Pemdes Purabaya Cianjur prihatin kepada anak-anak yang tidak bisa Sekolah

  • Whatsapp
Kades Purabaya, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat MIMI ROSMINI dapat julukan dari masyarakat sebagai Srikandi Kades Pembangunan desa Purabaya terramah dan tercantik sepanjang sejarah desa Purabaya. [AE N]

LELES, CIANJUR, RadarBangsa.co.id – Pemerintah desa Purabaya, Kecamatan Leles, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat, salah seorang Srikandi kades di Kabupaten Cianjur Mimi Rosmini kepada awak media menceritakan tentang keprihatinannya terhadap anak-anak sekolah yang tidak kunjung bisa belajar secara tatap muka di karenakan pandemi Covid-19, walaupun di desanya berstatus zona hijau dari pandemi Covid-19. Selasa (16/03/2021).

Jumlah penduduk lebih 3.000 jiwa, dan lebih 900 Kepala Keluarga (KK), yang tersebar di 19 Rukun Tetangga (RT), 5 Rukun Warga (RW), dan 5 dusun dengan status desa masih tercatat sebagai desa tertinggal, dan sedang berusaha menuju desa berkembang.

Bacaan Lainnya

Mengakui sangat prihatin dengan kondisi anak-anak sekolah yang ada di desanya dalam mendapatkan pelajaran atau pendidikan dengan belajar secara daring.

Bahkan para guru dan tenaga pendidik telah berupaya dengan maksimal menyesuaikan dengan aturan yang berlaku pada masa pandemi yaitu belajar secara prokes, namun sepemantauan kita dari segi belajar daring itu kurang bermanfaat di desa Purabaya. Jelas Buk Kades.

Alasan kami mengatakan demikian karena ada salah pemanfaatan HP androit itu oleh anak-anak, yang sebelumnya diharapkan dimanfaatkan untuk belajar, namun kebanyakan digunakan dalam hal lain atau main-main.

Ada juga sebagian kita lihat anak-anak kita itu mengendarai motor sambil memainkan HP, akhirnya kecelakaan.

Kita sangat prihatin sekali, sehingga kita selalu bertanya-tanya, kapanlah pandemi covid-19 ini berakhir, sehingga dapat menstabilkan pendidikan anak-anak.

Kita juga sangat khawatir ketika suatu saat nantik anak-anak kita di desa ini telah tamat sekolah maka disiplin ilmu yang mereka miliki itu jurusan covid-19 dan bagaimanalah atas penguasaan ilmuya?

Disamping itu, belajar melalui daring yang dilakukan oleh anak-anak di desa kita ini juga mengalami berbagai gangguan sinyal, dan kadang-kadang mereka kabur sana, kabur sini untuk mencari sinyal.

Persoalan lainnya adalah keluhan-keluhan para wali murid di antaranya adalah mengenai data atau paket data belajarnya tidak mencukupi, walaupu pemerintah telah memberikan bantuan paket belajar, mungkin ada penyalahgunaan hp sehingga paket itu kurang.

Sedangkan untuk mendapatkan hp androitnya para wali murid atau orang tua masih mampulah membelinya.

Intinya, belajar daring dengan tatap muka total bedanya sangat jauh. Jelas Buk kades yang dikenal oleh masyarakatnya sebagai kades terramah dan tercantik sepanjang sejarah desa Purabaya ada.

Bagi sebagian anak-anak yang tidak bisa belajar dengan daring atau memakai androit dengan berbagai alasan, para guru di sekolah kita melakukannya sengan metode lain, seperti; belajar berkelompok dengan jumlah terbatas serta dengan prokes

Adalagi guru keliling, dimana para guru itu berkeliling untuk dapat mengunjungi para siswanya belajar berkelompok tersebut sambil memberikan matapelajaran dan mengumpulkan tugas-tugas sebelumnya.

Dengan nada suara parau Bu Kades mengungkapkan keprihatinannya sambil bertanya, walaupun tidak ada jawaban pasti, kapanlah pandemi ini berakhir agar anak-anak bisa belajar dengan stabil.

Dan semoga Allah mendengarkan dan mengabulkan do’a-do’a para hambanya sehingga kehidupan ini normal kembali seperti sedia kala.

(AE. Nasution)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *