KKN Abmas ITS di Pacet Mojokerto, Ciptakan Alat Pengering Fruit Leather Elektrik

MOJOKERTO, RadarBangsa.co.id – Provinsi Jawa Timur memiliki potensi dalam pertanian dan perkebunan yang melimpah, terutama untuk komoditas buah-buahan. Perilaku ekonomi dilakukan oleh para petani buah adalah berimprovisasi untuk memproduksi dan memasarkan olahan buah-buahan, seperti yoghurt, dan fruit leather.

Termasuk daerah bertanah subur, Desa Cepokolimo, Kec. Pacet, Kab. Mojokerto diketahui memiliki hasil produksi yang melimpah. Namun karena adanya pandemi, penjualan dari Desa Cepokolimo mengalami penurunan. Dalam hal ini, diperlukan alat pemanas untuk melakukan produksi yang ekonomis, efektif, dan optimal.

Bacaan Lainnya

Maka dari itu, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pengabdian Masyarakat (Abmas) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menciptakan suatu alat inovasi berupa pemanas elektrik dan menghibahkannya kepada Yayasan Pondok Pesantren “Cepokolimo Pacet” guna meningkatkan nilai jual buah di Desa Cepokolimo, Pacet.

Kegiatan Abmas ini bertujuan untuk merancang bangun alat pemanas elektrik produk olahan pertanian berbasis tubular heater element sebagai alat utama dalam produksi yoghurt dan fruit leather.

Dosen pendamping dari tim KKN Abmas ITS, Prof Basuki Widodo mengatakan bahwa, pemanas elektrik ini bermanfaat bagi warga Desa Cepokolimo, karena mampu menurunkan permasalahan limbah makanan (food waste). Lebih detail, alat inovasi ini dapat digunakan untuk mengeringkan daging buah hasil produksi warga.

“Kemudian akan diolah menjadi jenis makanan baru yaitu fruit leather,” ujarnya pada keterangan tertulisnya. Minggu, (28/11/2021).

Fruit leather adalah jenis makanan yang berasal dari daging buah yang dihancurkan dan dikeringkan. Fruit leather ini berbentuk lembaran tipis dengan tekstur seperti plastis dan kenyal.

Selain itu, fruit leather ini memiliki rasa manis tanpa menghilangkan ciri khas rasa asli dari buah. Adanya inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan umur simpan serta meningkatkan penganekaragaman pengolahan pangan.

“Dengan begitu, Desa Cepokolimo dapat meningkatkan nilai jual buah mereka,” terang dosen Departemen Matematika tersebut yang didampingi mahasiswa KKN Tematik ITS.

Berdasarkan pernyataan dari alumni doktoral Leeds University ini, pemanas listrik ini menyerupai sebuah mesin oven dengan kapasitas yang cukup besar. Mesin yang sanggup memuat sekitar lima belas loyang ini memiliki dimensi dengan panjang 90 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 75 cm.

“Alat ini diciptakan dalam kurun waktu tiga minggu, dan dalam mendesain alat butuh waktu empat hari,” ungkap Basuki dengan detail.

Alat pengering fruit leather elektrik otomatis ini memiliki konsep elemen pemanas tubular (tubular heating element) dengan menggunakan gulungan kawat pengikat koil. Adapun kawat tersebut dimasukkan ke dalam pipa dan dituang bersama bubuk isolator.

Hal tersebut dinilai dapat meneruskan panas dan menjadi isolator yang baik, sehingga arus listrik tidak menembus dan mengalir pada pipa pembungkusnya. Material pipa yang digunakan untuk membungkus pemanas tubular adalah stainless steel 30 milimeter.

Selain itu, tim KKN Abmas ITS juga menggunakan thermostat elektrik yang berfungsi untuk menjaga suhu agar tetap konstan. Thermostat akan memutus daya jika suhu yang dihasilkan oleh pemanas tubular mencapai lebih dari 80 derajat celcius. Jika suhu yang diberikan oleh pemanas tubular menurun, maka daya akan kembali menyala secara otomatis.

“Mesin ini memerlukan daya sebesar 600 watt dan memerlukan waktu sekitar 2,5 jam,” tutup Prof Basuki Widodo.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.