Naik KMP DBS III, Warga Kangean Sumenep Persoalkan Navigasi Kapal

  • Whatsapp

SUMENEP, RadarBangsa.co.id – Tiga hari yang lalu (Senin, 9/12), KMP. Dharma Bahari Sumekar III (DBS III) PT. Sumekar line, sempat tabrak karang dan kandas selama lebih kurang 2 jam di perairan Pulau Ra’as Sumenep. Pada saat itu kondisi kapal dalam keadaan miring, sehingga penumpang sempat panik khawatir kapal terguling dan tenggelam. Akibat dari kejadian tersebut, beberapa warga Kepulauan Kangean, khususnya penumpang kapal merasa trauma, enggan dan takut untuk naik (ikut berlayar) bersama KMP. DBS III lagi. Apa gunanya ada peralatan navigasi kapal, sehingga kapal masih tabrak dan kandas diatas karang sampai 2 jam lamanya. Kamis (12/12/2019).

Peralatan Navigasi Kapal

Pi’ie, penumpang kapal dan beberapa warga Pulau Kangean yang sedang berkumpul menceritakan kejadian ketika KMP. DBS III tabrak dan kandas di atas karang, di perairan Ra’as tiga hari yang lalu (9/12). Bunyi dentuman kapal saat tabrak karang, kapal mengalami kemiringan, dan aksi seorang penumpang memarahi kapten kapal karena dianggap lalai, serta cerita kejadian pelayaran sebelumnya bahwa KMP. DBS III pernah nyerobot atau melibas jaring milik nelayan yang sedang mencari ikan di perairan Pulau Kangean.

“Duumm..,bunyi kapal saat tabrak karang, kapal langsung goyang, penumpang banyak yang menjerit”, ungkap Napik salah satu penumpang kapal.

Bacaan Lainnya

Ali R, salahsatu penumpang, kepada media ini mengatakan takut untuk ikut berlayar (Naik) KMP. DBS III lagi. Selain khawatir kapal mengalami kerusakan (bocor) dibagian bawah kapal akibat membentur karang, dirinya menilai kapten kapal tidak hati-hati dan tidak mengutamakan keselamatan penumpang. Seharusnya kalau memang keadaan angin dan gelombang laut tidak memungkinkan kapal sandar, atau karena air sedang surut atau dangkal, kenapa kapal dipaksakan untuk masuk dan sandar di pelabuhan Ra’as tersebut.

“Saya meragukan kemampuan Kapten Kapal, dan Kelengkapan Navigasi Kapal DBS III”, keluhnya.

Zainal Arifin, Direktur operasional PT. Sumekar line, saat dikonfirmasi terkait informasi KMP. DBS III melibas jaring nelayan yang sedang mencari ikan di perairan kangean, mengatakan bahwa, belum ada laporan dari ABK maupun capten kapal.

“‘Yang ada cuma kapal kandas di perairan Ra’as, tapi alhamdulillah., aman!!”, ucap Zainal.

Zainal menambahkan bahwa, Kapal kandas di atas karang karena terseret arus dan kondisi air surut, dan bukan karena kelalaian.

Dalam penelusuran media ini, dikutip sebagian kecil dari situs www.maritimeworld.web.id – Peralatan – peralatan navigasi di kapal – maritime world.

Sesuai dengan peraturan International SOLAS 1974 dan Colreg (collison regulation 1972) seluruh kapal harus dilengkapi dengan peralatan Navigasi sebagai berikut :
A. Lampu Navigasi
B. Kompas magnent
C. Peralatan Navigasi lainnya
D. Perlengkapan Radio/GMDSS

E. Echo sounder.
Echo sounder merupakan peralatan electronic untuk mengetahui dan mengukur kedalaman laut antara lunas kapal dengan dasar laut, peralatan ini sangat dibutuhkan apabila kapal berlayar diperairan dangkal atau perairan yang mempunyai pasang surut yang tinggi. Peralatan ini dipasang dianjungan kapal, penunjukan dapat berupa grafik atau berupa angka digital.

F. GPS, fax dan Navtex

G. Radar kapal dan Inmarsat.
Radar kapal adalah merupakan alat elektronik untuk mendeteksi adanya obyek disekitar kapal dalam radius sesuai jangkauan radar 5 mil, 10, 20 bahkan 100 mil.

Unit radar terbagi dua bagian yang terdiri dari unit monitor yang terpasang dan dapat dibaca diruang anjungan, unit kedua adalah scanner merupakan peralatan yang dapat berputar dan terletak diatas ruang anjungan atau terpasang pada salah satu tiang kapal.

Monitor radar beragam, ada yang menampilkan warna hijau dan pada saat ini monitor radar sudah banyak yang berwarna. Pada monitor radar terdapat beberapa fasilitas yang sangat berguna, antara lain fasilitas plotting, tracking ataupun untuk menangkap signal khusus .

H. Engine Telegraph,
Engine Telegraph adalah alat khusus untuk berkomunikasi antara anjungan dan ruang mesin, alat ini untuk memberi isyarat secara visual kebutuhan operasi menjalankan kecepatan mesin induk, misalnya perintah start engine, slow engine, full speed ataupun stop engine.

Engine telegraph bekerja paralel antara anjungan dan kamar mesin, alat ini dilengkapi bagian yang menunjukkan konfirmasi pelaksanaan perintah yang dapat dibaca di anjungan dan kamar mesin, alat ini juga dilengkapi alarm apabila terjadi kesalahan respon.

Engine telegraph dipersyaratkan untuk kapal-kapal yang memiliki notasi sesuai klasifikasi, sebelum adanya engine telegraph bahkan sekarang masih digunakan adalah sistim voice tube, suatu tabung untuk meneriakan perintah antara anjungan dan kamar mesin.

Telepon Internal adalah alat untuk berkomunikasi dua arah antara anjungan dan ruang-ruang dikapal atau alat komunikasi antar ruangan. Untuk komunikasi antar anjungan dengan kamar mesin dipasang telepon khusus. Telepon ini harus dipasang di ruang anjungan kamar kapten, KKM dan Perwira dek, ruang salon, ruang kontrol kamar mesin, ruang mesin, dapur, ruang steering gear dan ruang lain yang penting.

Selain untuk komunikasi, sistim telepon dapat digabung dengan peralatan panggil atau public addressor, yang digunakan untuk memanggil atau memberi perintah secara terbuka melalui pengeras suara diseluruh kapal. Selain telepon Internal, pada saat ini sudah banyak kapal yang dilengkapi dengan telepon satelit, telepon ini menggunakan fasilitas satelit inmarsat. Namun pada saat ini biaya telepon ini masih cukup mahal sekitar USD 20 per menit.

Referensi dari berbagai sumber :
– Lecture Notes “Sistem dan Perlengkapan Kapal”
– SOLAS 1974 dan COLREG 1972
– Sistim dan Perlengkapan Kapal – Soekarsono NA.
– Bureau Veritas Rules and Regulation
– Navalport.

Kamis, 12/12/2019. (Ong)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *