Semua Berhenti untuk Mengatur Posisi, Bukan Berhenti untuk Menikmati

Subroto

Oleh : Subroto

Pasca wabah pandemi ini, tataran baru akan dirasakan oleh beberapa lapisan masyarakat, utamanya kalangan terbawah dan layer di atasnya. Bagi kalangan menengah ke atas, ini hanya merupakan sebuah pemberhentian sementara di sebuah rest area.

Bacaan Lainnya

Yang dimana mereka akan segera bergegas melanjutkan perjalanan tanpa hambatan yang berarti, baik secara kesiapan diri maupun financial. Namun, hal berbeda akan sangat terasa pada sektor terbuncit, yang dimana bagi mereka-berhenti tidak sama dengan beristirahat.

Ibarat sebuah mesin, kalangan terbawah adalah sebuah mesin yang beroperasi full manual, yang dimana ketika mesin terlanjur off, butuh tenaga ekstra untuk kembali menyalakan. Berbeda dengan lapisan menengah yang bermesin semi otomatis dan berbahan bakar cukup.

Berbeda lagi dengan apa yang dirasakan oleh elit, manusia yang berada di lapisan paling atas, baik dari struktur ekonomi maupun sosial kemasyarakatan.

Mereka dalam menjalankan sebuah roda perekonomian sudah menggunakan mesin full otomatis, bahkan terdapat sebuah fitur yang menunjukkan indikasi-indikasi tertentu ketika terdapat kendala. Indikator tersebut mampu memberi arahan terhadap sang operator dalam menjalankan mesin tersebut.

Sebuah ke vacuman bukanlah murni sebuah hambatan, bahkan ke vacuman tersebut justru bisa menghasilkan sebuah efisiensi bagi para taipan besar. Tentu, tetap dibutuhkan sebuah dalih pembenar agar apa yang dilakukan tidak disebut amoral oleh perspektif umum.

Langkah efisiensi dengan cara pengurangan tenaga kerja adalah salah satunya, di samping kemungkinan salah satu konsesi berupa pinjaman murah dan pemotongan pajak dari pemerintah.

Dengan berubahnya sebuah tatanan lama, tentu ada hal yang hilang dan tergantikan dengan hal yang baru. Dari hilangnya tatanan lama, tidak perlu ambil pusing.

Tapi dengan munculnya tatanan baru, sama dengan munculnya sebuah kesempatan memperoleh kekayaan tambahan. Tentu ini merupakan sebuah peluang yang harus segera di eksekusi.

Masalahnya, tidak semua orang dapat mengambil kesempatan ini kecuali orang pada level-level tertentu. Sebut saja kelompok yang padat modal dan tentu punya akses politik yang ciamik.

Berkaca pada pengalaman pasca krisis ekonomi 1998, hampir semua taipan besar justru bertambah kaya, meski digembar-gemborkan saat itu Indonesia merupakan negara di Asia tenggara yang paling parah terdampak krisis keuangan tersebut.

Namun nyatanya, selalu ada jalan bagi mereka memperoleh kekayaan baru dengan memanfaatkan kelengahan dan kadang juga niat busuk elit penguasa.

Hari ini bukan krisis ekonomi, tapi sebuah pandemi kesehatan yang akan berdampak luar biasa melemahkan bagi kalangan bawah. Mereka butuh diberi stimulus ekstra untuk bisa mengangkat kembali mereka kemedan pertempuran.

Jangan salah mendiagnosis hanya dengan memandang dari permukaan. Perusahaan besar Jangan selalu diberi keistimewaan yang bahkan disitu cenderung membodohi pemerintah.

Mereka selalu mendapat akses modal yang jauh lebih mudah dan murah, belum lagi konsesi-konsesi yang didapat secara cuma-cuma dan lisensi-lisensi sebagai alat monopoli.

UMKM dan pekerja non formal dalam situasi ini bisa dibilang paling merasakan dampak dan hampir tidak dapat bertahan. Padahal mereka lah yang menyumbang sekitar 93% (data BPS) tenaga kerja dalam negeri. Tapi keberadaan mereka tidak pernah dianggap dan mendapat perlakuan yang layak.

Pengusaha besar yang nyatanya hanya menyediakan 7% lapangan pekerjaan, dan bahkan keberadaan mereka jika kaji secara jujur tidak memberikan dampak kesejahteraan ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Karena pada dasarnya kekayaan hanya dinikmati oleh segelintir keluarganya, justru mendapat hak istimewa dalam segala hal.

Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Hukum (S2) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *