Komnas Perlindungan Anak : OM NYOTO (52) PREDATOR KEJAHATAN SEKSUAL DI TEBING TINGGI HARUS DIHUKUM BERAT

0
32

Tebing Tinggi, Radarbangsa.co.id – Perbuatan bejat, biadab dan terkutuk yang dilakukan Sunyoto alias Om Nyoto (52) warga Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Sergei, Sumatera Utara terhadap A (12) siswi kelas 6 SD tetangganya hingga mengandung 4 bulan merupakan kejahatan luar biasa dan penangananannya juga harus luar biasa dan cepat.(13/04)

Sebagaimana diatur dalam Ketentuan UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penerapan PERPU No. 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No. 23 Tahun 2002 mengenai Perlindungan Anak, Om Nyoto yang berprofesi sebagai pekerja pengawas salah satu Kebon sawit dan terkenal pemilik banyak ternak lembu di desanya atas perbuatan terkutuknya itu terancam minimal 10 tahun pidana penjaral dan maksimal 20 tahun dan bahwan dapat dikenakan hukuman seumur hidup.

Atas dasar hukum itulah Komnas Perlindungan Anak dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sumut mengapresiasi Kepala Unit PPA Polres Tebing Tinggi IPTU Dora Simanjuntak yang telah menerapkan ketentuan UU RI No. 17 Tahun 2016 untuk menjerat Om Nyoto atas perbuatannya. Saat ini kasusnya sudah masuk tahapan satu di Kejaksaan Negeri Tebingtinggi.

Arist Merdeka Sirait putra Siantar berjenggot putih ini mengutip pernyataan Iptu Dora Simanjuntak bahwa “Bapak Kapolres Tebingtinggi AKBP Sunadi, SIK memberi atensi khusus terhadap kasus kejahatan seksual terhadap anak termasuk kasus dugaan kejahatan seksual yang dilakukan Sunyoto (Om Nyoto-refaksi)
Beliau tidak mengenal kata damai dan masaf atas kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak”, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak dan LPA SUMUT usai mengungjungi Polresta Tebingtinggi kepada sejumlah wartawan di Tebingtinggi, Jumat 12/04.

Sementara itu, DR. Imaculata Umiyati, MPsi, selaku bunda autism sekaligus salah seorang Komisioner Komnas Perlindungan Anak usai bertemu dan korban dan keluarga dirumahmya, merekomendasikan agar korban segera mendapat pendampingan psikologis. Karena dapat dipastikan korban dalam posisi trauma berat oleh sebab itu korban membutuhkan pendampingan pdikologis. Korban tidak bisa dibiarkan menanggung sendiri bebannya, pada saat korban sedang mengandung 4 bulan. Dengan demikian korban wajib mendapat dukungan moral dari kedua orangtuanya. Orangtua harus juga menghindari kemarahan dan melakukan tekanan-tekanan dengan mempersalahkan korban.

Oleh sebab itu, saya merekomendasikan kepada LPA Sumut untuk segera membangun kemitraan dalam penanganan korban dengan pemerintah Kota dan Kabupaten Sergei dalam hal ini Dinas Sosial dan Kesehatan untuk membantu pendampingan persalinan dan kesehatan , Dinas pendidikan untuk keberlanjutan sekolah korban melalui rekomendasi Kepala Desa.

Dan atas kasus ini, Komnas Perlindungan anak mendesak Dinas PPPA Kabupaten Sergei untuk melakukan pendampingan maksimal kepada korban sesuai dengan tupoksinya dan tidak dibenarkan cuci taggan atas kasus ini”; tambah Dr. Ima.

Kasus kejahatan ini terungkap setelah korban mengeluh sakit perut kepafa neneknya untuk diminta dipijat, kemudian sigap nenek korban membantu memijat perut korban namun nenek korban curiga bahwa cucunya telah berbadan dua, lalu neneknya memberitahukan kepada ibu korban. Kemudian untuk memastikan apa yang sedang terjadi pada putrinya, kemudian ibu korban memeriksakan kepada bidan di kampungnya hasilnya bahwa korban positif hamil 4 bulan.

Tanya punya tanya akhirnya korban mengakui bahwa pelaku kekerasan seksual adalah Om Nyoto tetangganya sendiri. Korban bercerita bahwa Om Nyoto telah 4 kali menggaulinya dengan cara membujuk korban dan 3 kali dilakukan di kebun sawit tidak hauh daro rumahnya dan 1 kali dirumah kosong anak pelaku.

Yang lebih biadabnya lagi, setiap pelaku ingin melakukan kejahatan seksual terhadap korban pelaku lebih dulu mengikat adik korban laki-laki berusia 4 tahun diatas motor kemudian pelaku mensrik korban di kebon sawit.

Atas peristiwa terkutuk ini pelaku dapat dipastikan akan dijerat dengan pasal berlapis. Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga yang memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia melalui LPA Sumut akan terus memantau kasus ini. Tidak ada konpromi atas kadus ini, demikian ditambah Atist dengan tegas

LEAVE A REPLY