PTM di SMPN 10 Cidaun, Wujudkan Cianjur Herd Imunity

  • Whatsapp
Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMPN 10 Cidaun Bambang Hermanto. S.Pd.i bersama jurnalis RadarBangsa.co.id AE Nasution

CIANJUR, RadarBangsa.co.id – Efektivitas Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Pasca Pandemi Covid-19 dan peran serta pihak Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 10 Cidaun dalam mewujudkan Cianjur Herd Immunity pantas untuk ditiru.

Kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 10 Cidaun Muhammad Soleh, S.Pd. M.Pd melalui Wakil Kepala sekolah Bidang Kurikulum Bambang Hermanto, S.Pd.i kepada jurnalis RadarBangsa.co.id di ruang tamu SMPN 1O Cidaun, Selasa (17/11/2021) menyampaikan; “berdasarkan aturan dan peraturan pemerintah perihal pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) menjadi angin segar sekaligus optimisme dalam dunia pendidikan yang selama ini tidak bisa terlaksana dengan baik karena pandemi.
Dengan keluarnya aturan serta peraturan pemerintah tersebut bisa menjadi acuan para pendidik dan tenaga kependidikan bahwa pembelajaran tatap muka akan lebih optimal dibandingkan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Bacaan Lainnya

PJJ tersebut dirasakan banyak kendala teknis seperti tidak terpenuhinya kebutuhan jaringan internet di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) membuat pendidikan di lingjungan SMPN 10 Cidaun mengalami kendala untuk melaksanakan pembelajaran secara daring ditambah lagi para siswa tidak memiliki android. Maka, tak heran jika di dengar ada sejumlah guru yang tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka dengan cara keliling secara bergantian ke rumah siswanya.

Sekolah yang dibuka membuat kebijakan yang berbeda dengan saat sebelum pandemi Covid-19. Proses pembelajaran diadakan dari pukul 07.30 sampai dengan 12.00 wib. Pembelajarannya di Up Plus seperti belajar 2 hari kelas A, dan 2 hari kelas B, kalau ada lagi kegiatan-kegiatan lain maka ditambah lagi satu hari lagi.

Jumlah siswa yang hadir dalam satu sesi kelas hanya boleh 50%. Sekolah juga diminta untuk memberlakukan rotasi atau shift untuk mencegah penyebaran Covid-19 di sekolah. Protokol kesehatan seperti pemakaian masker juga harus tetap diwajibkan.
Kesehatan para siswa sebanyak 5 rombongan belajar (rombel) diantaranya, kelas VII satu rombel, klas VIII dua rombel, dan klas IX dua rombel, jumlah secara keseluruhan 128 orang. Dan 11 orang pendidik, dan tenaga kependidikan sangat diperhatikan dalam proses pembelajaran tatap muka pasca pandemi ini. Hal ini penting agar tidak ada penyebaran virus korona yang mengancam banyak jiwa atau yang disebut dengan klaster baru. Semoga ke depan dunia pendidikan kembali berjalan normal dan bisa melakukan proses belajar mengajar secara optimal.

“Sebagai tambahannya para siswa/siswi ada tugas belajar dirumah masing, oleh sekolah memberikan buku paket, karena kondisinya di desa, ada yang belajar secara berkelompok dan ada yang belajar mandiri.

Berdasarkan anjuran Bupati Cianjur H. Herman Suherman, syarat Pembelajaran Tatap Muka (PTM) itu adalah; Pertama, sekolah berada di kecamatan dengan zona kuning atau hijau. Kedua, Infrastruktur pembelajaran dan prokes sudah siap dan tersedia. Ketiga, Guru-gurunya sudah divaksin semua. Keempat, Ada surat izin dari orang tua.

Pasilitas-pasilitas penunjang pembelajaran semuanya difungsikan untuk mendongkrak ketertinggalan, wali siswa bersama komite sangat mendukung sekali. Paparnya dengan penuh rasa syukur kepada Allah atas PTM kembali digelar.

Sebelum pandemi, SMPN 10 Cidaun ini memiliki prestasi-prestasi, baik orestasi dibidang olah raga, berprestasi dalam perlombaan bahasa Indonesia, perlombaan pidato sering ikut dan Alhamdulillah sering dapat juara. Kenangnya dengan penuh bangga dan syukur serta situasi betul-betul normal kembali, sekolah berprestasi kembali.

Sementara untuk inovasi-inovasi dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) belum banyak diterapkan pada PTM pasca pandemi ini kecuali bagaimana siswa “giat belajar saja”.

Untuk mewujudkan Cianjur herd immunity, atau Cidaun herd immunity sekolah mengajak para wali murid agar divaksin segera, sebagaimana syaratnya sekolah bisa melakukan PTM dengan harus semua guru-guru divaksin. Ajaknya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *