Meriahnya Gebyuran Bustaman tradisi unik sambut ramadan di Semarang

- Redaksi

Senin, 24 Februari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Semarang RadarBangsa.co.id – Tradisi Gebyuran Bustaman kembali digelar dengan penuh kemeriahan. Tradisi rutin tiap tahun ini digelar meriah guna menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi yang digelar di Kampung Bustaman, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang, ini diawali dengan Tari Kreasi Bustaman sebagai pembuka.

Warga setempat telah menyiapkan amunisi berupa puluhan kantong plastik berisi air warna-warni yang disiapkan di depan rumah. Tampak wajah para warga dicoret-coret menggunakan cat air yang disediakan panitia, sebagai simbol dosa-dosa yang harus dibersihkan sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Akhirnya, begitu kentongan dibunyikan, perang air pun berlangsung meriah di area kampung. Suasana menjadi semakin riuh saat warga dari berbagai rentang usia antusias saling melempar kantong air. Meski basah kuyup, semua peserta ‘perang’ air ini pun tampak bahagia menikmati tradisi menyambut Ramadan.

Ketua panitia, Saifullah, mengatakan bahwa tradisi Gebyuran Bustaman dilakukan sebagai bentuk menyambut bulan suci Ramadan. Tradisi ini menjadi simbol para warga yang membersihkan diri menjelang Ramadan.

“Dulu, Kiai Bustam selalu memandikan cucu-cucunya sebelum Ramadan sebagai bentuk penyucian diri. Tradisi ini sempat menghilang dan dijalankan lagi tahun 2013,” katanya di Kampung Bustaman, Minggu (23/2/2025).

Baca Juga  Lulus dengan Predikat Cumlaude, Putri Nur Zauharoh Bagikan Kunci Sukses Pendidikan

Ia menambahkan bahwa air yang digunakan merupakan air sumur Kiai Bustam. Konon, air sumur ini sering digunakan untuk memandikan anak-cucunya menjelang Ramadan.

Ia berharap tradisi itu bisa terus dijalankan dengan berbagai inovasi untuk lebih menggaet minat masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya. Selain itu, muda-mudi juga bisa ikut melestarikan sejarah lewat tradisi ini.

Salah satu warga Kampung Bustaman, Fita Yulianto (38), menyampaikan bahwa ia selalu mengikuti tradisi rutin ini bersama keluarganya. Fita pun mengaku masih keturunan Kiai Bustam.

“Dulu Mbah Bustam memandikan anak-cucunya, seperti menyucikan diri, jadi saya juga mau membersihkan diri sebelum memasuki Ramadan,” tuturnya sambil menggendong anaknya yang ikut serta dalam perang air.

“Meriah sekali perayaan tahun ini, semoga ke depan tradisinya bisa terus lestari dan banyak pesertanya seperti ini,” tambahnya.

Sementara itu, salah satu warga asal Kelurahan Sawah Besar, Kecamatan Gayamsari, Jayanti (42), mengaku baru pertama kali mengikuti Gebyuran Bustaman. Ia mengetahui tradisi tersebut dari media sosial.

Baca Juga  Pengendara Ngantri, Demi Mendapatkan Premium SPBU di Ngadirojo Pacitan

“Aku sudah siap-siap pakai jas hujan juga. Aku malah baru tahu ada acara seperti ini, padahal aku orang Semarang,” ujarnya.

Ia berharap semakin banyak warga Kota Semarang dan sekitarnya yang mengikuti tradisi itu. Harapannya, Kota Semarang memiliki semakin banyak daya tarik di bidang kebudayaan.

“Tadi kan ada tarian, semoga ke depan ada yang menjelaskan arti dari tarian itu supaya penonton bisa sambil belajar. Supaya budaya dan tradisi ini juga tetap lestari,” harapnya.

Gebyuran Bustaman pun tak hanya menjadi ajang untuk melestarikan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang memperkenalkan Kampung Bustaman kepada masyarakat luas. Hingga pukul 17.00 WIB, masih banyak warga yang berperang air.

“Semoga tahun depan acara ini bisa lebih meriah lagi dengan tambahan kegiatan budaya lainnya,” tutupnya.

Baca Juga:

Penulis : Hosea

Editor : Bandi

Berita Terkait

LKPD 2025 Diserahkan ke BPK Sumut, Bupati Asahan Targetkan Kualitas Keuangan Meningkat
Undian Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Digelar, Warga Muratara Berpeluang Dapat Mobil
Kabar Besar dari Pasuruan, Pemkab Siapkan Subsidi Sanitasi dan Jalan Khusus Sidogiri
LKPJ 2025 Kabupaten Pasuruan : Rusdi Sutejo Beberkan Capaian Ekonomi, IPM Naik dan Kemiskinan Menurun
Danrem 083 dan Wabup Pasuruan Resmikan Jembatan Garuda, Konektivitas Warga Lumbang Meningkat
Pasca Banjir 11 Kecamatan, Bupati Pasuruan Genjot Layanan Puskesmas 24 Jam
PKL DAS Tunjung Bangkalan Ditata, 22 Tenda Dibagikan Bupati Lukman Hakim
Diterjang Hujan Angin, Gus Fawait Bakar Semangat 5.000 Mahasiswa Jember di Program Beasiswa

Berita Terkait

Senin, 30 Maret 2026 - 22:56 WIB

LKPD 2025 Diserahkan ke BPK Sumut, Bupati Asahan Targetkan Kualitas Keuangan Meningkat

Senin, 30 Maret 2026 - 22:37 WIB

Undian Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Digelar, Warga Muratara Berpeluang Dapat Mobil

Senin, 30 Maret 2026 - 19:49 WIB

Kabar Besar dari Pasuruan, Pemkab Siapkan Subsidi Sanitasi dan Jalan Khusus Sidogiri

Senin, 30 Maret 2026 - 19:40 WIB

LKPJ 2025 Kabupaten Pasuruan : Rusdi Sutejo Beberkan Capaian Ekonomi, IPM Naik dan Kemiskinan Menurun

Senin, 30 Maret 2026 - 19:31 WIB

Danrem 083 dan Wabup Pasuruan Resmikan Jembatan Garuda, Konektivitas Warga Lumbang Meningkat

Berita Terbaru