Ketua PC NU Nilai Kegaiatan Sholat Malam Kurang Tepat

by -

KEDIRI, RadarBangsa.co.id – Kontroversi kegiatan sholat malam keliling ke desa-desa yang dilakukan Pemkab Kediri, nampaknya semakin menyita perhatian publik. Pasalnya, setelah Komisi A DPRD Kabupaten Kediri mempertanyakan anggaran pelaksanaannya dipakai untuk apa, kini Ketua PCNU juga bersuara.

KH. Muhammad Ma’mun Mahfudz, Ketua PCNU (Pengurus Cabang Nahdlotul Ulama) Kabupaten Kediri saat dikonfirmasi terkait pandangannya mengenai kegiatan sholat malam keliling dari desa ke desa dengan dihadiri oleh mantan Bupati Kediri dua periode, Ir. H. Sutrisno, MM, menurutnya kegiatan tersebut tidak tepat.

“Sebenarnya saya tidak faham secara detail tentang kegiatan sholat yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri keliling, namun menurut saya hal itu tidak tepat. Sholat malam ini kan Sunnah, mending kita membelajari masyarakat dengan menyemarakkan untuk Sholat Fardlu di mushola dan masjid,” kata Gus Ma’mun, panggilan akrab KH. Muhammad Ma’mun Mahfudz, Senin (18/11).

Ditambahkannya, kalau ada pejabat yang mau keliling untuk membangkitkan semangat warga masyarakat melakukan sholat, sebaiknya dilakukan ketika waktu Sholat Fardlu namun tanpa harus dikondisikan terlebih dahulu, sehingga tidak perlu mengeluarkan dana apapun.

“Sebaiknya langsung saja datang di mushola dan masjid untuk ikut Sholat Maghrib, Isya’ atau lainnya berjamaah, tanpa ada pengkondisian. Jadi berapapun yang ikut jama’ah disitu tidak masalah. Nanti lama-lama masyarakat dengan sendirinya akan sadar bahwa Sholat Fardlu itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan,” terangnya.

Menurut Gus Ma’mun, setelah sholat berjamaah, kemudian diadakan tausyiah dari tokoh masyarakat, sehingga ilmiyah. Karena niatnya adalah memberikan pelajaran sholat, maka tausyiahnya dasar saja, yaitu tentang tata cara sholat, rukun sholat, dan fadhilahnya sholat, tidak jauh kemana-mana. Sehingga tidak ada kesan dikondisikan.

“Kalau sholat malam yang dilaksanakan seperti sekarang ini yang saya khawatirkan adalah nanti ada pengkondisian. Kegiatannya di Desa A namun yang hadir dari Desa B. Dan jangan-jangan yang mengkondisikan itu malah tidak ikut sholat. Parahnya lagi, kalau yang ikut Sholat Sunnah ini malah jarang Sholat Fardlu,” tutur Gus Ma’mun.

Beliau juga menambahkan, kalau kegiatan sholat keliling tersebut ada anggarannya, lebih baik langsung diberikan kepada mushola atau masjid yang didatangi, sehingga dapat digunakan untuk mengisi kas dan dibelanjakan sesuai kebutuhan masing-masing.

“Misalkan kalau tanpa konsumsi, langsung saja datang di masjid atau mushola untuk ikut berjamaah sholat fardlu. Kalau dari pemkab ada anggarannya, lalu diberikan kepada takmirnya masing-masing Rp. 5 juta, kan lebih bermanfaat. Sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan di tempat ibadah tersebut,” ujar Pengasuh Ponpes Al Badr Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Dicontohkan Gus Ma’mun, banyak masjid atau mushola yang sound sistemnya belum representatif, sehingga uang tersebut dapat digunakan membeli sound sistem. Bahkan banyak sekali yang belum memiliki kipas angin.

“Sekarang ini kan hawanya panas sekali, kalau ada dana kan bisa untuk membeli. Kalau tidak ada kipas anginnya kan panas seperti ini. Lho, sampai berkeringat gobyos ini lho,” candanya.

Gus Ma’mun menegaskan, sejak awal dirinya tidak setuju dengan kegiatan sholat malam keliling seperti yang telah dilakukan. Karena dalam pelaksanaannya seperti hanya untuk menunjukkan kekuatan saja.

“Saya bukan melarang kegiatan sholat malam, namun saya tidak setuju dengan kegiatan semacam itu, karena terkesan hanya show of force saja. Menurut saya, lebih baik diganti dengan gerakan Sholat Fardlu, dan itupun tidak usah dikondisikan jumlah pesertanya maupun harus diberikan konsumsi,” pungkasnya. (Jay)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *