Komnas Perlindungan Anak : PEMBEBASAN PEKERJA OJEL PELAKU KEJAHATAN SEKSUAL DI SIANTAR MENCEDERAI HAK HUKUM ANAK

0
42
Ket foto : Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak

Jakarta, Radarbangsa.co.id – Dibebaskannya DMTH pengendara ojek online (ojel) sang terduga predator kejahatan seksual terhadap S siswi SMP di Siantar oleh Polresta Siantar dengan alasan bahwa antara kotban dan terduga pelaku sudah membuat perdamaian dan telah mencabut laporan ke Polisi telah mencederai penegakan hukum, demikian disampaikan Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak dikantornya dibilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat 25/043.

“Kita bisa bayangkan, apa jadinya jika kasus-kasus kejahatan seksual terhadap anak di Indonesia diselesaikan dengan pendekatan damai dan pencabutan laporan”, lalu menghentikan penegakan hukumnya. “Sesungguhnya Polresta Siantar dalam penanganan kasus kejahatan seksual yang diduga dilakukan DMHT terhadap S ini tidak perlu menghentikan perkara hanya karena sudah ada perdamaian antara korban dan pelaku.

Perlu diingat, Sebagaimana yang dimaksud UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak junto padal 76D UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomo2 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa kadus kejahatan seksual terhadap anak adalah kejahatan luar biasa dan harus ditangani juga secara luar biasa (extraordinary) serta pidana pokoknya juga mesti diterapkan luar biasa. Mengingat hukuman bagi predator kejahatan seksual dapat diancam dengan pidana pokok minimal 10 tahun maksimal 20 tahun dan bahkan dapat diancam dengan hukuman seumur hidup. Dengan demikian tidak ada alasan bagi POLRESTA Siantar untuk menghentikan kasus kejahatan seksual ini hanya lantaran ada perdamaian.

Lebih jauh Arist Merdeka menjelaskan, untuk penghentian kasus kejahatan seksual yang diduga dilakukan DMHT terhadap S (14) ini, Komnas Perlindungan Anak sebagai lembaga yang diberikan otoritas dan mandat memberikan pembelaan dan perlindungan anak di Indonesia, bersama dengan otoritas Lembaga Perlindungan Anak ( LPA) Siantar dan Simalungun akan segera mengagendakan bertemu Kapolresta Siantar untuk melakukan kordinasi atas perkara ini khusus kepada Kasatreskrimum Polresta Siantar.

Untuk diketahui, berdasarkan kronologi peristiwa bahwa kejahatan seksual terhadap S bermula ketika Pelaku DMTH bertemu dengan S siswi kelas 8 SMP di Jalan Haji Ulakma Sinaga Kabupaten Simalungun.

Ketika bertemu di pinggiran jalan itu korban sedang sendirian lalu DMTH kemudian mendekati korban dan mengaku sebagai Polisi. Kemudian BMTH mengatakan bahwa korban terlibat tindak pidana penyalahgunaan narkotika.

Mendengar itu, korban pun ketakutan hingga akhirnya mengikuti ajakan DMTH dengan mengendarai sepeda motor. BMTH membawa S keliling-keliling Kota Siantar, sebelum akhirnya masuk ke rumah sakit Horas Insani di Jalan Medan Kecamatan Siantar Martoba. Setibanya di sana, BMTH langsung membawa S ke kamar mandi Rumah Sakit kemudian DMTH memulai petbuatan bejatnya dengan meraba-raba bagian sensitif seperti menciumi payudara dan kemaluan korban.

Setelah DMTH melampiaskan nafsu bejatnya, kemudian DMTH mengantar korban ke salah satu salon di Jalan Haji Ulakma Sinaga Siantar tempat dimana Ibu sedang bersalon disanalah kemudian korban menceritakan kepada ibunya apa yang sudah dialami.

LEAVE A REPLY