PASURUAN, RadarBangsa.co.id – Pohon lontar atau siwalan yang banyak tumbuh di Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, menjadi inspirasi lahirnya motif batik khas daerah. Keunikan daun pohon tersebut dituangkan Nurita Iza Rosdiany, pembatik asal Desa Cangkring Malang, dalam karya batik yang kini mulai dikenal hingga tingkat nasional.
Nurita mengatakan, motif daun lontar dipilih karena tanaman tersebut menjadi salah satu ciri khas wilayah Beji, terutama di Desa Gunungsari. Selain menghasilkan buah siwalan dan minuman legen, bentuk daunnya yang khas dinilai memiliki nilai estetika yang menarik untuk dituangkan dalam selembar kain batik.
“Daunnya lebar dan banyak ujung-ujungnya. Cantik sekali bentuknya, maka dari itu saya jadikan motif batik saya sendiri, Nurita Batik,” ungkapnya saat ditemui di rumah sekaligus tempat usahanya, Senin (22/6/2026).
Bagi Nurita, pohon lontar bukan sekadar tanaman yang tumbuh di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Kehadiran pohon tersebut juga menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat setempat.
Menurutnya, banyak warga yang menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil pohon siwalan, mulai dari penjualan nira atau legen hingga buahnya. Faktor itulah yang membuatnya ingin mengangkat pohon lontar sebagai identitas dalam karya batik yang diproduksinya.
“Banyak warga yang menggantungkan hidupnya dari jualan legen atau nira, kemudian dari buahnya dan semuanya, sangat bermanfaat,” ujarnya.
Motif batik daun lontar yang dikembangkannya pun mendapat perhatian lebih luas. Nurita mengungkapkan, karya tersebut telah diperkenalkan dalam pameran yang digelar kementerian di Jakarta beberapa waktu lalu.
Respons yang diterima cukup positif. Menurutnya, banyak pengunjung tertarik karena motif daun lontar dinilai memiliki karakter baru dan cocok diterapkan dalam produk batik.
“Ternyata saat pameran banyak yang tertarik karena motif baru dan sangat cocok untuk motif batik,” jelasnya.
Perjalanan Nurita menjadi pembatik berawal dari pelatihan yang diselenggarakan PT Sorini Towa Berlian Corporindo. Selama lima tahun mengikuti pelatihan tersebut, ia terus mengasah kemampuan hingga akhirnya mampu memproduksi batik secara mandiri.
“Dulu jadi peserta pelatihan oleh PT Sorini Towa Berlian Corporindo. Saya jadi peserta sampai lima tahun. Dari situ, saya jadi pintar membatik dan bisa sampai seperti ini,” terangnya.
Kini, bersama beberapa pekerjanya, Nurita memproduksi berbagai produk berbahan batik, mulai dari kain, kebaya, jas, hingga aksesori seperti tas, dompet, sandal, sepatu, bantal, dan payung batik yang telah mengantongi sertifikat halal.
Ia berharap karya batik khas Pasuruan tersebut semakin dikenal masyarakat luas. “Silakan datang ke Nurita Batik. Saya pastikan akan dapat batik yang bagus dan berkualitas tinggi,” pungkasnya.
Penulis : Nul
Editor : Zainul Arifin


















Komentar