Komnas Perlindungan Anak : RGS (26) PELAKU KEJAHATAN SEKSUAL TERHADAP 20 ANAK TERANCAM 20 TAHUN PENJARA

0
20
Ket Foto : Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak

Jakarta,radarbangsa.co.id – Komnas Anak : Menyikapi kasus kejahatan seksual yang dilakukan RGS (26) terhadap 20 anak, Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak meminta Polres Garut menjerat pelaku sebagaimana diatur dalam ketentuan UU RI Nomor 17 Tahun 2016 mengenai penerapan Perpu No 01 Tahun 2016 tentang Perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan acaman 20 tahun pidana penjara.(15/05/2019)

Mengingat kejahatan seksual terhadap anak merupakan tindak pidana luar biasa (extraordinari crime) dengan demikian pelaku juga dapat dikenakan dengan ancaman hukuman pidana seumur hidup, demikian disampaikan Arist Merdeka pria berjenggot putih kepada sejumlah wartawan di Studio Komnas Anak TV dibilangan Pasar Rebo, Jakarta Timur Rabu 15/05.

RGS warga Kecamatan Cisewu Kabupaten Garut melakukan aksinya berawal dari perkenalan pelaku dengan korban dengan menggunakan media sosial Facebook. Setelah itu pelaku menemui korbannya.

Aksi pelaku itu sudah berlangsung sejak setahun lalu dengan sejumlah korban awal laporan sebanyak orang 16 orang kemudian korbannya bertambah menjadi 20 orang.

Kita juga tidak tahu nanti akan ada berapa lagi korban Ucap Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna saat ekspos kasus kejahatan seksual terhadap anak ini di Markas Polres Garut Rabu 15/05.

Ia mengungkapkan hasil pemeriksaan sementara pelaku dalam melancarkan kejahatannya dengan cara menawarkan kepada korban untuk menceritakan segala keluhan kehidupan korban lalu pelaku menunjukkan seolah-olah mempunyai kemampuan dapat menyelesaikan masalah dari segala derita yang dialami korban. Kemudian RGS terus melakukan bujuk rayu hingga korban percaya dan mau menemui pelaku.

Solusi yang ditawarkan pelaku dengan cara melakukan ritual.

Ada dua ritual yang dilakukan pelaku yakni ritual “kias” dan ritual “pangasal” namun dua ritual itu ujungnya menyetubui korban dan cara pelaku ritual itu dilakukan untuk menghilangkan sial.

Korban-korban pelaku umumnya anak-anak berusia15 sampai 17 tahun.

Pelaku lanjut Kapolres Budi Satria melakukan kejahatannya dengan modus mengaku sebagai guru ngaji hingga dukun yang mampu mengobati masalah keluhan kehidupan korban.

Perbuatan bejat pelaku yang sehari-harinya bekerja serabutan itu akhirnya terungkap setelah satu korban melaporkan kepada Polisi dan selanjutnya polisi melakukan penangkapan terhadap pelaku dan membawanya ke Markas Polres Garut untuk dimintai pertanggungjawaban hukum atas perbuatannya.

Untuk mengawal dan memberikan bantuan pendampingan psikologis bagi 20 korban, Komnas Perlindungan Anak dan Komnas Anak Pokja Jawa Barat menggandeng P2TP2A Garut akan segera membentuk tim trauma dan dampingan hukum bagi korban.

“Tidak ada kata damai terhadap segala bentuk kejahatan dan perlakuan salah terhadap anak”. Oleh sebab itu, tidaklah berlebihan jika Komnas Perlindungan Anak memberikan apresiasi terhadap kerja keras Polres Garut dalam mengungkap kasus kejahatan seksual ini, tambah Arist.

LEAVE A REPLY