Kyai Kondang di Lamongan, Pentingnya Membaca Buku Sejarah Waliyullah, Simak Pencerahannya

LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Di dasari karena sangat cinta kepada Waliyullah di tanah Jawa ini,setiap orang punya cara tersendiri dalam melakukan sikap dan mengekspresikannya,ada yang dengan sering berziarah ke makamnya,dengan kirim do’a dan tabarukan,ada yang membangun makamnya,ada yang merawat dan melestarikan adat budaya yang di wariskanya,ada pula cara yang lain,yaitu melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana kiprah dan sejarah perjuangan Waliyullah ditanah air ini,kemudian di tulis dalam sebuah judul buku,

Seperti halnya yang dilakukan oleh Kyai.M.Muzakkin(Gus Zakky)Pengasuh Pondok Pesantren Khusus Rehabilitasi Sakit Jiwa dan Narkoba “Dzikrussyifa’ Asma’ Berojomusti” di Lamongan Jawa timur ini.

Bacaan Lainnya

Gus Zakky, panggilan akrabnya,dalam setahun terakhir ini telah menulis 6 judul buku, khusus sejarah Waliyulllah di tanah Jawa,buku terbitan terbarunya antara lain berjudul,
1.Sejarah Sunan Sendangduwur,
2.Sejarah Jaka Tingkir,
3.Sejarah Syeh Subakir,
4.Sejarah Syeh Maulana Ishaq,
5.Sejarah Sunan Geseng,dan
6.Mengenal Lebih dekat Wali berkaromah tinggi,

Selain dari 6 judul buku terbitan terbaru ini,sebelumnya sudah tak terhitung berapa banyak buku yang beredar di pasaran karya Gus Zakky,sebab sejak remaja beliau ini sudah sering menulis dengan berbagai judul buku,disamping kesehariannya berprofesi menjadi seorang Journalis/Wartawan media cetak kala itu.

Apa alasan lain yang mendasar : Mengapa Gus Zakky terpanggil untuk menulis Buku Sejarah Waliyullah ini ? Bagi Gus Zakky,Buku sejarah Waliyullah ini penting,agar masyarakat dan khususnya generasi penerus bangsa ini mengetahui siapa tokoh Islam yang berjasa dalam penyebaran agama Islam di negeri ini,

Sebab bila mereka tidak mengerti sejarahnya, dikhawatirkan sejarah itu akan dibelokkan oleh faham aliran lain yang justru mendiskriditkan keberadaan para Waliyullah itu sendiri,yang lebih parah lagi bila mereka mengklaim bahwa ziarah ke makam Waliyullah itu adalah perbuatan syirik,dll.

Inilah yang harus kita waspadai bersama,dan menjadi tantangan kita sebagai ummat Islam yang berhaluan Ahlussunah wal jamaah di tanah air ini,

Terus terang buku sejarah Wali Songo sudah banyak sekali yang menulis dan sudah beredar dimana-mana,Sedang untuk waliyullah yang diluar Wali songo ini masih minim dan jauh dari perhatian,makanya Gus Zakky ini terpanggil untuk menulisnya agar keberadaan kekasih Allah ini mendapat perhatian juga dari lapisan masyarakat dan pemerintah seperti halnya Wali songo lainya yang sama-sama punya jasa besar terhadap sejarah penyebaran dan perjuangan agama Islam di tanah air ini.

Menurut Gus Zakky,Pria yang juga Ketua Umum JCW(Jatim Corruption Watch)Provinsi Jawa timur,yang juga Ketua Pusat BPAN RI(Badan Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia)ini mengatakan.

“Buku adalah cendela ilmu,buku yang berisi tentang ajaran kebaikan,seperti buku sejarah Waliyullah yang saya tulis ini,bila dibaca, insyaallah yang membaca akan mendapat pahala, begitu juga semua yang terlibat di dalamnya, sebab buku ini adalah berisi tentang sejarah penyebaran agama islam,yang telah dicontohkan oleh para Waliyullah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,bisa di jadikan acuan untuk menambah wawasan spiritual, “,tuturnya,saat di temui awak media di pesantrenya,kaamis,(06 Desember 2019).

Hal senada disampaikan oleh Kyai.Anang Mas’ud Makruf(yang akrab dipanggil Mbah Nang),pengasuh Pondok Pesantren Wali Songo,Sekaran Lamongan, yang juga Ketua Komunitas Pecinta Wali Nusantara.

Menurutnya, “Dengan terbitnya buku Waliyullah ini saya sangat gembira sekali,sebab tidak semua orang yang mencintai Waliyullah itu terpanggil untuk menulis sejarahnya,Semoga buku ini bermanfaat untuk ummat dan barokah bagi semua yang terlibat,bisa dikenang sepanjang masa oleh anak cucu,para pecinta ilmu,dan jadi amal jariyah tersendiri bagi beliaunya,Amin”,
Ungkapnya.

Bagi Gus Zakky,menulis buku adalah ibadah,dan dakwa untuk syiar Islam,sebab dakwa tidak terbatas waktu dan tempat,tidak harus di atas panggung dan mimbar masjid,dimanapun ada cela, dakwa harus terus jalan karena itu adalah sebuah kewajiban bagi semua ummat islam.

Hadits Rosulullah SAW,”Bila anak Adam telah meninggal, maka semua amalnya akan terputus, kecuali tiga perkara,Pertama, Shodaqoh jariyah,
Kedua, ilmu yang bermanfaat,dan Ketiga,do’a anak yang Sholeh”.Semoga buku ini bermanfaat untuk ummat,dan barokah untuk semuanya,Amin,
Pungkasnya, (MM/Kiki)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.