SIDOARJO, RadarBangsa.co.id – Kabupaten Sidoarjo menjadi salah satu dari lima kabupaten/kota di Jawa Timur yang ditetapkan sebagai daerah percontohan Proyek InCircular. Status tersebut menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk memperkuat pengelolaan sampah plastik sejak dari sumber.
Bupati Sidoarjo H. Subandi mendorong penguatan pengelolaan sampah mulai dari bank sampah, tempat pengelolaan sampah berbasis masyarakat hingga Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).
“Pengelolaan sampah plastik ini penting. Mulai dari tingkat bank sampah sampai tingkat TPS 3R harus benar-benar kita perkuat dan memiliki komitmen yang besar,” ujar Subandi.
Menurut Subandi, penguatan di tingkat masyarakat menjadi bagian penting agar sampah yang dihasilkan tidak seluruhnya berakhir di tempat pemrosesan akhir.
“Mulai dari tingkat bank sampah sampai tingkat TPS 3R harus benar-benar kita perkuat,” tegas Subandi.
Sidoarjo menjadi satu dari lima daerah percontohan Proyek InCircular di Jawa Timur. Empat daerah lainnya yakni Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Probolinggo.
Peluncuran Kabupaten/Kota Percontohan Proyek InCircular digelar di Hotel DoubleTree by Hilton Surabaya, Selasa (15/9/2026), melalui kegiatan bertajuk “Dari Daerah, Menuju Masa Depan Ekonomi Sirkular Indonesia.”
Subandi hadir dalam kegiatan tersebut didampingi jajaran Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Sidoarjo.
Bagi Pemkab Sidoarjo, keterlibatan dalam proyek tersebut menjadi ruang untuk memperkuat sistem pengelolaan sampah yang sudah berjalan sekaligus mengembangkan pola baru dalam menangani sampah plastik.
Berdasarkan pemetaan pengelolaan sampah yang dilakukan Pemkab Sidoarjo, timbulan sampah di daerah tersebut mencapai sekitar 892,26 ton per hari. Dari jumlah itu, sekitar 534 ton per hari masih dibuang langsung ke TPA.
Sampah tercampur yang masuk ke TPA juga masih mendominasi. Kondisi tersebut menunjukkan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pengangkutan dan pembuangan.
Pemilahan sejak sumber menjadi salah satu mata rantai penting. Sampah yang masih memiliki nilai dapat dipisahkan, dikumpulkan, digunakan kembali atau didaur ulang sebelum menjadi residu.
“Harus benar-benar kita perkuat dan memiliki komitmen yang besar,” lanjut Subandi.
Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong material untuk tetap berada dalam rantai pemanfaatan. Sampah plastik tidak semata-mata dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi juga dapat dikelola kembali melalui proses pemilahan, penggunaan ulang maupun daur ulang.
Proyek InCircular di Jawa Timur diarahkan pada alur material sampah kemasan dan residu. Penguatan tata kelola, regulasi, kapasitas pemerintah daerah serta kolaborasi masyarakat dan dunia usaha menjadi bagian dari pendekatan yang dikembangkan.
Pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045.
Bagi Sidoarjo, penguatan bank sampah dan TPS 3R menjadi penting karena rantai pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pengangkutan. Sistem tersebut perlu dibangun sejak rumah tangga hingga fasilitas pengolahan.
Masyarakat memiliki peran dalam memilah dan mengurangi sampah dari sumber. Sementara pemerintah berperan dalam regulasi, penyediaan fasilitas dan tata kelola. Dunia usaha juga menjadi bagian dari rantai pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai ekonomi.
Kerja sama melalui Proyek InCircular melibatkan Kementerian PPN/Bappenas, GIZ Indonesia dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan terpilihnya lima kabupaten/kota di Jawa Timur sebagai daerah percontohan menjadi peluang untuk memperkuat transformasi pembangunan yang lebih efisien dalam pemanfaatan sumber daya, rendah limbah dan berkelanjutan.
Emil juga menyoroti tantangan pengelolaan sampah di Jawa Timur yang tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur. Kapasitas kelembagaan, konsistensi pemilahan dari sumber, pembiayaan serta keterlibatan masyarakat dan dunia usaha turut menentukan keberhasilan pengelolaan sampah.
Dengan status sebagai daerah percontohan InCircular, Sidoarjo kini memiliki ruang untuk memperkuat mata rantai pengelolaan sampah plastik, mulai dari rumah tangga, bank sampah dan TPS 3R hingga pengolahan serta pemanfaatan kembali material.
Penulis : Tom
Editor : Zainul Arifin


















Komentar