Memperkenalkan Permainanan Tradisional Sondah di Era Digital Ala Mata Sosial

by -

SUKABUMI, RadarBangsa.co.id – Diera digital ini pemakain multedia dan dan audiovisual terus makin meningkat tajam, dari mulai kelas atas hingga masyarakat biasa, dari mulai perkotaan hingga pedesaan.

Serta permainan-permainam /game digital yang berbasis aplikasi dan teknologi canggih semakin menyebar dengan cepat kesetiap lavel pengguna smart phon.

Dampak dari kecangihan teknologi ini begitu luas dan cepat baik secara positif mau pun negatif. Secara sederhana dampak positifnya adalah banyaknya kemudahan-kemudahan dalam berbagai hal terutama mudahnya mengakses informasi yang kita inginkan.

Dampak negatifnya secara sederhana meningkatkan nya anggka kejahatan dan kasus-kasus sosial serta masyarakat cendrung di dunia nyata bergaya individualistis dan familiar di dunia maya.

Itu hanya dampak-dampak sederhana saja. Namun ada hal yang lebih penting lagi, ialah masa kanak-kanak tahun 80an dengan sekarang tahuna 2000an sangat jauh berbeda.

Menurut Dwi Wahyuningsing dari Mata Sosial, yang intens mengenalkan permaenan sondah kepada putrinya Raya Nur Aulia Al Ruslaniyah, jika tidak dikenalkan sejak dini pada anak-anak kita tentang permainan tradisional jaman dulu, dihawatirkan akan hilang permainan tradisonal yang sangat bagus itu untuk perkembangan psikologis dan motorik serta kesehatan anak-anak.

“Jaman dulu masa kanak-kanak penuh dengan interaksi sosial langsung dengan pedekatan permaianan tradisional. Seperti Sondah atau Engkle, Congklak, petak umpet, galah dan lain-lain. Nah, Sekarang jenis permainan sudah berbentuk digital dengan tokoh-tokoh robot dan lain-lain.

Permainan digital ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja, minimal yang punya smart phon dan quowota. terus sangat berbahaya juga radiasi hanphon bagi anak-nak kecil jika penggunaannya terus menurus atau dengan waktu yang lama.

Saya baca dari berbagak sumber sih begitu. Makanya saya batasi anak saya kalau pegang hanphon”. Jelas Dwi Wahyuningsih pada Media Ini. Saat ditemui di rumahnya. Cipatra, Rabu, 9/Oktober 2019.

Lanjut Dwi. ” Kalau permainan tradisional ini contoh Sondah (Sunda) atau bahasa jawanya Engklek. Selain mengasyikan dan seru, juga menyehatkan. Serta menumbuhkan interaksi sosial anak-anak secara direc atau langsung. Hal ini akan menumbuhkan kecerdasan serta kemandirian anak-anak yang tidak berisiko terhadap kesehatan anak itu sendiri.

Paling kalau lelah dan pegal ya istirah. Malah kesehatan dan metabolisme anak makin bagus jiga permainan tradisonal ini dengan waktu yang tepat dan teratur. Misal dilakukan pagi hari atau sore hari itung-itung pengganti olah raga.

Permainan Sondah atau Engklek biasanya dimainkan oleh anak-anak, terdiri dari dua bahkan bisa sampai empat atau lima orang pemainnya. Mayoritas permainan ini dimaenkan oleh anak perempuan, tetapi anak lelaki pun bisa dan banyak memainkan permaenan ini.

Kalau di Britania Raya disebut dengan permainan hopscotch. Permainan hopscotch tersebut sudah ada sejak jamam Kekaisaran Romawi.

Cara permainan ini adalah melompat dengan menggunakan satu kaki disetiap petak-petak/kotak-kotak yang telah digambar di tanah. Setiap peserta harus mempunyai gundu atau gacuk yang umunya dari bilahan atau pecahan genting tanah.

Pecahan genting tersebut di lempar kedalam kotak yang digambar ditanah tadi. Dari kotak pertama hingga seterusnya, dengan syarat tidak boleh menginjak kotak yang ada genting tadi. Dan ini berjalan satu putaran selama tidak melakukan pelanggaran.

Jika melakukan pelanggaran, misal kaki menginjak garis kotak, atau genting yang dilempar tepat di garis kotak, maka hal ini dianggap gagal. Dan harus nunggu antrian lagi. Inti permainannya seperti itu, bisa saja aturan ditempat lain berbeda.

Jika lulus dalam satu putaran tadi. Maka peserta berhak punya kotak yang digaris ditanah itu diibaratkan seperti kawasan atau lahan parkir atau kebun atau sawah pribadi.

Dimana kedua kaki bisa berpijak dikotak itu dan yang lain tidak boleh mengijak kotak itu.

Sudah kebayangkan permaenan tradisional ini. Menyehatkan, mendidik jiwa sportif, serta banyak mamfaat lainnya deh”. Imbunya.

Sementara ditempat yang sama putrinya Dwi Wahyuningsih yang bernama Raya Nur Aulia Al Ruslaniyah yang baru berusia 5,5 tahun ini sedang asyik loncat-loncatan bermain sondah atau Engklek terlihat sangat riang dan energik sekali. (U.Ruswandi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *