Varian Omicron Dinilai Tidak Terlalu Bahaya, Puan Maharani : Tetap Waspada dengan Perketat Jalur Masuk

JAKARTA, RadarBangsa.co.id – Belum selesai varian lain dari Covid-19, kini dunia dihebohkan dengan baru Omicron. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta setiap negara harus bersiap, bentuknya dengan mempercepat vaksinasi untuk melindungi warganya.

WHO mengungkapkan bahwa strategi vaksinasi merupakan kunci untuk melawan penularan Varian Omicron di dunia.

Bacaan Lainnya

Terbaru, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengaku belum menemukan kematian akibat infeksi varian baru Covid-19, Omicron. Hal ini disampaikan langsung dalam sebuah konferensi pers di Jenewa.

Mengutip AFP, WHO mengatakan sedang mengumpulkan bukti tentang keparahan infeksi yang disebabkan varian dengan 32 mutasi pada protein lonjakannya itu. Sejauh ini gejala dilaporkan sangat ringan.

“Saya belum melihat laporan kematian terkait Omicron,” kata juru bicara WHO Christian Lindmeier.

“Kami sedang mengumpulkan semua bukti dan kami akan menemukan lebih banyak bukti seiring berjalannya waktu.”

“Semakin banyak negara … terus menguji orang, dan melihat secara khusus varian Omicron, kami juga akan menemukan lebih banyak kasus, lebih banyak informasi, dan, semoga tidak, tetapi juga kemungkinan kematian.”

WHO juga mengungkapkan bahwa salah satu jalan yang perlu diambil oleh negara-negara dunia adalah mempercepat vaksinasi. Selain itu, badan kesehatan global itu meminta agar warga dunia tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah ditentukan sebelumnya.

“Kita tidak boleh hanya mengandalkan tindakan perbatasan. Yang paling penting adalah mempersiapkan varian ini dengan potensi penularan yang tinggi. Sejauh ini informasi yang tersedia menunjukkan bahwa kita tidak perlu mengubah pendekatan kita,” sebut Takeshi Kasai, Direktur Pasifik WHO.

Bukan cuma itu, mengutip Straits Times, sekelompok ilmuwan Hong Kong telah berhasil mengisolasi varian Omicron untuk menjadi sampel medis. Hal ini berguna untuk penelitian lebih lanjut demi mengetahui respon kekebalan yang tepat atas virus ini.

Dalam keterangan resmi University of Hong Kong (HKU), pengisolasian virus ini merupakan yang pertama di Asia. Tim peneliti saat ini sedang memperluas pengamatan virus untuk menilai penularan, kemampuan penghindaran kekebalan, serta menebak patogenisitasnya.

“Kami menyadari ancaman serius dari varian tersebut dan segera bertindak,” Professor Kwok-yung Yuen, ketua Penyakit Menular, yang memimpin upaya penelitian tersebut, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

“Mengisolasi varian adalah langkah pertama dalam studi mendesak varian.”

Kabar baik selanjutnya juga datang dari Australia. Kepala petugas medis negara itu, Paul Kelly, menyebut bahwa hingga saat ini infeksi Omicron seluruhnya terjadi dengan gejala yang ringan dan tidak mematikan.

“Dari lebih dari 300 kasus yang sekarang telah didiagnosis di banyak negara, semuanya sangat ringan atau, pada kenyataannya, tidak memiliki gejala sama sekali,” kata Profesor Kelly.

Tetap waspada

Walaupun demikian, Ketua DPR RI, Puan Maharani, meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap pelaksanaan baru aturan karantina di Indonesia yang baru ditetapkan sebagai antisipasi masuknya virus Covid-19 varian baru, Omicron. Pengawasan ekstra ketat perlu dilakukan sebagai langkah mitigasi penyebaran varian Omicron ke dalam negeri.

“Perketat pengawasan aturan karantina pelaku perjalanan dari luar negeri, mengingat kasus Omicron sudah terjadi di sejumlah negara di luar Afrika. Pengetatan karantina juga perlu dilakukan untuk semua suspect sebagai upaya deteksi dini dan pencegahan masuknya varian baru Corona di Indonesia,” kata Puan.

Varian B.1.1529 Omicron pertama kali ditemukan di Botswana, Afrika Selatan. Namun, kini sejumlah negara Afrika dan Hong Kong mulai melaporkan temuan kasus varian ini. Karena itu, Puan juga mendukung kebijakan pemerintah yang menutup pintu sementara bagi WNA yang mempunyai riwayat perjalanan dari negara-negara tersebut, dan menambah durasi karantina bagi WNA dari luar negara tersebut dan juga WNI yang ingin kembali ke Tanah Air.

“Aturan karantina tidak boleh hanya baik di atas kertas, tapi harus sampai ke pelaksanaannya. Oleh karenanya, pengawasan ekstra sangat diperlukan untuk menghindari imported case. Kita tidak ingin kondisi Indonesia yang sudah membaik, kembali memburuk akibat kurangnya mitigasi,” tutur Puan.

Ia juga memberikan apresiasi kepada pemerintah yang melarang sementara perjalanan dari sejumlah negara di Afrika. “Respons cepat pemerintah dari berbagai elemen masyarakat harus diimbangi dengan pengawasan ketat di berbagai pintu-pintu masuk ke Indonesia. Baik perbatasan darat, pelabuhan laut, dan bandara,” katanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menjadikan Omicron sebagai varian of concern yang artinya masuk dalam kategori Covid-19 paling meresahkan. Puan mengingatkan Indonesia harus terus berkoordinasi dan bersinergi dengan stakeholder internasional, termasuk WHO, guna meningkatkan pemahaman mengenai Omicron, khususnya soal bagaimana pengendaliannya.

“Meski Omicron belum diketahui apakah lebih berbahaya dari varian Delta, tapi Indonesia sudah harus siap siaga. Pemantauan risiko varian ini memang sudah seharusnya dilakukan,” ucap mantan Menko PMK itu.

“Indonesia saat ini sudah lebih baik, jangan sampai kebobolan lagi seperti pertengahan tahun lalu. Rumah sakit penuh, obat pun sulit, pasokan oksigen kurang, dan banyak korban meninggal. Kasihan tenaga kesehatan yang sudah kelelahan,” tutur Puan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *