JOMBANG, RadarBangsa.co.id – Siapakah yang mampu dan pantas memimpin Desa PUNDONG kedepan…? Mungkin inilah saat yang paling menentukan nasib sebuah desa ketika semua kepala dan suara berteriak lantang untuk dituruti. Kita butuh seorang pemimpin yang selalu memberi cahaya kepada kejayaan warganya, menuntun gelapnya jalan yang selama ini seperti hanya ada dalam sebuah mimpi.
Kita rindu pemimpin yang tak terbelit dengan segala urusan dan kepentingan dunianya yang menuntut agar perutnya diisi kerakusan, mulutnya dicekoki dengan dana desa yang seharusnya menjadi warisan anak generasi. Memimpin adalah amanah yang harus menepati janji-janjinya.
Citra yang buruk tak bisa dipoles dengan menumpuk hutang dan korup disana sini dengan dalih membangun desanya, sebab bisa menciptakan kondisi ekonomi rakyatnya yang semakin carut marut, menjadikan warganya pada geliat permusuhan yang tiada henti dan membuat irama kesejukan yang semakin berisik.
Pemimpin yang tak memiliki kemampuan hanya akan menghasilkan persoalan2 baru pada masyarakatnya.
Memimpin itu kompetensi, yang tidak hanya masuk dengan kaki yang penuh lumpur kedalam selokan kemudian berteriak…”kita butuh deep tunnel” tanpa melakukan analisa dan kajian sehingga ia hanya bisa berkata tanpa bisa berpikir.
Memimpin itu adalah intelektualitas dan integritas. Hal itu membuktikan jika ia telah gagal memahami segala bentuk permasalahan desanya karena ketidakmampuan dalam menjangkau akar permasalahan desa yang sesungguhnya.
Mungkin…..Idialisme yang diteriakkan dan diagung-agungkan seakan semakin tak berarti apa-apa karena Sang Pemimpin semakin sibuk mempersiapkan dan mempertahankan kursi kekuasaannya dengan berjuta-juta citra dan polesan. Sementara hak2 warga kian tergerus kepentingan singgasana. Dan kini….jaman telah berteriak lantang memanggil kita untuk bertarung dalam geliat peradaban yang semakin gila dan beringas.
Generasi Milenial memimpikan pemimpin yang berani melawan pemimpin korup yang akan menggadaikan dan menjual warganya sendiri.
Sosok pemimpin musti memiliki kekuatan menggenggam erat idiologinya meski berjuta-juta gemuruh suara setan berbisik menjanjikannya. Kita mendamba pemimpin yang selalu setia berdiri tegak ketika semua mengkhianati dan meninggalkannya.
Seorang pemimpin yang tidak pernah sakit hati dan sepi dikala ia sendiri. BRAVO ABBY KRISNAWAN. Semoga. (Bd)