SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen penguatan kerja sama strategis antara Jawa Timur dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di bidang pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan perdagangan. Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan dengan Konsul Jenderal RRT di Surabaya, Ye Su, di Kediaman Konsulat Jenderal RRT, Sabtu (3/1).
Pertemuan itu menyoroti peluang konkret kerja sama pendidikan melalui beasiswa bagi pelajar Jawa Timur, pelatihan guru SMK, hingga kolaborasi sektor manufaktur dan ekspor komoditas unggulan daerah, khususnya sarang burung walet. Bagi Pemprov Jatim, kerja sama ini dinilai relevan untuk memperkuat daya saing daerah di tengah persaingan global dan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Khofifah menjelaskan, Jawa Timur telah membangun ekosistem pendidikan menengah yang terintegrasi dengan kebutuhan pendidikan tinggi dan dunia kerja. Salah satu instrumennya melalui pengelolaan sekolah unggulan berasrama yang menekankan pembentukan karakter, kepemimpinan, serta kesiapan bersaing di tingkat internasional.
“Penguatan pendidikan menengah kami arahkan agar selaras dengan kebutuhan pendidikan tinggi. Dengan begitu, transisi siswa dari SMA ke perguruan tinggi berlangsung lebih efektif dan berkeadilan,” ujar Khofifah.
Ia menambahkan, prestasi siswa Jawa Timur dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri menunjukkan konsistensi. “Sejak 2020 hingga 2025, siswa Jawa Timur tercatat sebagai yang tertinggi diterima di perguruan tinggi negeri, baik melalui jalur tes maupun tanpa tes berbasis prestasi,” katanya.
Menurut Khofifah, enam sekolah berasrama yang dikelola Pemprov Jatim disiapkan sebagai lumbung calon pemimpin masa depan. “Ketika ada peluang beasiswa internasional, termasuk ke Tiongkok, kami memiliki basis SDM yang siap dari sekolah-sekolah tersebut,” ujarnya.
Di sektor ekonomi, Khofifah menekankan pentingnya penguatan kerja sama manufaktur dan perdagangan. Jawa Timur dinilai memiliki fondasi industri yang kuat, tercermin dari kontribusi industri manufaktur yang mencapai 31,16 persen pada triwulan III 2025, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional.
Sementara itu, ekspor sarang burung walet menjadi salah satu fokus pembahasan. Jawa Timur memiliki potensi besar komoditas ini, namun membutuhkan peningkatan kualitas dan pemenuhan standar karantina internasional agar mampu menembus pasar Tiongkok secara berkelanjutan.
“Sarang burung walet adalah peluang besar bagi Jawa Timur. Dengan standar yang tepat dan kerja sama yang kuat, kami optimistis ekspor ke Tiongkok dapat terus ditingkatkan,” kata Khofifah.
Konsul Jenderal RRT Ye Su menyampaikan apresiasi atas kesiapan dan keseriusan Jawa Timur dalam membangun kemitraan jangka panjang. Ia menilai penguatan ekosistem pendidikan, dukungan terhadap industri manufaktur, serta potensi ekspor daerah sebagai modal penting bagi kolaborasi yang saling menguntungkan.
“Kami melihat Jawa Timur memiliki komitmen kuat dalam pengembangan SDM. Tiongkok terbuka memperluas kerja sama melalui beasiswa, pelatihan, serta kolaborasi di bidang manufaktur dan perdagangan,” ujar Ye Su.
Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal penguatan hubungan ekonomi dan pendidikan Jawa Timur–Tiongkok yang lebih terarah dan berkelanjutan.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin








