LBH Malang Soroti Fenomena, Naiknya Kejahatan Kriminalitas Jelang Lebaran

Ketua LBH Malang Andi Rahmanto.SH. bersama tim menyoroti terkait dampak sosial maraknya kriminal jelang Lebaran Idul Fitri dimasa Pademi Covid-19 [IST]

MALANG KOTA, RadarBangsa.co.id – Bagaikan tradisi yang biasa terjadi di setiap menjelang hari Raya Idul Fitri, angka kriminalitas cenderung naik. Apalagi seperti situasi sekarang ini, dihajar pandemi Covid-19 di tambah lagi bencana alam yang bertubi-tubi.

Suasana masyarakat yang seolah tertekan juga secara tidak langsung juga dipicu adanya aturan larangan mudik yang dinilai menjadi suatu pembatasan hak.

Bacaan Lainnya

Salah satu fenomena sosial lain yang menjadikan suatu pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawab bersama adalah menjaga stabilitas keamanan.

Warga dan pihak terkait dituntut untuk selalu waspada dan antisipatif karena kejahatan atau kriminalitas yang cenderung naik menjelang Lebaran. Hal ini juga di dukung dengan Seperti kurangnya penerangan dan pengamanan lingkungan,serta kurangnya kontrol semacam patroli rutin di tempat rawan,”kata Ketua LBH Malang Andi Jumat(7/5/2021).

Andi memberikan ulasan dan solusi guna penyelesaian fenomena seperti ini.”Jenis Tipologi kejahatan saat ini (khususnya ‘Begal’) Kejahatan terkait maraknya ‘Begal’ hal tersebut perlu kita bedah,”urainya.

Karena bermula dari faktor kondisi Sosial kemasyarakatan yang mana hal itu terjadi akibat sulitnya mencari ‘penghidupan’ saat – saat seperti ini, dan ditunjang dengan beberapa kebijakan dari penyelenggara kebijakan yang mungkin dirasa ‘aneh’ bagi sebagian kalangan masyarakat yang merasa tidak mendapatkan keadilan,” tuturnya.

“Hal inilah yang harus kita pahami bersama bahwa kejahatan – kejahatan di arus bawah yang terjadi saat ini beda halnya dengan kejahatan – kejahatan lainnya seperti Korupsi, karena fenomena yang terjadi ini atas kondisi realitas di kalangan masyarakat bawah,” imbuhnya.

“Solusi sudah menjadi maklum akan kondisi sekarang hendaknya kita semua prihatin dan lebih bersama – sama saling merasakan / berbagi dan peduli. Karena hal inilah merupakan suatu wujud pencegahan yang nyata, karena pada intinya , Pidana adalah Ultimum Remidium yakni solusi terakhir’ berikut juga dengan penindakannya,”jelasnya.

“Memahami kultural yang ada jauh lebih baik dan juga wujud preventif, serta lebih menanamkan lagi pola pikir kita yakni Berjuanglah Untuk Kehidupan, Bukan Untuk Penghidupan,” pungkasnya.

(Win)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *