LAMONGAN, RadarBangsa.co.id – Kampanye GAMAS (Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah) dan materi Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah yang diterbitkan Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan menuai kritik dari sejumlah wali murid. Mereka menilai penggunaan istilah “ayah” dalam materi kampanye belum mencerminkan bahasa yang inklusif karena dinilai mengabaikan kondisi anak yatim maupun siswa yang tidak lagi memiliki figur ayah.
Materi kampanye yang disebarkan melalui brosur dan pamflet pada Senin (13/7/2026) memuat ajakan “Gerakan Ayah Mengantar Putra-Putrinya” dengan tagline “Kehadiran sosok ayah di hari-hari penting pendidikan anak sangat krusial”. Pamflet tersebut turut dibagikan oleh guru kepada orang tua melalui grup WhatsApp sebagai bagian dari pelaksanaan MPLS Ramah.
Sejumlah wali murid mengaku keberatan dengan narasi tersebut. Mereka khawatir penggunaan kata “ayah” dapat menimbulkan beban psikologis bagi anak yang telah kehilangan ayah atau diasuh oleh ibu maupun anggota keluarga lainnya.
“Kalau seperti kalimatnya seperti itu, kasihan anak kami yang saat ngantar sekolah tak diantar ayahnya karena ditinggal meninggal. Nelongso betul anak kami nasibnya kok ndak punya ayah,” ujar salah seorang wali murid.
Ia berharap istilah “ayah” dalam materi kampanye dapat diganti menjadi “orang tua” atau “wali murid” agar lebih mewakili beragam kondisi keluarga.
“Seyogyanya dikaji lebih teliti agar tidak menciderai psikologi anak didik,” tambahnya.
Menanggapi kritik tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Drs. Shodikin, M.Pd., menegaskan bahwa Gerakan Ayah Mengantar Putra-Putrinya tidak dimaksudkan sebagai kewajiban yang hanya dilakukan oleh ayah.
“Gerakan Ayah Mengantar Putra-Putrinya pada awal masuk sekolah tidak harus dilakukan oleh ayah. Anak bisa diantar ibu, kakaknya, atau keluarga lainnya,” kata Shodikin, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, esensi program tersebut adalah membangun keterlibatan keluarga dalam momen penting pendidikan anak, bukan membatasi pendampingan hanya oleh sosok ayah.
“Yang kami harapkan adalah anak mendapatkan perhatian dari orang tuanya, baik ayah maupun ibu, atau keluarga yang mendampinginya. Kehadiran mereka pada hari pertama sekolah memiliki makna penting bagi tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Shodikin menjelaskan, gerakan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kondisi sebagian orang tua yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak sempat mengantar atau mendampingi anak saat berangkat ke sekolah.
“Kami tidak berharap orang tua sibuk bekerja sehingga anak berangkat sekolah tanpa didampingi. Saat orang tua pulang, anak sudah beristirahat. Kondisi seperti itu bisa menimbulkan kesan anak kurang memperoleh perhatian dan kasih sayang dari keluarganya,” jelasnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa persoalan anak yang tidak memiliki figur ayah sebenarnya telah menjadi salah satu pertanyaan dalam wawancara dan podcast sebelum program tersebut diluncurkan.
“Pertanyaan mengenai bagaimana dengan anak yang tidak memiliki figur ayah sudah kami jawab sejak awal. Pendampingan tidak harus dilakukan ayah, tetapi bisa oleh ibu, kakak, maupun anggota keluarga lainnya,” terangnya.
Sebelumnya, melalui brosur GAMAS, Dinas Pendidikan Lamongan mengajak masyarakat dengan pesan, “Ayah, yuk hadirkan semangat sejak langkah pertama! Bersama keluarga, kita wujudkan generasi yang unggul dan berakhlak.”
Di tengah polemik tersebut, pengamat pendidikan menilai kampanye sekolah idealnya menggunakan bahasa yang lebih inklusif agar dapat merangkul seluruh kondisi keluarga. Pilihan diksi yang lebih universal dinilai penting untuk menghindari munculnya rasa tersisih pada peserta didik yang tidak memiliki figur ayah, sekaligus tetap menjaga tujuan utama program, yakni meningkatkan keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak.
Merespons berbagai masukan yang berkembang, Shodikin memastikan Dinas Pendidikan Lamongan terbuka terhadap evaluasi demi penyempurnaan program ke depan.
“Masukan dari masyarakat tentu menjadi perhatian kami. Tujuan utama gerakan ini adalah memperkuat keterlibatan keluarga dalam pendidikan anak, sehingga pesan yang disampaikan dapat diterima oleh seluruh masyarakat,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar