Mercy Ships Luncurkan Global Mercy, Rumah Sakit Terapung yang Terbesar di Dunia milik LSM

GARDEN VALLEY, TEXAS, RadarBangsa.co.id – Hari ini, Mercy Ships untuk pertama kalinya memperlihatkan pembuatan rumah sakit terapung (hospital ship) yang terbesar di dunia milik LSM. Rumah sakit (RS) terapung ini berencana untuk berlayar ke Afrika pada akhir 2021 dengan nama Global Mercy.

Mercy Ships, lembaga global yang berlandaskan keyakinan serta didukung pendonor dan relawan, telah menyediakan tindakan pembedahan kelas dunia kepada pihak-pihak yang membutuhkannya selama lebih dari 40 tahun, secara gratis.

“Global Mercy kelak menjadi keajaiban modern—RS terapung yang sepenuhnya dibuat berdasarkan pesanan, dan dilengkapi berbagai instrumen khusus, teknologi mutakhir, serta SDM yang sangat terampil di sebuah RS modern,” ujar Rosa Whitaker, President, Mercy Ships.

“RS terapung ini juga mengajak siapa pun untuk melayani dan menyediakan kesempatan bagi berbagai orang yang ingin memanfaatkan keahliannya guna mendatangkan dampak positif bagi layanan kesehatan global.”

Menurut “Lancet Global Surgery 2030 Report”, sebanyak 16,9 juta orang diperkirakan meninggal dunia setiap tahun akibat terbatasnya akses layanan tindakan pembedahan. Lebih dari 93% penduduk di Afrika Subsahara bahkan tidak dapat mengakses tindakan pembedahan yang aman dan tepat waktu.

Di tengah ancaman Covid-19 terhadap sistem layanan kesehatan global yang telah rentan, kita semakin membutuhkan layanan kesehatan dasar yang dapat menyelamatkan jiwa manusia, khususnya di negara-negara berpendapatan rendah hingga menengah.

Global Mercy akan menyediakan kondisi yang aman dan bersih di beragam negara Afrika, memberikan bantuan dan sumber daya yang mencakup beberapa dokter paling terlatih di dunia. RS terapung ini akan memiliki masa operasional hingga di atas 50 tahun. Selama itu pula, lebih dari 150.000 jiwa diperkirakan akan memperoleh manfaat, hanya dari tindak pembedahan saja.

Selain menyediakan tindakan pembedahan, Global Mercy akan dilengkapi dengan ruang pelatihan yang modern, termasuk laboratorium simulasi dengan virtual reality dan augmented reality, manekin, serta perangkat latihan lainnya, dan simulasi ruang perawatan pascaoperasi agar para peserta latihan dapat terbiasa dengan kondisi dan keterbatasan di wilayah lokal. Dengan demikian, mereka terlatih untuk menjalankan praktik-praktik terbaik di tengah kondisi yang terbatas.

Kapal berdimensi 174 meter dan berbobot 37.000 ton ini akan memiliki enam ruang operasi yang menampung lebih dari 600 relawan dari seluruh dunia. Mereka berasal dari banyak cabang keilmuan, termasuk ahli bedah, kru kapal, juru masak, guru, ahli kelistrikan, staf fasilitas, dan lain-lain. Kapal tersebut juga memiliki auditorium dengan kapasitas 682 tempat duduk, akademi, pusat kebugaran, kolam renang, kafe, dan perpustakaan—semuanya didesain untuk mengakomodasi hingga 950 kru ketika kapal bersandar di pelabuhan.

(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *