KEPALA SEKOLAH SMPN 2 GEMPOL DI DUGA MELAKUKAN MARK UP VOLUME BANGUNAN

0
338

Pasuruan, Radarbangsa.co.id –┬áMenindak lanjuti pemberintaan edisi 420. Beberapa waktu yang lalu, benar-benar miris dunia pendidikan di buat bancaan, bagaimana tidak ukuran bangunan yang sebenarnya lebar 7 mtr dan panjang 39 mtr jadi total bangunan seluas 273 namun keterangan dari pihak kepala sekolah (HJ- PRAPTI. S, Pd.). mgatakan “bahwa bangunan tersebut lebar 13 mtr di potong teras 3 mtr kanan kiri sehingga gedungnya saja 9 mtr, panjangnya 50 mtr lebih padahal cuma 39 mtr, apa karena saking pandainya, apa saking stresnya sehingga 13 mtr di kurangi 3 mtr jadi 9 (sembilan) mtr, itu pun tidak benar, artinya pihak kepala sekolah SMPN 2 GEMPOL. (HJ- PRAPTI. S, Pd.). memberikan keterangan palsu terhadap awak media Radar Bangsa, dari pihak Media Radar Bangsa tidak berhenti sampai di situ, awak media melakukan pengukuran ulang 8 Februari 2019. atas bangunan yang di bangun/renovasi oleh SMPN 2 GEMPOL.

Benar keterangan dari konsultan (Widjanarko) bahwa bangunan tersebut lebar 7 mtr dan panjang 40 mtr itu pun mleset 1 mtr dari keterangan kepada awak media, akan tetapi masih bisa di toleransi karena mendekati kebenaran, namun yang di herankan oleh awak media kepala sekolah (HJ- PRAPTI. S, Pd.). Kenapa harus melakukan mark up atas bangunan yang dikelolanya ada apa dengannya, patut menjadi pertanyaan besar bagi awak media dan jelas tidak jujur dan tidak bisa menjaga amanat yang di berikan oleh pusat, akan tetapi dalam komentarnya di depan awak media dia sangat menjaga amanat tersebut. Sungguh miris prilaku yang dilakukan oleh (HJ- PRAPTI. S, Pd.). Selaku kepala sekolah tidak memberikan contoh yang baik dan tidak patut di tiru oleh murid-muridnya baik dalam menghitung maupun prilaku yang lain.

Jum’at, 8 februari 2019. Sekitar jam 09,55 Wib. Melakukan pengukuran bangunan yang di renovasi oleh SMPN 2 GEMPOL, Namun tidak disangka dan tidak di nyana awak media menemukan salah satu mobil pickup yang bermuatan genteng bekas bangunan tersebut dengan No-Pol. N 9935 TD. Setelah di tanya oleh awak media, mau di bawa ke mana pak? sopir dan kernetnya mengatakan “bahwa genteng-genteng bekas tersebut di bawah ke bangil alon-alon ke utara rumahnya bu prapti” begitu ungkap sopir dan kernetnya. Hal yang sangat memalukan sebenarnya sampai sejauh itu perbuatannya. Jika kepala sekolah berbuat seperti ini bagaimana nanti murid-muridnya?, tentu mencoreng nama baik sekolah dan lembaga pendidikan itu sendiri, selang bebera jam dari sekolah awak media di luar sekolah menanyakan kepada kepala sekolah (HJ PRAPTI. S, Pd.). Melalui SMS menanyakan “kenapa genteng-genteng bekasnya di bawah pulang buuu?” tidak menjawab, diam seribu bahasa.

Di tempat terpisah Widjanarko (konsultan) mengatakan bahwa bajet dana yang di setujui oleh pusat sebesar 1.9 juta per mtr dari pengajuan awal 2,6 juta, terus ada tekanan dari pusat harga tersebut sehingga mencapai kesepakatan/deal 1,9 juta, dari pihak pelaksana harus menguras otak untuk merekayasa komposisi semen dan pasirnya dan tentu saja mengurangi kualitas bangunan itu sendiri, karena asal jadi, namun komentar (HJ PRAPTI. S, Pd.) bahwa bangunan tersebut sangat bagus, dari pihak media heran kenapa dia katakan sangat bagus dari fakta yang ada, sedangkan komposisi bangunan yang di buat 1- 6 satu banding enam jauh dari standart yang di tentukan (HJ PRAPTI. S, Pd.) bisa mengatakan sangat bagus, sesuatu atau bangunan tidak dapat di nilai dengan kasat mata saja namun harus di lihat dari komposisinya, banyak yang sudah terjadi beberapa bangunan sekolah yang belum lama serah terima terjadi ambruk dan lain sebagainya, semoga ke depan tidak terjadi sesuatu hal kepada murid-murid yang melakukan kegiatan belajar karena melihat kondisi pembuatan bangunan tersebut sangat meragukan sehingga awak media dan beberapa lsm akan membawa masalah ini ke Tindak Pidana Korupsi/ TIPIKOR (Ony/Tim).

LEAVE A REPLY