Kadinsos Sumenep : 4 Langkah Cara Mudah Mendeteksi Beras Aspal

  • Whatsapp
(kanan) Muhammad Iksan, S.Pd. MT., Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sumenep. (Kiri) Contoh Beras BPNT Merk Cendrawasih Yang Diduga Sentetis. Didistribusikan ke Desa Pajanangger Kecamatan Arjasa Sumenep.

SUMENEP, RadarBangsa.co.id – Dugaan adanya pendistribusian beras palsu atau terbuat dari plastik program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) yang diberikan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada sekira tanggal 15 Januari 2020 lalu, viral diberitankan bahwa jenis beras yang didistribusikan kepada KPM di Desa Pajenangger Kecamatan Arjasa Kabupaten Sumenep adalah beras “Sentetis” atau terbuat dari plastik.

Oleh sebab itu, langkah menyikapi persoalan tersebut, Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sumenep melakukan uji laboratorium (cek lab) terhadap “sample” atau contoh beras yang disebut – sebut sentetis tersebut. Untuk meyakinkan masyarakat, maka Kepala Dinas Sosial (Kadinsos) Sumenep menyampaikan hasil cek lab dari PT. Saraswanti Indo Genetech (SGI) cabang Surabaya, (14/2). Selain daripada itu, Kadinsos Sumenep menyampaikan “Tips” atau cara mudah mendeteksi beras itu apakah asli ataukah palsu (Aspal). Sabtu, (15/2/2020).

Read More

Mohammad Iksan, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sumenep, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil uji laboratorium sejak tanggal 20 Januari sampai 13 Februari 2020, beras contoh yang akan di distribusikan oleh Dinas Sosial Kabupaten Sumenep tidak mengandung zat aflatoksin dan juga tidak terbuat dari plastik.

Lebih lanjut Kadinsos Sumenep menyampaikan 4 (empat) langkah awal cara mudah untuk mendeteksi beras. Agar masyarakat dapat mengetahui antara beras asli dan beras palsu (Aspal), sebagai berikut.

1. Dengan cara melihat warna dan bentuk, serta aroma (bau) beras, tentu akan berbeda antara beras asli dan beras plastik. Terutama dari bau akan sangat kentara bedanya.

2. Dengan cara memasukkan beras ke dalam air. Tentu biji beras lebih berat daripada biji zat cair ataupun biji dari plastik. Selanjutnya jika beras digesek – gesek, lihat perubahan pada air ketika beras tersebut, apakah air tersebut berubah menjadi warna putih atau tidak. Beras itu mengandung zat putih karbohidrat atau zat kapur, jika benar beras maka airnya akan berubah putih.

3. Dengan cara dibakar. Plastik tentu akan meleleh jika terkena api. Dan beras biasanya hanya akan berubah warna menjadi hitam.

4. Dengan cara uji tanak. Bagi kita yang indra pengecapnya masih peka atau sensitif, tentunya rasa beras dan rasa plastik akan sangat berbeda.

Mohammad Ikhsan, Kadinsos Sumenep melanjutkan penjelasannya, bahwa masyarakat terlebih dahulu boleh mencoba beras tersebut dimasak jadikan bubur. Selanjutnya bubur didiamkan atau didinginkan agar lebih terlihat bentuk dan karakternya. Yang pasti beras bisa dijadikan bubur. Tapi jika plastik, setelah dimasak dan didiamkan pasti akan menjadi beku, kaku, dan keras.

“Jika beberapa hal tersebut tidak kita temukan dan ragu-ragu, maka barulah beras di cek lab (uji laboratorium)”, pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya oleh media ini, dengan tajuk Beras BPNT Sentetis di Arjasa Sumenep, Indra Wahyudi : Beras Fiktif. (15/1/2020), Sebagai berikut.

SUMENEP, RadarBangsa.co.id – Beras Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sentetis (plastik) yang telah didistribusikan, disalurkan dan diterima bahkan sudah dikonsumsi oleh Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa beberapa Desa di Kecamatan Arjasa dan Kangayan Kabupaten Sumenep Jawa Timur, menyebabkan beberapa orang KPM yang dikatagorikan miskin tersebut mengalami sakit perut dan mencret (Diare). Mengetahui kejadian tersebut, Idra Wahyudi, wakil ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumenep meminta agar Pemerintah harus hadir ke masyarakat dan melakukan langkah tindaklanjut sampai persoalannya tuntas. Menurut Indra, beras bantuan tersebut termasuk katagori fiktif, sebab yang disalurkan bukan beras yang sebenarnya.

Indra Wahyudi, wakil ketua DPRD Sumenep, saat dikonfirmasi terkait temuan beras palsu tersebut mengatakan bahwa, sebagai wakil Rakyat dirinya sangat menyelesali banyaknya persoalan di masyarakat terkait BPNT berupa beras ini, tidak hanya di kepulauan namun di daratan Sumenep juga banyak persoalan. Entah karena suplayernya yang nakal atau bagaimana, yang pasti Pemerintah dalam hal ini harus hadir melakukan review (evaluasi) agar persoalannya menjadi jelas dan transparan, dan Rakyat tidak menjadi korban.

“Agar pada tahapan berikutnya tidak terjadi lagi hal-hal yang merugikan Rakyat,” harapnya.

Lebih lanjut Idra Wahyudi menyampaikan, khusus terkait dengan bantuan beras BPNT yang disinyalir palsu atau plastik yang telah disalurkan tersebut, hal ini benar-benar membahayakan dan mengancam kesehatan orang lain. Dalam hal ini pihak-pihak terkait khusunya Kepolisian harus turun tangan dan harus memastikan dengan adanya temuan bantuan beras fiktif tersebut. Dan jika benar terbukti, maka tugas Kepolisian adalah menindak dengan tegas.

“Ini termasuk katagori bantuan fiktif, sebab yang disalurkan itu bukan lagi beras yang sebenarnya, melainkan beras palsu atau plastik,” ulas Indra panggilan akrab wakil ketua DPRD Sumenep.

Masih kata Indra, ada dua persoalan dalam hal ini, yang pertama terkait penyaluran bantuan beras fiktif, dan yang kedua terkait bahaya atau ancaman yang diakibatkan beras plastik tersebut. Dengan adanya dua indikasi tersebut, maka Polres Sumenep penting kiranya melakukan penyelidikan secara menyeluruh atas temuan beras sintetis tersebut baik di kepulauan maupun di daratan Sumenep.

Beras Sentesis / Palsu yang disalurkan kepada KPM BPNT di Desa Pandeman Kecamatan Arjasa Sumenep Jawa Timur.

“Jika sudah terbukti beras sintetis maka tidak boleh lagi ada toleransi, Polres Sumenep wajib menindak tegas,”pungkas Indra.

Husairi Hosien, Camat Arjasa Sumenep, saat dikonfirmasi terkait rencana tindak lanjut Pemerintah Kecamatan terhadap temuan penyaluran BPNT berupa beras yang disinyalir palsu atau sentetis tersebut, kepada media ini mengaku dirinya sudah dari Desa Pajenangger dan mendatangi tempat beras palsu tersebut disalurkan. Namun ketika diminta untuk mengirimkan bukti foto kunjungannya tersebut, hingga berita ini diturunkan, Camat Arjasa Husairi Hosien, terkesan enggan mengirimkan bukti foto kunjungannya ke Desa Pajanangger.
(ONG).

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *