TCSC IAKMI Jatim Ajak Masyarakat Wujudkan Daerah Tanpa Iklan Rokok

Ketua TCSC IAKMI Jatim, Santi Martini yang juga Dekan FKM Unair

SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Guna memaksimalkan regulasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dengan menambahkan poin pelarangan pada iklan rokok. Tobacco Control Support Center (TCSC) IAKMI Jatim bersama Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) menggelar kegiatan pelatihan edukasi dan sosialisasi secara virtual bertema “Upaya Pelarangan Iklan Rokok Pada Kabupaten/Kota di Jawa Timur”. TCSC dan FKM Unair memfasilitasi 22 Kabupaten/Kota di Jatim.

Ketua TCSC IAKMI Jatim, Santi Martini, sekaligus Dekan FKM Unair menjelaskan, bahaya bahaya sangat mengancam anak, remaja dan wanita Indonesia. Konsumsi rokok merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya berbagai penyakit tidak menular seperti penyakit jantung koroner, stroke, kanker, penyakit paru kronis dan diabetes melitus, penyebab kematian utama di dunia, termasuk Indonesia.

Bacaan Lainnya

“Untuk itu, melalui program pelatihan ini kami ingin mengajak masyarakat Jawa Timur ikut memaksimalkan regulasi KTR dan mewujudkannya dengan adanya pelarangan iklan rokok,” ujar Santi. Jumat, (27/8/2021).

Sehingga, lanjut Santi, masyarakat Jatim, khususnya ibu dan anak serta generasi muda bisa hidup sehat bebas dari asap rokok. Karena, sangat mengagumkan, dimana fakta bahwa, rokok telah mentargetkan generasi muda untuk menjadi seumur hidup seumur hidupnya dengan memberikan tayangan iklan rokok yang menampilkan sifat gagah, keren, dan macho.

“Karena itu, perlunya regulasi dari pemerintah untuk dapat mengendalikan iklan rokok agar generasi muda kita tidak mudah terpengaruh untuk mulai membeli dan mengkonsumsi rokok di usia yang masih terlalu muda,” tegasnya.

Beberapa Kabupaten/Kota di Jatim telah memiliki Perda KTR. Namun, kondisi di lapangan implementasi Perda KTR belum dapat dilakukan dengan optimal terutama untuk pelarangan iklan rokok.

Maka perlu adanya pelatihan upaya pelarangan iklan rokok sebagai memperluas informasi dan berbagi pengalaman dari Kabupaten/Kota di Indonesia yang sudah melakukan pelarangan iklan rokok agar hal yang sama dapat dilakukan di Kabupaten/Kota lain di Seluruh Jatim.

Pada kesempatan yang sama, Kasubdit Karantina Kesehatan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI, Benget Saragih, narasumber program training memaparkan topik bertema “Situasi Pengendalian Tembakau di Indonesia”.

Ia menyampaikan, di masa pandemi Covid-19, perilaku merokok dapat memperparah Covid-19. Karena merokok adalah risiko utama PTM dan meningkatkan risiko terinfeksi Covid-19, memperberat infeksi Covid-19 dan meningkatkan risiko kematian Covid-19.

“Penderita Covid-19 yang perokok 2,4 kali lebih mungkin masuk dalam kategori berat dan memiliki prognosis buruk termasuk yang harus mendapatkan perawatan intensif dan menggunakan ventilator,” ucap Benget.

Mirisnya, fakta bahwa konsumsi rokok pada masa pandemi Covid-19 di Indonesia terutama pada kelompok ekonomi rendah meningkat hingga 20,1%. Hal ini karena efek pandemi, dimana bekerja dari rumah sehingga kurang bergerak, banyak terjadi PHK, stres dan faktor lain yang menyebabkan orang memulai untuk merokok.

“Melalui regulasi KTR dan Pelarangan Iklan rokok ini dapat melindungi anak usia 10-18 tahun yang rentan untuk memulai merokok,” tutur Benget Saragih.

(nug/ari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *