Penerapan Mindful Parenting dan G21H Ubah Kebiasaan Konsumsi Susu Kental Manis oleh Balita

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Sebanyak 30 balita mengikuti program Mindful Parenting dan G21H untuk mengubah kebiasaan konsumsi susu kental manis yang diselenggarakan oleh Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama Komunitas Menata Keluarga (EMKA). Dari keseluruhan balita tersebut, sebanyak 29 balita telah berhasil melepaskan ketergantungan terhadap konsumsi susu kental manis sebagai minuman harian.

Mindful Parenting merupakan metode pengasuhan yang fokus pada kesadaran orang tua dalam mengasuh anak. Sementara Gerakan 21 Hari (G21H) merupakan upaya pembiasaan konsumsi makanan bergizi keluarga yang mulai dikampanyekan YAICI. Gerakan ini didasarkan pada teori Maxwell, dimana sesuatu akan menjadi kebiasaan apabila dilakukan secara berturut-turut selama 21 hari. Penerapan mindful parenting dengan didukung oleh G21H diharapkan dapat mengubah kebiasaan balita yang sudah terbiasa mengkonsumsi susu kental manis.

Bacaan Lainnya

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan terdapat 30 balita yang tersebar di 3 provinsi yang menjadi pilot project G21H. “Sebagai langkah awal, kami mendampingi orang tua dari 30 balita di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk menerapkan pola pengasuhan mindful parenting untuk mengubah kebiasaan konsumsi susu kental manis pada balita. Hasilnya, sebanyak 29 balita telah berhasil merubah kebiasaan konsumsi kental manis,” jelas Arif.

Lebih lanjut, Arif menjelaskan program G21H Mengubah Kebiasaan Konsumsi Susu Kental Manis dengan metode Mindful Parenting ini dimulai sejak 19 November – 5 Desember 2021. Pemilihan keluarga yang mengikuti program adalah adalah orang tua dengan balita yang terbiasa mengkonsumsi susu kental manis sebagai minuman susu. Setiap keluarga didampingi oleh kader yang telah mengikuti pelatihan Mindful Parenting.

“Peserta yang mengikuti program adalah keluarga-keluarga yang atas kemauan sendiri ingin mengubah kebiasaan anak yang sudah terbiasa mengkonsumsi susu kental manis dan mau berkomitmen mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari workshop, mengisi catatan harian perkembangan anak, menerapkan mindful parenting dan bersedia untuk terbuka dan jujur terhadap kader yang mendampingi. Peserta juga berkesempatan untuk berkonsultasi langsung dengan pakar mindful parenting yang menjadi pendamping program serta mendapat paket alat edukasi seperti alat ukur tinggi badan, buku cerita dan papan permainan edukasi tentang gizi. Dengan cara ini, orang tua dan anak sama-sama mengalami banyak kemajuan, ” papar Arif.

Melly Amaya Kiong, Founder Komunitas Menata Keluarga sekaligus praktisi mindful parenting yang mendampingi kader selama program memberikan apresiasi atas program G21H . “Kolaborasi konsep Mindful Parenting dengan pendampingan oleh kader untuk mewujudkan kebiasaan makan yang baik pada balita adalah sesuatu yang baru. Kedepannya, metode ini dapat diterapkan untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik pada anak dan keluarga,” jelas Melly.

Nyai, orang tua dari Arka (usia 2 tahun) mengaku keluarganya mengalami banyak perubahan terutama dalam hal konsumsi makanan bergizi sejak mengikuti Mindful Parenting G21H bersama YAICI. “Arka dulu mengkonsumsi susu kental manis tiga kali sehari, sekarang sudah lepas dari kebiasaan konsumsi susu kental manis. Arka juga terlihat lebih sehat dan ceria, makan lebih teratur dan banyak minum air putih. Di awal program memang terasa sulit, tapi lama-kelamaan aktivitas mindful parenting ini jadi menyenangkan. Semoga ibu-ibu lain yang mengalami problem seperti saya dapat berkesempatan mengikuti program ini,” harap Nyai.

Lina Marlina kader yang mendampingi keluarga Nyai juga berharap G21H Mindful Parenting dapat dilanjutkan dengan menyasar lebih banyak masyarakat. “Kegiatan ini sangat bermanfaat karena sesungguhnya parenting adalah ilmu yang tidak diajarkan di bangku sekolah, namun kita harus belajar dari pengalaman. Melalui program ini, selaku kader saya pun ikut belajar, menata kembali keluarga supaya menjadi lebih harmonis. Selain itu, materi edukasi yang digunakan sangat membantu sehingga mendorong kreatifitas kita sebagai orangtua memberikan edukasi tanpa harus memaksa dan menghakimi, melainkan dengan penuh kasih syg dan keceriaan,” jelas Lina.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.