Legenda Hidup Olahraga Berkuda Sarankan Triwatty Marciano Temui Langsung Komunitas Pacuan Kuda

Edwin Basuki (IST)

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Muncul Petisi Dukung Munaslub PP Pordasi, Perseteruan antara Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) dengan Indonesia Horse Racing Community (IHRC) atau Komunitas Pacuan Kuda Indonesia mendapat perhatian dari legenda hidup olahraga berkuda Indonesia Edwin Basuki (84).

Laki-laki yang sudah sejak tahun 60-an menggeluti hobi berkuda sebagai joki dan sampai saat ini aktif menjadi pelatih kuda pacu ini berpendapat masalah antara PP Pordasi dengan Komunitas Pacuan Kuda ini yang harus menyelesaikan adalah Ketua Umum Pordasi sendiri dengan orang-orang itu yang notabene Pengurus dan Anggota Pordasi.

Bacaan Lainnya

“Gak bisa udah. Gak usah kita ikut-ikut karena Ketuanya (Ketum Pordasi) sendiri yang melakukan ini sendiri,” ujarnya, Jumat (6/5/2022).

Om Edwin, panggilan karibnya, mengaku mengetahui semua riwayat berdirinya Pordasi, tetapi dia tidak mau mengungkit masa lalu dan fokus pada masa sekarang ini.

Mengenai jadwal pacuan kuda pada tahun 2022, Om Edwin menjelaskan Komunitas Pacu sudah terlebih dulu membuat jadwal pacuan dari Januari 2022. Sedangkan PP Pordasi lanjut Om Edwin baru di bulan Maret 2022 mengumumkan jadwal pacuan.

“Jadi itu membuat jadwal pacuan yang di Jateng tidak mau berubah,” ungkapnya.

Seharusnya menurut Om Edwin, Ketum Pordasi harus mendatangi, bukan memanggil orang-orang tersebut.

“Saya tahu benar persoalan ini. Tetapi saya tidak mau buka kemana-mana,” ucapnya.

Dirinya dari dulu sudah mengatakan ke insan olahraga berkuda kalau syarat menjadi Ketum Pordasi itu harus menjadi Pengurus PP Pordasi dulu minimal 2 tahun.

“Ini belum menjadi Pengurus PP Pordasi sudah menjadi Ketum Pordasi,” sentilnya.

Selain itu juga menurut Om Edwin cara memerintah Ketum Pordasi saat ini seperti mengurusi klub miliknya saja.

“Gak bisa, karena Anggota Pordasi itu lain. Mereka punya kuda sendiri, kasih makan sendiri dengan biaya sendiri,” tandasnya mengingatkan.

Dia lantas memberikan contoh pacuan kuda Triple Crown Seri I di Pasuruan yang digelar PP Pordasi menurut penilaiannya juga tidak bisa diakui karena hanya diikuti oleh klub pacuan kuda atau Stable dibawah naungan Pengprov Pordasi Jatim saja.

“Jadi masalah yang sekarang ini sudah susah. Pordasi itu ke pacu kuda harus mengayomi,” tutupnya.

Sebelumnya, Rabu (4/5/2022) salah satu sesepuh olahraga berkuda Sherpa Manembu (69) juga ikut angkat bicara soal kisruh PP Pordasi dengan Komunitas Pacu.

Ia menilai PP Pordasi yang sekarang ini dalam pengertiannya kurang memahami dan tidak menjiwai seperti apa pemilik-pemilik kuda ini.

“Organisasi ini sebaiknya mengayomi saja. Jangan arogan dan tidak boleh menurut pokoknya, pasti tidak bisa,” tegasnya

Jadi intinya menurut Sherpa, PP Pordasi itu harus menjiwai dan mengayomi para pemilik kuda pacu sekaligus harus mengerti sejarah.

“Pordasi itu ada karena perkumpulan para pemilik kuda pacu. Kalau ini bisa diayomi, saya kira teman-teman pemilik kuda pacu ini adalah manusia-manusia intelektual yang non politis. Tidak perlu harus digertak – gertak,” ujarnya mengingatkan.

Sementara itu, muncul petisi bertajuk “Dukung Munaslub Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) PP Pordasi, Save Pordasi” melalui laman www.change.org yang dibuat oleh akun bernama Kang Kabayan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.