SURABAYA, RadarBangsa.co.id – Sebanyak 95 lukisan karya Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dipamerkan di Voza Tower, Surabaya. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai karya-karya tersebut tidak hanya merefleksikan pengalaman pribadi SBY, tetapi juga menggambarkan sejumlah persoalan sosial Indonesia.
Khofifah bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dan Ketua TP PKK Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak menghadiri pembukaan pameran tunggal tersebut pada Selasa (15/9). Ketiganya juga mendampingi SBY berkeliling melihat karya yang dipajang.
Menurut Khofifah, perjalanan SBY memperlihatkan bahwa pengabdian kepada Indonesia dapat diwujudkan melalui berbagai bidang. Sebelum menjadi kepala negara, SBY menjalani puluhan tahun pengabdian di dunia militer. Setelah itu, ia melanjutkan pengabdiannya melalui dunia seni.
“Pak SBY sudah mengabdi pada negara lewat militer puluhan tahun sebelum kemudian menjadi kepala negara. Lalu betapa setelah pengabdian itu, beliau mendedikasikan diri untuk dunia seni Indonesia,” ujar Khofifah.
Khofifah juga melihat sosok almarhumah Ani Yudhoyono sebagai salah satu sumber inspirasi utama dalam karya SBY. Namun, menurutnya, lukisan-lukisan yang dipamerkan tidak berhenti pada kisah personal.
“Kita semua tahu kalau inspirasi utama Pak SBY adalah almarhumah Bu Ani dan cinta abadinya. Maka saya ingin menyoroti bahwa banyak lukisan beliau yang juga cerminan kondisi sosial Indonesia,” jelasnya.
Salah satu karya yang menarik perhatian Khofifah adalah *The Day God Test Our Faith And Courage*. Lukisan tersebut menggambarkan suasana pascatsunami Aceh dengan Masjid Raya Baiturrahman yang tetap berdiri dan menjadi tempat perlindungan bagi masyarakat terdampak bencana.
“Salah satu yang saya ingat dan tadi menyambut kami di bawah adalah gambar “The Day God Test Our Faith And Courage” yang bercerita tentang Tsunami dan bagaimana Masjid Raya Baiturrahman masih berdiri teguh dan jadi shelter untuk korban pada saat itu. Saya pikir luar biasa sekali bagaimana Pak SBY bisa menerjemahkan tragedi menjadi sebuah seni,” ungkap Khofifah.
Bagi Khofifah, karya itu menunjukkan cara SBY menerjemahkan sebuah tragedi menjadi refleksi mengenai keteguhan, keimanan, dan keberanian.
Apresiasi juga disampaikan Emil Elestianto Dardak. Ia menilai SBY memiliki talenta dan kapasitas di berbagai bidang. Menurut Emil, perjalanan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk tetap berkarya dan berkontribusi setelah menyelesaikan tugas formal.
“Beliau tadi sempat bilang bahwa sudah meninggalkan dunia politik praktis dan politik kekuasaan. Meski begitu, selain berkesenian, beliau tetap peduli terhadap perkembangan dunia dan akan turut serta dalam kontribusi memajukan Indonesia sesuai kapasitasnya,” kata Emil.
Emil mengatakan setiap fase kehidupan SBY memberikan makna bagi masyarakat. Ia juga menyebut keinginannya untuk dapat tetap memberikan dedikasi kepada Indonesia setelah menyelesaikan tugas formal.
“Jujur ini membuat saya takjub. Setiap langkah dan setiap fase hidup Pak SBY memberikan banyak makna bukan hanya untuk diri sendiri tapi masyarakat luas. Saya sendiri beraspirasi untuk bisa seperti beliau. Bagaimana bahkan saat purna tugas, kita bisa tetap memberikan dedikasi untuk Indonesia sambil menikmati passion yang bermanfaat,” ungkap Emil.
Sementara itu, SBY mengatakan 95 lukisan yang dipamerkan di Surabaya baru sebagian kecil dari keseluruhan karya yang telah dihasilkannya. Ia berencana membawa sekitar 500 lukisan dalam pameran di Jakarta pada Desember mendatang.
SBY juga membuka peluang agar karya-karyanya dipamerkan di berbagai kota di Indonesia. Selain menjadi ruang ekspresi seni, karya tersebut dapat dikomersialkan untuk mendukung sejumlah kegiatan sosial dan aktivitas yang dinilai memiliki kemanfaatan.
“InsyaAllah kalau memang ada yang ingin melihat desain saya, dengan senang hati saya akan mengadakan pameran di tempat dan kota-kota lain,” ucapnya.
Ia menjelaskan, hasil komersialisasi karya dapat digunakan untuk sejumlah kebutuhan, antara lain bantuan sosial, pembiayaan klub voli LavAni, serta pemeliharaan museum dan galeri.
“Bagi saya cukuplah saya merasa berbahagia kalau saudara-saudara kita, rakyat Indonesia, masih ingat seorang SBY yang sekarang menggeluti dunia seni,” pungkasnya.
Pameran tunggal lukisan SBY di Voza Tower, Surabaya, dibuka untuk masyarakat umum mulai 16 hingga 29 September 2026. Pameran ini diinisiasi pemilik Tancorp, Hermanto Tanoko, dengan seluruh karya dikuratori Suwarno Wisetrotomo.
Karya-karya tersebut juga terangkum dalam buku monografi Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono, yang mendokumentasikan perjalanan artistik SBY melalui seni lukis.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar