ITS Hibahkan Sistem Ice Maker Bertenaga Surya di Pulau Gili Timur

  • Whatsapp

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Ratusan desa di Indonesia yang berada di wilayah 3T (tertinggal, terdepan dan terluar) belum mendapatkan akses listrik dikarenakan pemerintah memiliki keterbatasan dalam menjangkau lokasi desa yang berada di pedalaman atau di pulau-pulau kecil yang memiliki akses dan medan yang sulit.

Pulau Gili Timur adalah salah satu pulau yang belum mendapatkan akses listrik, padahal menurut data dari sensus penduduk ditahun 2015, pulau ini dihuni oleh lebih dari 2000 jiwa.

Bacaan Lainnya

Pulau Gili Timur hanya dihuni oleh satu desa, yaitu Desa Sidogedungbatu. Pulau Gili Timur ini ini berjarak 2,3 km dari Pulau Bawean dan dipisahkan oleh laut jawa. Lokasi Pulau Gili Timur yang cukup jauh dari Pulau Bawean menyebabkan pemerintah sulit untuk mendistribusikan listrik dari pembangkit listrik yang berasal dari Pulau Bawean.

Pendistribusian listrik melalui bawah laut yang membutuhkan biaya instalasi yang sangat besar adalah faktor utama mengapa sampai saat ini masyarakat Desa Sidogedungbatu belum mendapatkan akses listrik dari pemerintah.

Mayoritas penduduk yang mendiami Pulau Gili Timur bekerja sebagai nelayan. Tidak adanya listrik di pulau tersebut menyulitkan nelayan untuk mendapatkan es batu. Es batu adalah salah satu bahan baku yang biasa digunakan nelayan untuk menjaga kesegaran ikan hasil tangkapan agar tidak mudah busuk sebelum dijual di daratan.

Untuk memenuhi kebutuhan es batu, nelayan di Pulau Gili timur biasanya membeli es batu terlebih dahulu ke pulau Bawean dan ketika sudah dibawa kembali ke pulau gili harganya akan menjadi sangat mahal karena biaya transportasi dan akses untuk membeli es batu tersebut.

Menjawab permasalahan di atas, tim Pengabdi ITS dari Departemen Teknik Fisika yang berkolaborasi dengan Departemen Teknik Elektro membuat inovasi yang dirangkum dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat (Abdimas), dengan nama inovasi BIM-Fish atau Bawean Innovative Ice Maker For Economist Fish Cooling System.

Tim pengabdi berasal dari kolaborasi Dosen Teknik Fisika dan Teknik Elektro ITS yang terdiri dari 10 orang anggota dan diketuai oleh Suyanto (Kepala Departemen Teknik Fisika ITS). Tim Pengabdian masyarakat melakukan kegiatan pengabdian Di Desa Sidogedungbatu yang berlokasi di Pulau Gili Timur pada tanggal 11-13 November 2021.

Koordinator Public Relations BIM-FISH, Andri Haris Setyawan menuturkan, “Jika pada pengabdian ini, tim dosen ITS membuat dan menghibahkan sistem BIM-FISH (Bawean innovative ice maker for economist fish cooling system),” ujarnya pada keterangan tertulisnya. Kamis, (25/11/2021).

Andri menambahkan, jika BIM-FISH adalah suatu sistem pembangkit listrik tenaga surya model offgird yang keluaran daya listriknya hanya dikhususkan untuk kebutuhan pembuatan es batu di Pulau Gili Timur, sehingga bisa dimanfaatkan nelayan setempat untuk digunakan sebagai media pengawetan ikan agar tidak mudah busuk.

“Sistem BIM-FISH ini mampu menyediakan es batu dengan kapasitas produksi 150 kg perhari, sehingga diharapkan dapat memudahkan masyarakat Desa Sidogedungbatu untuk mendapatkan es batu dipulaunya sendiri, yaitu di Pulau Gili timur, sehingga masyarakat nelayan tidak perlu mengeluarkan biaya ekstra yang biasanya dikeluarkan untuk membeli es batu di Pulau seberang yaitu Pulau Bawean,” terang Ketua Tim Pengabdi, Suyanto.

Pada kesempatan tersebut, Tim Pengabdi yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Pascasarjana ITS juga memberikan pelatihan tentang bagaimana mengoperasikan dan merawat sistem BIM-FISH yang sudah terpasang tersebut, sehingga diharapkan ada kemandiran dari warga sehingga terciptanya keberlanjutan dan kemandirian energi di desa Sidogedungbatu.

Sementara itu, Koordinator Teknis BIM-FISH, Luthfansyah Mohammad juga menambahkan, jika adanya sistem berpotensi menekan pengeluaran masyarakat nelayan dalam pembelian es batu. Es batu yang dibeli dari bawean biasanya mecapai Rp 3000 per kilogram, sedangkan kebutuhan nelayan per hari biasanya mencapai 150 kg per hari. Sehingga total biaya yang dikeluarkan nelayan sebulan untuk membeli es batu mencapai Rp. 13.500.000 per bulan.

“Harapannya sistem pembuat es batu tenaga surya (BIM-FISH) yang berkapasitas produksi 150 kg per hari ini dapat membantu nelayan untuk menekan biaya pembelian es batu tersebut, sehingga alokasi pengeluaran es batu oleh nelayan yang sebelumnya dikeluarkan bisa digunakan untuk keperluan yang lainnya,” tutur Luthfansyah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *