Kerjasama dengan PT MSA, Apedi Ingin Pendanaan Usaha Tani Bisa Lewat Tokenisasi

  • Whatsapp
Penandatanganan kerjasama APEDI dengan PT. MSA kemudahan pendanaan usaha tani melalui Tokenisasi

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Asosiasi Pengusaha Desa Indonesia (APEDI) siang tadi melakukan kerjasama denga PT Mitra Sangkara Abadi (PT MSA), Rabu (10/11/2021). Kerjasama ini adalah untuk memberikan kemudahan pendanaan usaha tani dengan sistem digital melalui Teknologi Blokchain berupa Tokenisasi.

Tokenisasi adalah proses pengubahan berbagai bentuk aset di dunia nyata menjadi bentuk sebuah token yang bisa dipindahkan, disimpan, dan direkam di dalam teknologi blockchain. Tokenisasi juga bisa dibilang sebagai bentuk konversi sebuah nilai yang dimiliki aset tertentu untuk menjadi sebuah token.

Bacaan Lainnya

Token tersebut nantinya akan bisa dijualbelikan atau ditransfer ke pihak lain dalam sistem blockchain. Dengan demikian, pencipta token bisa mendapatkan keuntungan dari token yang dia perjualbelikan pasca tokenisasi.

“Hari ini kita bekerjasama dengan PT MSA untuk program antara lain pendanaan dengan menggunakan koin atau tokenisasi, pengembangan atau dengan sistem digital. Semoga ini apa yang sudah berjalan, bisa lebih berkembang,” beber Presiden DPP Apedi, Muhammad Irfantro.

Sementara itu, Direktur PT MSA, Agustinus Wibisono menjelaskan bahwa, dalam kerjanya Tokenisasi ini sendiri bisa diibaratkan satu perusahaan yang sahamnya dijual ke publik dan dirubah ke token. Dimana jika perusahaan terjadi sesuatu maka masih memiliki nilai dari perusahaan tersebut.

“Dalam dunia pertanian tokensisasi ini sendiri misal satu hektar hektar, misal membuthkan investasi 27 juta, 27 juta itu kalau dimintkan kredit ke bank, mungkin bank akan tanya jaminan apa, tapi kalau saya rubah 27 juta itu saya rubah dalam bentuk 27 juta token. Lalu ini saya jual ke publik. Sehingga 27 juta ini ada 27 ribu orang misal yang beli maka akan lebih muda,” tegas Agustinus.

Maka bukan hanya satu orang saja yang memiliki satu hektar sawah tersebut, akan tetapi 27 ribu orang. Jika gagal, maka 27 ribu orang lah yang akan menanggung resikonya.

“Artinya seorang petani desa yang cuma punya sawah itu bisa menjadi pemegang saham dari perusahaan dia sendiri. Jadi gak usah pusing, nanti APEDI yang akan memfasilitasi,” sambungnya.

Nantinya, pendanaan secara digital dalam bentuk tokenisasi ini akan diterapkan di 32 Provinsi di Indonesia. Namun sebagai awalan akan dimulai di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *