MATARAM, RadarBangsa.co.id – RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram kembali meraih Diamond Status dari Angels Initiative dan World Stroke Organization (WSO) pada 2026. Penghargaan tersebut menjadi yang ketiga secara berturut-turut setelah sebelumnya diraih pada 2024 dan 2025.
Di balik capaian itu, rumah sakit milik Pemerintah Kota Mataram tersebut mencatat sekitar 234 pasien yang disebut berhasil diselamatkan dari risiko kecacatan dan kematian akibat stroke.
Penghargaan Diamond Status disampaikan dalam kegiatan di Aula Pendopo Wali Kota Mataram, Rabu (16/9/2026). Capaian ini menjadi bagian dari penguatan layanan stroke, termasuk penanganan kegawatdaruratan melalui PSC 119 MEMS.
Direktur RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Hj. NK Eka Nurhayati, Sp.OG, Subsp F.E.R, M.Kes., M.Sc., mengatakan penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap upaya rumah sakit dalam meningkatkan kualitas layanan stroke.
“Alhamdulillah, tahun 2026 ini kami kembali mendapatkan penghargaan internasional Diamond Status yang ketiga berturut-turut dari Angels Initiative dan World Stroke Organization,” ungkapnya.
Menurut dr. Eka, RSUD H. Moh. Ruslan mulai mengembangkan inovasi Pendekar Serasi sejak 2023. Program tersebut mencakup penanganan emergency dan pelatihan rehabilitasi stroke secara terintegrasi.
Penguatan layanan tidak hanya dilakukan di lingkungan rumah sakit. RSUD H. Moh. Ruslan juga melibatkan kader TP PKK di seluruh wilayah Kota Mataram untuk mengenali tanda awal serangan stroke dan memahami pentingnya respons cepat.
“RSUD HMR tidak hanya memperkuat pelayanan di dalam rumah sakit, tetapi juga secara aktif mengajak kader TP PKK di seluruh wilayah Kota Mataram untuk mengenali tanda-tanda awal serangan stroke dan memahami pentingnya respons cepat serta segera ke rumah sakit,” jelasnya.
Selain Diamond Status, PSC 119 RSUD H. Moh. Ruslan juga meraih Gold Status untuk layanan emergency stroke.
Kecepatan menjadi salah satu perhatian utama dalam layanan tersebut. Melalui PSC 119 MEMS dan tombol panik yang dapat diinstal di telepon seluler masyarakat, rumah sakit berupaya mempercepat proses penanganan pasien.
“Response time kami dari panggilan sampai kami kembali ke rumah sakit kurang dari 10 menit. Kami mendapat apresiasi karena kecepatan itu sangat penting dalam penanganan stroke,” katanya.
Dr. Eka menjelaskan, waktu menjadi faktor penting dalam penanganan stroke. Untuk kasus stroke iskemik tertentu, terapi reperfusi perlu dipertimbangkan dalam jendela waktu yang sesuai, termasuk hingga 4,5 jam sejak gejala muncul untuk terapi trombolisis intravena pada pasien yang memenuhi syarat.
“Karena ada istilah golden time, yaitu kurang dari 4,5 jam kasus stroke harus sudah ditangani,” ujarnya.
Dari rangkaian layanan tersebut, sekitar 234 pasien disebut telah berhasil diselamatkan dari risiko kecacatan dan kematian akibat stroke.
“Sekitar 234 pasien sudah kita selamatkan dari kecacatan dan kematian akibat stroke. Ini merupakan prestasi yang luar biasa,” kata dr. Eka.
Wali Kota Mataram H. Mohan Roliskana mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan yang kembali diterima RSUD H. Moh. Ruslan merupakan hasil dedikasi jajaran rumah sakit dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan.
“Pagi hari ini, satu hal yang membanggakan bagi kita semua. Suatu prestasi kembali diraih oleh RSUD H. Moh. Ruslan. Saya pribadi, selaku Wali Kota Mataram, mengucapkan terima kasih atas apresiasi dan dedikasi yang dilakukan selama ini,” ujar H. Mohan.
Ia menilai keberhasilan penanganan stroke tidak hanya ditentukan oleh layanan medis di rumah sakit. Keterlibatan masyarakat dan kader kesehatan juga menjadi bagian dari sistem yang dibangun untuk memperkuat pelayanan.
“Sebenarnya kita tidak sekadar berbicara soal penanganan stroke, tetapi berbicara soal membangun sistem. Rumah sakit melibatkan tenaga medisnya, melibatkan masyarakat, kader ini menjadi satu kesatuan yang sangat penting dalam langkah kita untuk bisa membangun kualitas kesehatan masyarakat kita,” ungkapnya.
H. Mohan juga menyoroti keberanian RSUD H. Moh. Ruslan mengambil terobosan pelayanan kesehatan dengan tetap memperhatikan perencanaan dan pengukuran hasil.
“Bagi saya, ini pencapaian yang sangat luar biasa karena RSUD HMR berani mengambil terobosan, berani mengambil risiko, tetapi tetap terukur,” pungkasnya.
Dukungan Angels Initiative juga disebut membuka kesempatan bagi tenaga kesehatan RSUD H. Moh. Ruslan untuk meningkatkan kompetensi. Salah satunya, dr. Putri, mendapat kesempatan belajar ke Swiss melalui dukungan Angels Initiative.
RSUD H. Moh. Ruslan juga dipercaya menjadi salah satu rumah sakit yang berperan dalam pelatihan tenaga kesehatan di Nusa Tenggara Barat.
“Dengan mendapatkan penghargaan ini, support luar biasa diberikan oleh Angels Initiative. Kami dipercaya untuk melatih semua nakes yang ada di NTB,” tutur dr. Eka.
Capaian Diamond Status untuk ketiga kalinya tersebut menjadi bagian dari upaya RSUD H. Moh. Ruslan mempertahankan kualitas layanan stroke sekaligus memperkuat jejaring penanganan di NTB.
Penulis : Aini
Editor : Zainul Arifin


















Komentar