Warga Tolak Sumber Air Beroperasi, Milik Perumda Sampang Yang Baru di Bor

Sumber air dan lokasi Sumur air yang baru di bor milik Perumda Air Minum Trunojoyo Sampang jalan Mutiara Kelurahan Banyuanyar [IST]

SAMPANG, RadarBangsa.co.id – Warga sekitar Sumber Air di jalan Mutiara Kelurahan Polagan Sampang Madura Jawa Timur tetap menolak proyek pengeboran Sumur air milik Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Trunojoyo dilanjutkan dan beroperasi

Pasalnya khawatir sumur milik warga tersedot dan kering seperti waktu percobaan yang dilakukan pada pertengahan tahun lalu

Bacaan Lainnya

Pernyataan itu disampaikan oleh salah satu warga terdampak yang ikut pertemuan rabu malam 20/1

Menurut aktivis yang enggan disebut identitasnya dengan inisial MH kamis 21/1 bahwa warga masyarakat menggelar pertemuan rabu malam 20/1 menindaklanjuti keinginan Dirut Perumda Air Minum Trunojoyo yang akan melanjutkan proyek yang menghabiskan dana 200 juta (bukan 300- red)
“Karena kesibukan warga, yang hadir sebagian warga tetap menolak jika proyek itu dilanjutkan apalagi diaktifkan,” ujarnya

Dijelaskan Ia mengaku ikut mendampingi proses pengeboran yang dilakukan pihak ketiga dengan didampingi petugas dari Perumda Air Minum Trunojoyo pertengahan tahun 2020

Diungkapkan saat itu kedalaman Sumur air yang di bor kedalamannya 100 m (bukan dibawah 75 m- red

Anehnya sempat diperlihatkan kepada warga SPK ke CV Pelaksana bukan ditanda tangani oleh Dirut Perumda Air Minum Trunojoyo yang baru

Usai pekerjaan dilakukan uji coba selama 5 hari, dan hasilnya sumur milik warga kering, ada juga yang ada airnya tapi kotor dan berwarna kecoklatan

Karena merasa dirugikan dan resah, warga berinisiatif menghadap Bupati Sampang

Respon Bupati saat itu jika membuat warga resah proyek itu tidak perlu dilanjutkan, sikap tegas Bupati Sampang ini membuat warga bernafas lega

Menyikapi polemik yang terjadi, Chaeril Saleh SE aktivis LSM SP2M menilai kesalahan fatal telah dilakukan pihak Perumda Air Minum Trunojoyo
“Karena kekurang matangan perencanaan tekhnik yang dilakukan, seharusnya sebelum direalisasikan mengantisipasi dampak atas kegiatan itu serta mempertimbangkan dari berbagai sudut pandang,” tuturnya

Sebab dengan tidak diteruskannya proyek itu berarti mangkrak dan menghabiskan anggaran tanpa ada output yang jelas

Ia menyarankan segera dilakukan mediasi dengan warga masyarakat dan evaluasi supaya tidak berdampak lebih luas lagi.

(Her)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *