JEMBER, RadarBangsa.co.id – Sebanyak 29 remaja disabilitas dari Kecamatan Arjasa, Silo, dan Ledokombo, Kabupaten Jember, menuntaskan pelatihan Social-Emotional Learning (SEL) bagi Kelompok Usaha Bisnis Inklusif (KUBIK) 2.0 di Pendopo Kecamatan Arjasa, Senin (24/8/2026). Pelatihan ini menjadi tahapan penguatan mental dan emosional sebelum peserta memasuki materi kewirausahaan lebih mendalam.
Kegiatan tersebut dibuka Camat Arjasa, Andri, dan dihadiri Pembina Tanoker, Suporahardjo. Program inklusif itu merupakan kolaborasi Tanoker dan Perpencha bersama Liliane Fonds serta NLR Indonesia.
Koordinator Program KUBIK, Sutopo, mengatakan pelatihan tersebut merupakan pertemuan ketiga sekaligus terakhir untuk modul “Akarku” tahun ini. Peserta berusia 18 hingga 35 tahun dan berasal dari tiga kecamatan.
“Tujuannya agar teman-teman disabilitas ini bisa berdaya, mampu mengambil keputusan sendiri, mandiri, dan bertanggung jawab atas pilihan hidupnya,” kata Sutopo.
Menurut dia, penguatan emosional menjadi fondasi penting bagi peserta sebelum mengembangkan usaha. Ia berharap peserta semakin percaya diri dalam bersosialisasi, bekerja sama, serta membangun atau mengembangkan usaha bersama berbagai pihak.
“Kami berharap teman-teman siap secara emosional dan sosial. Tidak takut lagi bergaul, mampu bekerja sama dengan pihak mana pun untuk mendirikan atau mengembangkan usahanya,” jelasnya.
Suporahardjo turut mendorong peserta terus mengasah potensi melalui perbaikan kecil yang dilakukan secara konsisten. Ia mengibaratkannya sebagai investasi satu persen setiap hari yang akan mengakumulasi perubahan lebih besar.
“Kita harus menjadi nakhoda bagi diri sendiri. Harus mampu mengambil keputusan mandiri atas hal-hal yang dulu mungkin masih bergantung pada orang tua,” tegasnya.
Untuk memperkuat motivasi dan rasa percaya diri, pelatihan juga menghadirkan talkshow bersama kreator konten disabilitas asal Rambipuji, Abdul Aziz atau Bang Aziz Men98. Ia membagikan pengalaman bekerja di industri profesional kepada para peserta.
Dalam sesi tersebut, materi “Akarku” diarahkan untuk membantu peserta memahami mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihan hidup. Penguatan ini diharapkan membuat peserta tidak lagi canggung ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial maupun calon mitra usaha.
Sutopo menekankan kesiapan emosional dan sosial sebagai bekal penting. Dengan kemampuan bersosialisasi dan bekerja sama, peserta diharapkan siap menjalani tahapan berikutnya dalam program KUBIK, ketika mulai menerima materi bisnis lebih mendalam. Pelatihan menjadi ruang untuk membangun keberanian, kemandirian, dan tanggung jawab.
Melalui rangkaian pelatihan SEL tersebut, KUBIK menempatkan kesiapan emosional dan sosial sebagai bagian penting dalam mendorong kemandirian remaja disabilitas sebelum mereka mendapatkan pembekalan bisnis secara lebih mendalam.
Penulis : Herry
Editor : Zainul Arifin


















Komentar