Idu Geni Melawan Idu Basin, Jadi Pamungkas Idiologi Wawasan Kebangsaan

PAC PDI Perjuangan Kecamatan Batu dan DPC PDI Perjuangan Kota Batu, Melaksanakan Haul Bung Karno bersama Kyai Nurbani Yusuf

KOTA BATU, RadarBangsa.co.id – Mengutip dari Tauziah Kebangsaan semalam ada hal penting kelebihan seorang Bapak Bangsa Soekarno yang diistilahkan “LELANANGING JAGAD”. Selain pandai menulis juga pandai merangkai kata hingga bisa menancap jauh ke lubuk nurani bangsa.gagah,pandai bijaksana,hanya sekali dalam seumur hidup ditolak wanita. Bung Hatta pandai menulis, tetapi lemah dalam merangkai kata.
Dan kesemua tulisan diatas terwujud dalam buku hebat Ir.Soekarno dibawah Bendera Revolusi.

Hal ini, bisa dirasakan dan diapresiasi oleh seluruh kader dan anggota Pimpinan Anak Cabang ( PAC) PDIP Wilayah Kecamatan Batu kota Batu, dalam rangka memperingati haul Bung Karno digagas oleh PAC PDIP Kecamatan Batu, dan dukungan DPC PDI Perjuangan Kota Batu, serta beberapa pihak. Sekaligus dalam memahami dari acara Tauziah Kebangsaan Minggu,(21/6) di laksanakan di Kantor DPC PDIP kota Batu. Dari Politikus kawakan atau mantan Presiden RI Ke-4 putri Proklamator Ir.Soekarno, dan ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri adalah sikap “Diam”, kata Kyai Nurbani Yusuf.

Bacaan Lainnya

” Dengan kesamaan menanamkan stigma merajut kata,tekanan kata – kata yang mujarab hingga berhasil melahirkan istilah ” IDU GENI ” dikalangan elit dan orang – orang dalam pola pikir luas.
Pertanyaan besar kpd diri kita masing masing, dalam menyatukan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang paling majemuk adalah NKRI Harga Mati,”

” Dibagian mana kita berdiri yang selalu mengaku ANAK IDEOLOGIS SOEKARNO.
Sementara yang kita punya adalah sikap suka dan tidak suka,sementara yang kita tebar sikap ego sektoral kelompok,” ucap Nurbani.
Kita lemah membangun kebersamaan,lemah pula merangkai kata, yang ada merasa paling unggul,paling mumpuni dengan kelompok sendiri.

Secara tidak sadar kita menyekat pribadi sesama Moncong Putih yang sudah mulai agak luntur sikap Gotong Royong.
Membangun kebersamaan hanya lingkup kecil tanpa mau peduli dgn sesama teman seperjuangan,apalagi lingkup eksternal. Kita terlalu sibuk membangun retorika, kita terlalu sibuk membangun jati diri personal dan banyak lupa akan kekuatan besar yang lahir dari rasa kebersamaan.

Walhasil “IDU” kita bak orang yang tidak pernah sikat gigi alias basin, jagan
harap kekuatan besar itu akan bergejolak terarah jika ” Watak,Watuk,Wateg hanya berjalan pribadi dan kelompok yang disukai. ” Hal ini akan pada masanya akan lahir rasa hormat pada seorang Figur bukan warna bendera,” urainya.

Lebih lanjut, Loyalitas terbangun atas dasar saling menghormati, menghargai bukan berpedoman karena ” Aku Wong Lawas atau ,Koen Wobg Anyar. Hanya kedewasaan berpikir serta bernafas menyatukan gerak moncong putih adalah Final statemen.
Kalaupun belum bahkan tidak pernah kita membaca, dibawah Bendera Revolusi yang sarat makna besar.

Dan minimal pribadi kita sanggup menerima kenyataan bahwa amat sangat banya kekurangan diri, dan yang sanggup menutupi adalah saudara kita sendiri, dan saling bisa melengkapi,” tambah Muhajirin sekretaris PAC PDIP Batu.

Berpedoman atau mengaca dari Basinya Idu yang muncrat dari teriakan teriakan,dan kasak kusuk, maka untuk menyemprotkan Idu Geni butuh waktu lama untuk saling koreksi pada jati diri masing masing. 

(wan)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *