kanjeng Sunan Giri merasa semakin prihatin sehingga ada semacam kebutuhan untuk meningkatkan status Lamongan, dari status Kranggan menjadi Kadipaten urgen untuk segera diselenggarakan, maka diangkat lah Ranggahadi, Tumenggung Surajaya secara resmi menjadi Adipati Lamongan.

Pelantikan dilakukan bertepatan dengan hari pasamuan agung yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik, yang dihadiri oleh para pembesar yang sudah beragama Islam dan para Sentana Agung. Pelaksanaan Pasamuan Agung tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Besar Islam yaitu Idhul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.

Berdasarkan adat yang berlaku pada saat itu, penetapan wisuda Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama dilakukan dalam pasamuan agung Garebeg Besar pada tanggal 10 Dzulhijjah Tahun 976 Hijriyah.

Dalam perkembanganya Lamongan akhirnya menjadi wilayah pusat perdagangan dan ladang dakwa khususnya daerah pantura dengan dipromotori oleh para waliyullah seperti Sunan drajat, Sunan Sendangduwur, dan ratusan wali lainya yang misteri.

(Diambil dari berbagai sumber).

“Mohon maaf lahir dan bathin”

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *