Hak Jawab dari Saudari Kurratul Aini

  • Whatsapp
Surat Klarifikasi dan Hak Jawab

PAMEKASAN.RadarBangsa.co.id – Berdasarkan surat kuasa khusus yang telah di buat dan di tanda tangani oleh klien kami pada tanggal 23 Juli 2020, kami Yonky Nata,S.H.I Pengcara/Advokat dalam Yolies Yonki Nata And Partner Law Firm dan tergabung dalam Asosiasi Pengacara Syariah Indonesia bertindak atas nama kuasa dengan identitas sebagai berikut :
Nama : Kurratul Aini Binti Abd Majid
Umur : 36 Tahun
Pekerjaan : Perawat
Alamat : Dusun dalubang desa toket proppo kab.pameksan
Adalah klien kami yang telah di beritakan oleh pihak Radarbangsa.co.id dengan link berita oline :https;//radarbangsa.co.id/oknum-perawat-puskesmas-panaguan-proppo-pameksan-langgar-etika-profesi/ tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu kepada klien kami dan merupakan pemberitaan sepihak tanpa adanya keberimbangan data.

Sehubungan dengan pemberitaan di media radar bangsa.co.id tentang polemik di ruang publik, antara kepala puskesmas panaguan (Nurul Inayah) dengan staf (Aini), hal ini menunjukkan kualitas kepemimpinan yang jelek, masalah yang seharusnya bisa diselesaikan di internal institusi dengan prosedur kepegawaian jika bawahan mempunyai kesalahan seharusnya
1. Ditegur secara lisan selama 3 kali
2. Teguran secara tertulis 3 kali
3. Dikenakan sanksi atau diserahkan ke dinas kesehatan untuk mendapatkan pembinaan

Read More

Tidak lantas di-blow up dipublikasi di ruang publik yang mencitrakan ketidak mampuan seorang pemimpin dimana tugas pemimpin bisa mengatasi masalah kecil ataupun besar, mengayomi anak buahnya membina, mengarahkan bukan menjatuhkan atau menjelekkan di ruang public, itu seperti halnya membuang kotoran ke mukanya sendiri.

Sebagai pejabat publik, kepala puskesmas yang baru dilantik seharusnya menorehkan prestasi bukan persekusi dengan mem-blow up permasalahan dengan bawahannya di ruang publik, ini menjadi preseden buruk dalam stabilitas dan kondisifitas di masa pandemi.

Seharusnya fokus dari puskesmas adalah menekan penyebaran virus covid-19 dalam masa pandemi sesuai anjuran bapak bupati, ini malah mengurusi hal remeh temeh yang mudah diselesaikna dalam internal, hal ini merusak nama baik keluarga besar puskesmas, baik saya secara pribadi maupun lembaga secara umum.

Hal ini menunjukkan kepala puskesmas sebagai pejabat publik tidak kredibel dan memiliki kapabilitas yang rendah, dalam hal mengatasi masalah kecil saja tidak mampu apalagi masalah besar. Sebagai pejabat publik harusnya menjaga kondisifitas, karena ini bukan masalah artis dimana masalah mereka menjadi konsumsi publik supaya dapat menaikkan rating suatu media pemberitaan, tapi adalah pejabat publik yang menjadi panutan masyarakat, bukan malah membuat kegaduhan institusi puskesmas pada khususnya dan pemkab pada umumnya.

Terkait dengan pelanggaran etika (menurut media Radar bangsa. Co.id) yang dilakukan oleh saya (Kurratul Aini), dimana saya update status di story whatsapp (media sosial) dengan kata-kata yang tidak berkenan di hati kepala puskesmas (Nurul Inayah) dan kawan-kawannya, saya tegaskan bahwa Story What Shap saya tidak menunjuk nama atau salah satu instansi apapun, akan tetapi saya hanya meluapkan kekesalan saya karena saya merasa di dzalimi oleh oleh perlakuan pihak puskesmas, saya tidak tunjuk hidung (tidak menyebut nama).

Sebisa mungkin saya tetap menjaga nama baik puskesmas dan para pejabatnya. Saya tidak ingin menjelekkan puskesmas yang menaungi saya dalam hal ini kepala puskesmas dan tim pembagi kapitasi,. Dengan status saya di whatsapp, saya berharap supaya kepala puskesmas memberikan keadilan kepada saya, minimal saya mendapatkan jawaban yang memuaskan dengan masalah yang saya hadapi.

Saya dimisalkan seperti seorang anak yang ingin mendapatkan pengayoman orang tua yang telah membesarkannya, ketika seorang anak melakukan kesalahan, orang tua seharusnya memberikan pemahaman dan pengayoman sehingga anak merasa aman dan nyaman dalam bimbingan orang tuanya. Mengenai pak KTU yang katanya menegaskan bahwa saya melanggar etika, ternyata setelah saya konfirmasi beliau tidak pernah diwawancarai oleh wartawan dari media manapun, jadi berita itu adalah kebohongan yang dibuat-buat oleh kepala puskesmas (Nurul Inayah) dan kawan-kawannya untuk menjatuhkan martabat saya di media. Kemudian berhubungan dengan ketidak profesionalan saya dalam bekerja, hal ini tidak seharusnya diungkap ke publik. Kalaupun misalnya boleh diungkap ke publik, seharusnya disebutkan mana letak ketidak profesionalan saya, karena selama ini saya bekerja sesuai dengan tupoksi dan aturan dari puskesmas, dan lagi kepala puskesmas (Nurul Inayah) itu baru dilantik (tidak sampai sebulan), bagaimana dia bisa menilai kinerja anak buahnya dalam waktu yang sangat singkat.

Dari situ dapat disimpulkan bahwa kepala puskesmas menunjukkan ke kerdilannya (ketakutan) dengan anak buahnya yang bekerja dengan professional. Kalau misalnya menurut kepala puskesmas anak buahnya (saya) tidak professional dalam bekerja seharusnya langkah-langkah penyelesaian masalah harus dilewati terlebih dahulu seperti tersebut di awal pembelaan saya ini, yaitu ditegur secara lisan, ditegur secara tertulis kemudian diberi sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Di tulis di pamekasan pada tanggal 26 Juli 2020 Penulis hak jawab Kurratul Aini

Sesuai surat hak jawab yang di kirimkan ke Redaksi via Whatshap dengan nomor 08525830xxxx. terkait dengan berita di Radarbangsa.co.id yang di muat pada tanggal 21 Juli 2020,dengan link berita oline yang Berjudul https;//radarbangsa.co.id/oknum-perawat-puskesmas-panaguan-proppo-pameksan-langgar-etika-profesi/, dengan ini kami minta maaf kepada Kurantul Aini yang dikuasakan kepada Yolies Yonki Nata, S.H.I Pengacara/Advokat dalam Yolies Yonky Nata And Partner Law Firm, dan semua pembaca, atas kekhilafan dan kesalahan dalam pembuatan berita tersebut.

(Red)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *