Siapa Sangka Anggota DPR RI Ini Dahulunya Seorang Kuli

KEDIRI, RadarBangsa.co.id – Nasib manusia memang suatu rahasia Tuhan Yang Maha Esa, sehingga siapa saja tidak bisa mengetahui apa yang bakal terjadi nanti. Banyak sudah contoh ada orang kaya raya namun dalam hitungan detik sudah jatuh miskin, atau sebaliknya yang awalnya miskin tiba-tiba menjadi kaya.

Lika liku kehidupan manusia bisa saja berbeda-beda, namun satu hal kesamaanya adalah setiap yang berusaha dengan sungguh-sungguh maka akan menuai hasil sesuai yang diinginkan.

Bacaan Lainnya

Seperti halnya perjalanan hidup Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Dapil Jawa Timur VI, Nurhadi, S.Pd, yang sering blusukan ke desa-desa dan memberikan bantuan kepada janda tua maupun warga kurang mampu, sempat viral menjadi perbincangan publik.

Bahkan tidak sedikit ada orang mempertanyakan, apakah wakil rakyat yang dikenal sebagai Panglima Yayasan Laskar Panji Peduli atau Panglima Nurhadi ini pernah mengikuti agenda di gedung parlemen atau tidak, karena dirinya lebih sering terlihat blusukan ke pelosok desa.

Namun siapa sangka ketika ditanya wartawan terkait isu bak tidak pernah ngantor tersebut saat kegiatan Media Gathering dengan Insan Pers Kediri, Jum’at sore, 29 April 2022, Nurhadi, tidak terlihat seperti seorang politikus, tetapi malah dengan polos mengakui bahwa dirinya memang sering berada di kampung-kampung.

Kegiatan Media Gathering yang dilaksanakan di Markhas Kuliner Simpang Lima (MKS5) Gumul, Kabupaten Kediri, dengan dihadiri Wakil Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Kediri Bidang OKK, Khusnul Arif, S.Sos, dan Sekretaris Satgas NasDem Peduli Kabupaten Kediri, Bashlul Hazami, SEI., M.SEI ini sempat terhenti, lantaran memasuki waktu Maghrib.

Puluhan insan pers dari media cetak, online, televisi, dan radio wilayah Kediri raya, bersama Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Perwakilan Kediri, Bambang Iswahyoedhi dan Ketua IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia) Korda Kediri, Roma Duwi Juliandi yang hadir saat itu akhirnya berbuka bersama dan melaksanakan Sholat Maghrib terlebih dahulu.

Sementara itu, dalam sambutannya, Nurhadi, S.Pd secara blak blak-blakan menceritakan perjalanan hidupnya mulai sejak kecil hingga sekarang diamani untuk duduk di kursi DPR RI.

“Menjawab pertanyaan sebenarnya saya pernah hadir di gedung dewan apa tidak, tentu saja setiap ada agenda di DPR RI ya saya selalu hadir. Namun ketika tidak ada agenda sidang, ya saya pulang ke kampung dan memanfaatkan waktu untuk mengunjungi dulur-dulur janda tua serta kurang mampu,” katanya.

Nurhadi juga menceritakan bahwa dirinya lahir di sebuah desa Kabupaten Blitar, dan taraf ekonomi keluarganya sangat pas-pasan. Sehingga saat dirinya lulus SMA, dirinya memilih untuk menjadi kuli bangunan guna membantu ayahnya yang berprofesi sebagai tukang batu.

“Ketika saya sudah naik kelas dari kuli menjadi tukang batu, ternyata Allah SWT memberikan cobaan dengan penyakit types hampir satu tahun, sehingga saya terpaksa harus tidak boleh banyak gerak, bahkan kondisi saya saat itu ya memang tidak kuat untuk bergerak. Saya pun hanya bisa pasrah dan berdo’a saja,” kenangnya.

Menurut Nurhadi, dalam kondisi seperti ini dirinya hanya bisa menikmati hiburan dengan mendengarkan radio. Saking terhiburnya, sehingga perlahan kesehatannya pulih, dan muncul keinginan untuk menjadi seorang penyiar radio.

“Alhamdulillah saat melamar menjadi penyiar radio itu saya diterima. Namun saya sedikit kecewa, karena gaji penyiar waktu itu sangat kecil sekali, kadang untuk transport saja juga tidak cukup. Tapi saya menikmati profesi itu dan terus saya tekuni, hingga akhirnya saya menikah dan mempunyai keinginan untuk mempunyai stasiun radio sendiri,” ungkapnya.

Dengan tekad bulat keinginan itu dimulai dengan kontrak sebuah stasiun radio untuk dikelolanya sambil mendirikan EO (event organizer). Ketika sukses di dunia hiburan tersebut itu Nurhadi diajak temannya untuk menjadi calon anggota legislatif dari sebuah parpol berbasis keagamaan, dan ternyata berhasil menjadi Anggota DPRD Kota Kediri periode 2009-2014.

“Ketika waktu saya banyak di dewan, ternyata usaha di dunia EO dan radio itu mengalami penurunan penghasilan sangat drastis. Padahal disitu ada banyak karyawan yang memiliki keluarga untuk dinafkahi. Sehingga pada Pemilu 2014, saya putuskan tidak mencalonkan kembali, dan fokus menata perusahaan,” tuturnya.

Jejak kesuksesan Nurhadi di dunia politik ini ternyata juga menarik sang istri tercinta, Hartingah, untuk menggantikannya meski berangkat dari parpol berbeda, dan berhasil mendapatkan amanah sebagai Anggota DPRD Kota Kediri periode 2014-2019.

“Setelah perusahaan sudah kembali tertata, saya diajak teman untuk terjun di dunia politik kembali, dan diberi amanah menjadi Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Blitar. Di NasDem ini ternyata saya menemukan kenyamanan berpolitik dibandingkan dengan parpol lain,” ucapnya.

Dari dorongan teman-teman, lanjut Nurhadi, akhirnya dia maju sebagai Caleg DPR RI, dan istrinya juga berhijrah ke NasDem, kemudian maju Caleg di Kota Kediri. Saat mulai menggalang dukungan, Anggota DPR RI yang dikenal dengan Jargon “Semar Mbangun Kahyangan” ini sempat hampir mengundurkan diri, lantaran ada pesaing kuat yang merupakan seorang artis terkenal dan sudah pernah sukses menduduki kursi senayan.

“Karena dorongan istri dan dulur-dulur semua, akhirnya saya tetap maju dan berhasil menjadi Anggota DPR RI periode 2019-2024 ini. Nah, karena kemarin ada pandemi, sehingga banyak agenda kedewanan yang dilakukan secara zoom meeting, serta banyak warga yang perlu bantuan, akhirnya saya setiap hari keluar masuk desa untuk memberi semangat dan sedikit bantuan kepada mereka,” jelasnya.

Nurhadi juga menambahkan, sebenarnya salah satu keuntungan masyarakat memilih wakil yang asli putra daerah, atau domisilinya di dapilnya adalah, tentu saja saat tidak ada agenda di parlemen itu ya pasti pulang kampung, yaitu di dapil asalnya. Sedangkan calon dari daerah lain, ketika jadi dewan itu ya pulangnya ke rumah mereka sendiri, atau belum tentu terjun ke dapilnya.

“Contohnya saya, karena orang tua di Blitar dan domisili saya di Kediri, maka hampir tiap minggu ya pulang kesini dan menyempatkan untuk bertemu dulur-dulur. Begitu juga ketika tidak ada agenda di DPR RI, ya saya manfaatkan untuk golek dulur sak akeh-akehe,” ulas Ketua Umum ARSSLI (Asosiasi Radio Siaran Swasta Lokal Indonesia) yang memiliki anggota ratusan stasiun radio di nusantara ini.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.