Bupati Sidoarjo Tegaskan Inovasi Tak Boleh Berhenti di Ajang Kompetisi

Rabu, 16 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bupati Sidoarjo Subandi saat membuka Kompetisi Inovasi Sidoarjo (KISI) 2026 di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (16/9/2026). (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

Bupati Sidoarjo Subandi saat membuka Kompetisi Inovasi Sidoarjo (KISI) 2026 di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (16/9/2026). (Dok. Ho/RadarBangsa.co.id)

SIDOARJO, RadarBangsa.co.id — Bupati Sidoarjo Subandi meminta inovasi pemerintahan tidak berhenti sebagai kompetisi atau penghargaan. Menurutnya, ukuran utama inovasi adalah manfaat dan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Subandi saat membuka Kompetisi Inovasi Sidoarjo (KISI) 2026 di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (16/9/2026).

KISI 2026 mengusung tema “Inovasi Berdampak untuk Sidoarjo Maju, Inklusif, dan Berkelanjutan”. Ajang tersebut diarahkan menjadi instrumen untuk mendorong perubahan cara kerja pemerintah sekaligus menjawab berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat.

“Banyak permasalahan yang perlu kita selesaikan. Objek masalah masih banyak, sehingga kita harus punya inovasi. Ekonomi kita juga masih banyak problem,” ujar Subandi.

Ia menilai kebutuhan terhadap inovasi semakin penting karena persoalan pembangunan Sidoarjo masih cukup kompleks. Capaian ekonomi dan sosial yang telah diraih perlu diikuti pembenahan pola kerja, pelayanan publik, dan tata kelola pemerintahan.

Pada 2025, pertumbuhan ekonomi Sidoarjo tercatat 5,4 persen. Sementara angka kemiskinan pada Maret 2025 berada di 4,40 persen atau sekitar 107,57 ribu penduduk. Angka tersebut sudah berada di bawah target 2025 sebesar 4,54 persen.

Meski demikian, capaian itu tidak berarti seluruh persoalan daerah telah selesai. Pengangguran, kesehatan, stunting, lingkungan, pelayanan publik, hingga penguatan ekonomi masyarakat masih membutuhkan penanganan berkelanjutan.

Karena itu, Subandi mendorong budaya inovasi tumbuh di seluruh lini pemerintahan, mulai dari sekretariat daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah kecamatan dan desa hingga lingkungan pendidikan.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dan kolaborasi antarlembaga agar inovasi tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Mulai sekda, OPD, sampai tingkat desa harus ada komunikasi. Inovasi ini jangan hanya menjadi perlombaan tahunan, tetapi betul-betul harus dirasakan oleh masyarakat,” tegasnya.

Subandi mengatakan penghargaan seharusnya menjadi pemicu, bukan tujuan akhir. Inovasi diharapkan mampu mengubah pola pikir aparatur sekaligus membuat pelayanan pemerintah lebih mudah, cepat, dan dekat dengan kebutuhan warga.

“Dengan penghargaan ini harus mengubah mindset. KISI hari ini untuk menunjang bapak dan ibu semua agar memudahkan pelayanan Kabupaten Sidoarjo,” katanya.

Penguatan ekosistem inovasi tersebut juga dilakukan Pemkab Sidoarjo melalui SETIA atau Sistem Elektronik Terintegrasi Inovasi Daerah. Portal itu menjadi sarana pengelolaan riset dan inovasi daerah, termasuk pelaporan Indeks Inovasi Daerah serta fasilitasi KISI.

Tahapan yang dikelola melalui ekosistem tersebut mencakup penjaringan gagasan, uji coba, penerapan hingga evaluasi. Inovasi yang dikembangkan berasal dari berbagai sektor, antara lain pelayanan administrasi, kesehatan, perizinan, transportasi, lingkungan, serta inovasi berbasis desa dan kecamatan.

Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Mohammad Ainur Rahman menegaskan bahwa keberhasilan inovasi tidak semata-mata diukur dari jumlah program yang dihasilkan.

“Bukan hanya jumlah inovasinya, tetapi yang paling penting adalah dampaknya,” tegasnya.

Menurut Ainur Rahman, kebutuhan dan harapan masyarakat terus berkembang. Pemerintah karena itu perlu membangun ekosistem yang tidak hanya mendorong lahirnya gagasan baru, tetapi juga memastikan gagasan tersebut dapat diterapkan dan memberikan hasil yang dapat dibuktikan.

Gerakan satu perangkat daerah satu inovasi pun terus didorong. Setiap inovasi diharapkan memiliki empat karakter utama, yakni berdampak dan berorientasi pada hasil serta bukti, mendorong modernisasi tata kelola dan daya saing daerah, inklusif dengan membuka ruang partisipasi, serta berkelanjutan agar dapat dikembangkan dan direplikasi.

Dengan pendekatan tersebut, KISI 2026 tidak hanya ditempatkan sebagai kompetisi tahunan. Inovasi yang lahir dari ajang tersebut diharapkan mampu menjawab kebutuhan konkret masyarakat, mulai dari pelayanan publik, kesehatan, ekonomi, lingkungan hingga persoalan sosial.

“Ini bukan hanya ajang kompetisi, tetapi instrumen untuk membangun budaya inovasi,” tegas Ainur Rahman.

Penulis : Tom

Editor : Zainul Arifin

Berita Terkait

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan
Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak
PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan
PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani
DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi
Gus Iqdam di Pasuruan: Serukan Ilmu, Akhlak, dan Sedekah
Paripurna, Fraksi Golkar DPRD Ngawi Soroti Defisit RAPBD 2027, Usulkan Stadion Baru Berkapasitas 40.000 Penonton
HKG PKK ke-54, Luthfiana Lukman Hakim Perkuat Peran Keluarga di Bangkalan

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:43

SMK Muhammadiyah 3 Weleri Bentuk Siswa Disiplin dan Peduli Lingkungan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 08:38

Bupati Bangkalan Dorong Kader Kesehatan Perkuat Pendampingan Ibu dan Anak

Kamis, 29 Oktober 2026 - 23:36

PAPDESI Kendal Berharap Siltap Kades dan Perangkat Desa Tetap Dipertahankan

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:47

PIWK Sidoarjo Dikebut, Subandi Minta Jalan Rusak Segera Ditangani

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:31

DPRD Kabupaten Pasuruan Bahas Perubahan Perda Pajak dan Retribusi

Berita Terbaru