Proyek Rabat Beton dari DBHCHT di Lumajang, Diharapkan Harus Sesuai dengan Harapan Petani

Proyek Rabat Beton (DBHCHT) dikerjakan oleh kelompok tani "Karya Tani" di Desa Yoso Kidul.

LUMAJANG, RadarBangsa.co.id – Proyek rabat beton di Desa Yosowilangun Kidul, Kecamatan Yosowilangun Kabupaten Lumajang Jawa Timur, yang sumber dananya dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) diharapkan sesuai dengan harapan petani.

Proyek Rabat Beton tersebut dikerjakan oleh kelompok tani “Karya Tani” dengan panjang 450 meter. Dan angaran dananya Rp 200 JT.

Bacaan Lainnya

Pantauan Radarbangsa.co.id, Senin (28/11) hingga Kamis (1/12), dilokasi proyek tidak ada kegiatan (tidak ada tukang). Sehingga terkesan ditinggalkan oleh pekerjanya (tukangnya).

Ketua Kelompok Tani (Poktan) “Karya Tani”, Sugito, dikonfirmasi Radarbangsa.co.id, di kediamannya, Kamis (1/12) menepis adanya proyek yang terkesan tidak dikerjakan tersebut. “Insyaallah akan terealisasi, karena dananya sudah ada di saya, masuk di rekening kelompok. Sekarang tukangnya kan masih menyelesaikan di daerah lain. Insyaallah Minggu depan mulai dikerjakan lagi. Bukan mangkrak, memang tukangnya itu ada proyek lain, yang mengelola itu kita, jadi kita yang tahu keuangan”, ungkap Sugito.

Dikatakannya, kalau proyek tersebut akan tepat waktu. “Kita ditarget selesai pada tanggal 23 Desember. Insyaallah sebelum tanggal itu sudah selesai. Sekarang sudah 50 persen,” kata Sugito.

Sementara itu, Kabid Sarana Prasarana dan Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Lumajang, Eko Sugeng Prasetyo ketika ditemui Radarbangsa.co.id di kantornya, Kamis (1/12) menyampaikan, bahwa harus selesai sesuai dengan harapan petani.

“Karena jalan tersebut memang untuk petani, maka harus selesai sesuai dengan harapan petani,” harap Eko Sugeng Prasetyo.

Selain itu, Eko berharap, kalau sudah selesai, nantinya masyarakat harus turut merawat. “Katakanlah semisal target kualitasnya lima tahun, kalau memang dirawat, maka akan bisa lebih dari lima tahun”, jelasnya.

Karena, kata Eko, untuk mendapatkan kegiatan yang sama lagi itu tidak mudah, “angel”.

Masalahnya, sebut Eko, yang butuh banyak. “Jadi harapan kita, tetap ada peran serta dari masyarakat itu sendiri untuk merawatnya”, pungkas Eko.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *