MATARAM, RadarBangsa.co.id — Anemia pada ibu hamil bukan keluhan ringan yang bisa diabaikan. Kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan ibu, pertumbuhan janin, hingga proses persalinan dan pemulihan setelah melahirkan. WHO menyebut anemia pada kehamilan berkaitan dengan luaran ibu dan bayi yang buruk, termasuk kelahiran prematur dan berat lahir rendah. ([Organisasi Kesehatan Dunia][1])
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi RSUD H. Moh. Ruslan Kota Mataram, dr. Ida Bagus Yuda A., Sp.OG, mengingatkan bahwa gejalanya sering datang pelan-pelan. “Kalau sudah mulai beraktivitas biasanya cepat sekali lelah. Itu salah satu tanda awal yang sering dirasakan ibu hamil dengan anemia,” ujarnya.
Keluhan lain yang patut diwaspadai adalah tubuh mudah lemas, cepat lelah, kurang bersemangat, kulit kering, dan pandangan berkunang-kunang. Menurutnya, tanda-tanda itu kerap dianggap biasa padahal bisa menjadi sinyal awal tubuh kekurangan hemoglobin, zat yang membawa oksigen ke seluruh tubuh dan janin. WHO dan ACOG sama-sama menempatkan anemia sebagai masalah penting pada kehamilan karena berdampak pada ibu dan bayi.
Ia menjelaskan, saat hemoglobin turun, suplai oksigen dan nutrisi ke janin ikut terganggu. Pada trimester awal, kondisi ini bahkan dapat meningkatkan risiko keguguran, sedangkan pada trimester pertengahan hingga akhir dapat memicu hambatan pertumbuhan janin. Pedoman Kementerian Kesehatan juga menyebut anemia kehamilan berisiko menyebabkan komplikasi, bayi berat lahir rendah, dan persalinan prematur.
“Jumlah cairan meningkat sehingga kadar hemoglobin tampak menurun. Namun anemia juga bisa muncul sejak awal kehamilan karena ibu mengalami mual dan muntah sehingga asupan makan berkurang,” jelasnya. Ia menambahkan, kondisi paling sering muncul pada trimester kedua hingga ketiga, terutama saat usia kehamilan memasuki 30 hingga 32 minggu.
Masalahnya tidak berhenti di masa kehamilan. Saat persalinan, ibu membutuhkan tenaga besar, dan anemia membuat energi cepat habis. “Kalau ibu mengalami anemia, tenaga akan cepat habis sehingga persalinan bisa berlangsung lama atau bahkan macet karena ibu tidak kuat mengejan,” katanya.
Risiko lain yang ikut mengintai adalah perdarahan setelah melahirkan dan lambatnya proses penyembuhan luka. Karena itu, ibu hamil diminta tidak menunggu sampai tubuh benar-benar drop sebelum memeriksakan diri. WHO merekomendasikan suplementasi zat besi dan asam folat selama kehamilan, tetapi tetap menekankan pentingnya pola makan bergizi sebagai bagian dari perawatan antenatal. ([Organisasi Kesehatan Dunia][3])
Ia juga mengingatkan agar tablet tambah darah tidak diminum bersamaan dengan teh atau kopi karena penyerapan zat besi bisa terganggu. Selain itu, pijat di bagian perut juga tidak disarankan. “Kalau di kaki atau punggung karena otot masih boleh dipijat ringan. Tapi kalau di perut harus hati-hati karena banyak organ di dalamnya,” tegasnya.
Di akhir imbauannya, ia meminta ibu hamil rutin memeriksakan kehamilan, menjaga pola makan, mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran dokter, dan tetap bergerak ringan. “Di tengah risiko yang terkesan sepele ini, anemia justru bisa terancam menjadi masalah serius bila dibiarkan tanpa pemeriksaan dan penanganan, “pungkasnya.
Penulis : Aini
Editor : Zainul Arifin


















Komentar