Lewat Program TJSL, PLN Bawa Mitra Binaan UMK Rambah Pasar Internasional

  • Whatsapp

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) berkomitmen untuk meningkatkan daya saing Usaha Mikro dan Kecil (UMK). Hal tersebut dilakukan melalui bantuan modal, program pembinaan, pelatihan dan peningkatan pemasaran hingga mampu menuju pasar global.

Dalam diskusi hari pertama PLN TJSL Fest 2021, disampaikan bahwa tantangan pengembangan UMK saat ini dan nilai penting bagi program pembinaan UMK yang mampu memberikan dampak bagi PLN sendiri.

Bacaan Lainnya

EVP Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Agung Murdifi mengungkapkan pembinaan UMK tidak hanya dilakukan melalui program-program TJSL PLN Peduli dan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN, namun juga dilakukan PLN lewat kolaborasi bersama Rumah BUMN dengan berbagai program unggulan antara lain UMK Go Modern, UMK Go Digital, UMKM Go Online, UMK Naik Kelas dan berbagai macam pelatihan untuk meningkatkan skill dari para pelaku UMK.

“Ada 8.391 UMK binaan di 29 rumah BUMN yang dibina oleh PLN. Melalui kolaborasi antara Rumah BUMN dan PLN maka harapannya banyak UMK yang bisa naik kelas bahkan mampu go global,” ujar Agung, Kamis (11/11).

Program TJSL yang dilakukan oleh PLN di namakan program PLN Peduli, disisi lain, PLN juga memiliki Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN yang merupakan lembaga pengelola ZIS (zakat, infak, shadaqoh) di lingkungan PLN yang nantinya ZIS tersebut akan di salurkan menjadi bantuan-bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, PLN juga melaksanakan program pengembangan UMK dari kementerian BUMN melalui pengelolaan Rumah BUMN.

Pada tahun 2021 hingga triwulan III PLN telah menyalurkan bantuan pinjaman kemitraan kepada UMK binaan yang tersebar di seluruh Indonesia melalui unit-unit PLN dengan nilai mencapai Rp 1,1 miliar untuk 43 mitra dan melaksanakan program TJSL pengembangan komunitas UMK sebanyak 360 program dengan nilai Rp 24 miliar.

Teddy Poernama, Koordinator Madya Penata Usaha BUMN, Kementerian BUMN mengapresiasi langkah PLN dalam membina UMK dalam program TJSL nya. Teddy menilai PLN merupakan salah satu BUMN terbaik dalam melakukan pembinaan UMK saat ini.

Ia mengungkapkan, Kementerian memiliki tiga indikator dalam menentukan sukses tidaknya penyaluran program TJSL dalam sektor UMKM. Pertama, Sukses penyaluran. Kedua, pembinaan dan Ketiga, nanti dalam hal pengembalian modal dan tingkat efektifitas dari penyaluran modal.

“Target dari BUMN mencetak mitra binaan sukses sehingga bisa menjadi influencer bagi masyarakat lainnya,” ujar Teddy.

Value creation ini juga jadi hal penting kata Teddy, sebab dengan program TJSL harapanya tidak hanya memberikan nilai tambah bagi UMK, tetapi bisa bermanfaat juga kepada perusahaan untuk meningkatkan daya saing dari dampak dari mitra binaan.

“Misalnya ada produk bagus, maka PLN bantu branding, kalau misalnya mereka bisa branding bagus kan PLN nya juga ikut ke branding kan,” ujar Teddy.

Di satu sisi, Teddy menilai PLN perlu mengembangkan UMK yang punya produk yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan PLN sendiri. Misalnya, PLN bisa menggaet dan membina UMK yang bergerak di bidang produksi kabel. PLN melakukan pembinaan, eskalasi produk dan juga penyesuaian produk sehingga produk UMK ini juga bisa diserap oleh PLN.

“Tak hanya kabel, produk apapun yang juga bisa diproduksi UMKM yang sesuai dengan kebutuhan PLN dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan. PLN kasih pembinaan untuk bisa memproduksi produk yang sesuai spesifikasi dari PLN. Ini multiplier effectnya tidak hanya naik kelas, tetapi bisa memberikan efisiensi bagi PLN dan meningkatkan TKDN bagi PLN,” tutur Teddy.

Salah satu mitra binaan Rumah BUMN Jambi yang dikelola oleh PLN, Pempek Balap Jambi adalah salah satu contoh mitra binaan yang mampu berkembang hingga ke pasar internasional. Pada tahun 2020 akibat pandemi Covid-19, Pempek Balap Jambi mengalami penurunan omzet yang kemudian melalui bantuan pinjaman kemitraan dan program pembinaan yang dilakukan, saat ini usaha Pempek Balap Jambi dapat merambah pasar internasional dan bahkan berhasil membuka outlet ke-3 di Mall WTC Jambi.

Pengelola Rumah BUMN PLN Jambi, Agung Yudha Prawira menyebutkan dalam membinaan UMK ini bukan tanpa tantangan, beberapa aspek tantangan pembinaan UMK. Pertama, dari sisi aspek pengenalan jenis produk. Tak sedikit UMK yang datang ke rumah BUMN untuk mendapatkan pembinaan tidak tahu pengetahuan tentang produk dari barang produksinya. Hal ini menjadi tugas PLN membantu UMK dalam pengenalan bisnisnya.

Tantangan berikutnya adalah masalah keuangan. “Dari perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) saja mereka masih kebingungan, lalu soal pemisahan keuangan penjualan dan rumah tangga sampai pada akses permodalan yang sulit didapat karena tak sedikit UMK yang masih kurang pengetahuan bagaimana sistem budgeting dan pengelolaan keuangan,” papar Yudha.

Selain itu, kata Yudha dari sisi penjualan dan promosi juga menjadi kendala UMK. Kemajuan teknologi tak banyak terserap di daerah, sehingga banyak UMK yang kebingungan cara memasarkan dan mengemas produknya untuk bisa bersaing di pasar.

“Kami membantu para UMK untuk bisa menggunakan teknologi dan juga meningkatkan pengemasan produk sehingga hasilnya bisa bersaing di pasar,” ujar Yudha.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *