Kini KT SAT Lakukan Koneksi 5G dengan Satelit untuk Pertama Kalinya di Dunia

SEOUL, Korea Selatan, RadarBangsa.co.id – KT Corp. (KRX: 030200; NYSE: KT) mengumumkan keberhasilan anak usahanya yang menjalankan satelit, KT SAT, dalam melakukan transmisi data 5G yang pertama di dunia dengan koneksi satelit.(26/11)

Sejumlah teknisi berhasil melakukan transmisi data 5G yang pertama di dunia dengan koneksi satelit dari Seoul, Korea Selatan. Uji coba tersebut ingin memperluas teknologi komunikasi generasi kelima ini agar terhubung dengan jaringan 5G milik KT dan KOREASAT 6 milik KT SAT
Sejumlah teknisi berhasil melakukan transmisi data 5G yang pertama di dunia dengan koneksi satelit dari Seoul, Korea Selatan. Uji coba tersebut ingin memperluas teknologi komunikasi generasi kelima ini agar terhubung dengan jaringan 5G milik KT dan KOREASAT 6 milik KT SAT
Uji coba tersebut ingin memperluas teknologi komunikasi generasi kelima ini agar terhubung dengan jaringan 5G milik KT dan KOREASAT 6 milik KT SAT yang terletak sekitar 36.000 km di atas khatulistiwa. Hal itu disampaikan KT Corp., operator telekomunikasi terkemuka Korea.

Bacaan Lainnya

KT SAT dan KT Institute of Convergence Technology menggarap proyek tersebut. Mereka menerapkan “transmisi 5G campuran (hybrid) terestrial-satelit”. Transmisi campuran ini menggabungkan jaringan yang berbeda untuk mengirimkan data secara lebih baik ketimbang layanan 5G biasa, serta “transmisi media 5G edge cloud dengan backhaul link berupa komunikasi satelit.” Langkah tersebut mempertautkan komunikasi satelit dengan content delivery network (CDN) untuk transmisi video dari 5G edge cloud.

Layanan 5G edge cloud dianggap sebagai pusat data virtual. Solusi ini menangani data yang berasal dari terminal pengguna di titik terdekat demi memaksimalkan kapasitas 5G untuk latensi yang sangat rendah (ultra-low).

Kunci sukses dalam transmisi 5G campuran terestrial-satelit ialah perangkat router yang dikembangkan KT Institute dan KT SAT. Sejumlah terminal 5G yang tersambung ke perangkat ini secara serentak mengirim serta menerima beragam data, atau memakai rute terpisah, dari dan menuju jaringan 5G serta sebuah satelit.

Lewat teknologi ini, KT SAT berhasil menyediakan layanan yang berjalan normal dengan memakai KOREASAT 6 saja, bahkan setelah jaringan 5G sengaja diputuskan.

Uji coba ini memperlihatkan bagaimana teknologi transmisi 5G campuran dapat membantu pengoperasian mesin otomatis yang berbasiskan 5G, atau menjaga kendaraan yang tengah bergerak supaya tetap memiliki koneksi jaringan bahkan saat jangkauan 5G tidak tersedia, atau sebuah bencana alam terjadi.

Saat ini, KT SAT menjalankan lima satelit komunikasi—KOREASAT 5, 5A, 6, 7 dan 8. Dengan demikian, KT SAT mampu menjangkau sekitar 60% dari luas permukaan Bumi.

Dengan memanfaatkan backhaul link berupa komunikasi satelit, KT SAT mengirimkan aliran data secara seketika (real-time) dan tayangan kamera video secara langsung dari Kumsan Satellite Service Center ke 5G edge cloud di KT Research and Development Center, Umyeon-dong, Seoul. Transmisi data dilakukan melalui KOREASAT 6 sehingga memperlancar transmisi data ke berbagai terminal 5G.

Teknologi terbaru ini mendukung transmisi konten secara serentak ke seluruh ponsel pintar yang bisa diakses pada bandwidth serupa. Sementara, komunikasi satelit biasa hanya mengirimkan tayangan video berdefinisi tinggi (HD) ke satu ponsel pintar saja dalam bandwidth tertentu.

Berbagai stasiun penyiaran dan perusahaan konten besar hanya dapat merelai siaran berbasiskan satelit, sebab komunikasi satelit terbatas pada bandwidth dan berbiaya besar.

KT SAT memprediksi, jika kedua teknologi tersebut dikomersialisasi, komunikasi satelit dengan kecepatan yang relatif rendah bisa ditingkatkan supaya dapat menyediakan transmisi data yang lebih cepat dan tanpa gangguan. Kedua teknologi ini akan memperluas peluang bagi banyak pengguna di negara-negara dengan sistem komunikasi yang kurang memadai agar warganya dapat mengakses konten bermutu tinggi.

Menurut KT SAT, riset koneksi 5G dengan satelit bertujuan untuk mewujudkan interkoneksi lengkap dari 5G NR (New Radio) dan komunikasi satelit. Hal tersebut dilakukan dengan merancang standar global bagi teknologi yang menginterkoneksi satelit dan 5G.

KT SAT dan KT institute berupaya untuk melaporkan hasil uji coba tersebut kepada 3rd Generation Partnership Project (3GPP) pada Semester I-2020. Koneksi 5G dengan satelit menjadi salah satu topik riset yang didukung organisasi spesifikasi internasional ini di bawah naungan inisiatif tahun 2018, “3GPP Release 16.”

Banyak pakar di bidang komunikasi memperkirakan, upaya standardisasi untuk satelit 5G paling cepat dimulai pada 2020. Langkah ini ditempuh di bawah naungan inisiatif “3GPP Release 17” dan berdasarkan hasil riset saat ini.

“Langkah untuk mempertautkan (meshing) satelit dan 5G akan menghasilkan lingkungan komunikasi tanpa kesenjangan regional, berkontribusi besar terhadap komunikasi saat bencana alam terjadi dan tanggap darurat. Lebih lagi, hal tersebut akan berkontribusi terhadap pasar konten yang sangat membutuhkan komunikasi,” ujar Hahn Won-Sic, President, KT SAT. “Lewat pertukaran teknologi dengan KT, kami akan berupaya untuk mewujudkan standardisasi teknologi dunia dan menyediakan layanan pelanggan yang baik.”

Jeon Hong-Beom, Executive Vice President, KT, dan Kepala KT Institute of Convergence Technology, berkata, “Kami sangat gembira karena bisa mempertautkan satelit dan 5G untuk pertama kalinya di dunia. Langkah ini ditempuh dengan memanfaatkan sejumlah teknologi 5G milik KT Group. Ke depan, KT Institute akan berkontribusi terhadap pengembangan model-model bisnis baru dengan menghimpun kepiawaian teknologi KT Corp.”(Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *