Pak Tris : Penghambat Tahajjud Itu Orang Tidak Bertuhan

by -

KEDIRI, RadarBangsa.co.id – Setelah Komisi A DPRD Kabupaten Kediri mengatakan bahwa kegiatan sholat malam yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kediri menghabiskan anggaran besar dari APBD setempat, akhirnya Ketua TP3 (Tim Pertimbangan, Percepatan dan Pembangunan) Kabupaten Kediri, Ir. H. Sutrisno, MM, angkat bicara.

Menurut mantan Bupati Kediri periode 2000-2010 yang dikonfirmasi pada kegiatan Sholat Tahajjud bersama ribuan warga di wilayah Kecamatan Pagu, Jum’at (8/11), seusai Sholat Subuh di Mushola Al Ikhlas Balai Desa Bendo, bahwa orang yang mengatakan kalau kegiatan sholat malam tersebut menggunakan APBD mencapai Rp. 1.4 milyar, hal itu adalah fitnah.

“Dalam kegiatan sholat malam ini saya tidak pernah menerima gaji dan tidak pernah mau digaji. Bahkan saya malah mengeluarkan uang pribadi. Kegiatan Sholat Tahajjud di Pendapa Kabupaten Kediri yang dilaksanakan setiap malam Jum’at itu juga saya biayai sendiri dari uang perusahaan pribadi saya. Jadi kalau dikatakan menghabiskan APBD besar, itu fitnah,” katanya seraya mengatakan terpaksa hal ini diungkapkan agar semua mengetahui yang sebenarnya.

Pencetus Kelompok Bimbingan Belajar Sholat (KBBS) ini juga menjelaskan, sebenarnya orang yang menyebar fitnah bahwa kegiatan Tahajjud menggunakan APBD itu adalah munafik, dan hanya menghambat orang beribadah saja.

“Orang yang bilang kegiatan ini menggunakan APBD seperti itu adalah orang munafik. Mereka tidak tahu sendiri kok bisa bilang begitu. Berarti hanya menghambat orang beribadah. Orang yang menghambat Tahajjud itu adalah orang yang tidak bertuhan. Orang kok tidak takut kepada Tuhan,” ucapnya.

Beliau juga menyampaikan, jaman sekarang banyak manusia yang munafik, bisa ngomong tetapi tidak bisa menjalaninya. Mayoritas mereka mendahulukan politik, bukan urusan kepada Allah SWT. Mendahulukan kepentingan duniawi, bukan memperjuangkan perintah-Nya.

“Saya sangat kasihan dengan makhluq yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahkan ada Tahajjud seperti ini, sudut pandangnya politik. Ini sebenarnya jiwanya mengerikan. Mereka juga memfitnah bahwa Tahajjud anggarannya besar, dan ditulis di media. Apa tidak takut dengan Gusti Alloh,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala.

Ketika ditanya kegiatan Sholat Malam keliling desa tersebut dilaksanakan berapa bulan sekali, suami Bupati Kediri, dr. Hj. Haryanti Sutrisno mengatakan, kegiatan di desa-desa ini dilaksanakan dua hari sekali, kecuali ketika dirinya sedang ada acara ke luar kota.

Ditambahkannya, kegiatan Tahajjud keliling ke desa-desa ini merupakan perjuangan untuk mengajak berbuat baik kepada orang lain sebagaimana perintah Allah SWT. “Kalau bukan karena menjalani perintah Allah SWT, ya saya tidak perlu datang ke desa-desa pada malam hari untuk mengajak Tahajjud, tetapi cukup sholat di rumah saja. Menurut hemat saya, hidup itu bukan hanya untuk kepentingannya sendiri, tetapi justru yang utama selama hidup harus memperjuangkan perintah Allah SWT supaya juga dijalani oleh orang lain,” urainya.

Pak Tris, sapaan akrab Ir. H. Sutrisno, MM menambahkan, saat melakukan Tahajjud dengan mengajak tetangga atau siapa saja, hendaknya diniati untuk berjuang. Kemudian niat kedua adalah untuk dirinya sendiri yang memang ingin menghadap kepada Allah SWT dengan Tahajjud,” urainya.

Ir. H. Sutrisno, MM juga berpesan agar warga masyarakat membentuk jamaah-jamaah Sholat Tahajjud seminggu atau dua minggu sekali, untuk mengingatkan supaya nantinya juga terbiasa menjalaninya di rumah masing-masing.

“Kalau kita hanya melakukan sholat sendiri tanpa mau mengajak orang lain, itu berarti hanya mementingkan diri sendiri supaya dekat dengan Allah SWT, tetapi orang lain dibiarkan. Padahal mengajak orang lain itu adalah bentuk taat terhadap perintah Allah SWT,” terangnya.

Pria yang hobby makanan khas Kediri (Sambal Tumpang) ini juga menyampaikan, apabila Bupati Kediri 2020 nanti tidak mau mengajak masyarakat untuk bertahajjud, maka hal ini merupakan sebuah kecelakaan atau musibah.

“Kalau bupatinya nanti tidak mau mengajak Tahajjud, kira-kira camat dan perangkat desanya juga tidak, bahkan tidak ada yang mengingatkan untuk melakukan sendiri, berarti hubungan kita dengan Allah SWT itu semakin jauh. Karena jiwa untuk mengajak orang lain berbuat baik itu menurun,” kata Sutrisno.

Maka dari itu, beliau mengajak untuk berdo’a agar pada tahun 2020 nanti tidak bertemu bupati yang tidak mau mengajak Tahajjud. “Coba bayangkan, ketika kita sudah terbiasa untuk bertahajjud kemudian terputus, itu adalah kecelakaan dan musibah. Padahal seharusnya, semakin hari kita harus semakin dekat dengan Allah SWT,” ungkapnya.

Ketika ditanya apakah menantu Rahmadi Yogiantoro atau anak keduanya, Eggy Adityawan yang digadang-gadang masyarakat untuk melanjutkan sebagai bupati 2020 jadi mencalonkan diri, suami Bupati Kediri, dr. Hj. Haryanti Sutrisno ini dengan tegas menyatakan, mereka tidak akan mencalonkan menjadi bupati, karena masih sibuk mengurus perusahaan banyak.

Pak Tris, panggilan akrab Ir. H. Sutrisno, MM ini mengaku dirinya mendukung pasangan Drs. Mujahid, MM dan Drs. Eko Ediono, M.Si yang telah mendaftarkan diri di DPC PDI Perjuangan untuk menjadi bupati pada Pilkada Serentak 2020.

“Pak Eko itu keluarga saya. Makanya saya mendukung Pak Mujahid dengan Pak Eko Ediono, karena mereka merupakan pasangan yang bermoral. Kalau Kabupaten Kediri dipimpin oleh orang tidak bermoral, nanti rakyatnya akan remek,” tuturnya.

Ditambahkan Pak Tris, pembangunan di Kabupaten Kediri selama ini berjalan dengan pesat, dari daerah yang tidak begitu dilihat oleh daerah lain, sekarang sudah menjadi perhatian luas, bahkan internasional dengan monumen Simpang Lima Gumul nya, dan sebentar lagi juga akan ada pembangunan Bandara yang lebih besar dari Bandara Juanda.

“Makanya harus ada yang meneruskan dengan benar, agar Kabupaten Kediri semakin baik dan semakin maju,” pungkasnya. (Jay)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *